Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Para ilmuwan Johns Hopkins Medicine menemukan bahwa paparan polusi udara dapat memicu pembentukan gumpalan protein alfa-sinuklein abnormal pada tikus. Gumpalan ini mirip dengan yang ditemukan pada pasien Demensia Lewy Body (DLB), salah satu bentuk gangguan neurodegeneratif.
DLB ditandai dengan penumpukan protein alfa-sinuklein yang membentuk Lewy Body, ciri khas penyakit Parkinson dan DLB. Penelitian yang terbit di Science (4 September) ini memperkuat bukti bahwa faktor lingkungan, khususnya polusi udara, dapat memicu perubahan protein berbahaya di otak.
Analisis catatan rumah sakit dari 56,5 juta pasien di AS (2000–2014) menunjukkan bahwa setiap peningkatan konsentrasi PM2.5 berkaitan dengan:
PM2.5 berasal dari pembakaran industri, kendaraan, kebakaran hutan, dan aktivitas rumah tangga.
Dalam percobaan, tikus yang terpapar PM2.5 selama 10 bulan menunjukkan:
Pada tikus dengan mutasi gen Parkinson dini (hA53T), paparan selama lima bulan menghasilkan gumpalan alfa-sinuklein yang luas dan gangguan kognitif. Analisis menunjukkan gumpalan ini berbeda secara struktural dari yang muncul pada penuaan alami.
Tikus yang terpapar sampel PM2.5 dari Tiongkok, Eropa, dan AS mengalami perubahan otak yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa polusi di berbagai belahan dunia mampu memicu proses neurodegeneratif serupa.
Implikasi
“Dengan mengidentifikasi galur baru Lewy Body akibat polusi, kami berharap dapat mengarahkan pengembangan obat yang menargetkan proses ini,” jelas Xiaobo Mao, peneliti utama.
Kesimpulannya, paparan polusi udara bukan hanya ancaman bagi kesehatan paru-paru, tetapi juga faktor risiko signifikan bagi penyakit otak degeneratif seperti DLB dan Parkinson. (Z-10)
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Polusi udara luar ruangan dapat meningkatkan risiko diabetes, bahkan pada tingkat polusi yang selama ini dianggap aman oleh EPA dan WHO.
Satelit Sentinel-4 milik ESA berhasil mengirimkan citra pertama yang memetakan polusi udara di Eropa dan Afrika Utara. Misi ini akan memantau kualitas udara setiap jam.
Penelitian terbaru menemukan awan di Samudra Atlantik dan Pasifik kini makin redup akibat udara yang lebih bersih.
Polusi udara dan asap rokok merupakan dua faktor lingkungan yang kerap diabaikan, padahal keduanya memiliki dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved