Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP tahun, lebih dari 600 juta orang di dunia jatuh sakit akibat mengonsumsi makanan yang tidak aman. Dari jumlah tersebut, jutaan kasus berasal dari dapur rumah—bukan restoran, bukan pasar, tapi dari tempat yang seharusnya paling aman untuk keluarga, rumah kita sendiri. Keamanan pangan bukan isu besar yang jauh dari keseharian. Ia ada di sekitar rumah kita.
Dampaknya tidak main-main. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa penyakit bawaan makanan menyebabkan kerugian ekonomi global hingga US$15 miliar per tahun.
Namun, ancaman sebenarnya jauh lebih dekat dengan keseharian—anak yang mendadak demam, perut mual setelah makan, atau lansia yang perlu dirawat karena makanan yang tidak aman.
Lalu, bagaimana kita bisa menerapkan prinsip yang sama di dapur rumah? Berikut 5 prinsip praktis keamanan pangan keluarga dari McDonald’s Indonesia yang bisa Anda terapkan setiap hari:
1. Bersih Adalah Awal dari Segalanya
Semua upaya menjaga keamanan pangan dimulai dari satu hal sederhana: kebersihan. Tangan yang kotor, tapas dapur yang lembab, atau buah yang tidak dicuci bersih seringkali menjadi ‘perangkap’ tersembunyi yang membawa bakteri masuk ke makanan.
Langkah pertama dan paling mendasar adalah mencuci tangan dengan benar. Gunakan sabun dan air mengalir minimal selama 20 detik, terutama sebelum dan selama mengolah bahan makanan, setelah menyentuh sampah, setelah dari toilet, atau memegang hewan peliharaan.
Sayur dan buah pun sebaiknya dicuci dengan air matang sebelum diolah atau dikonsumsi.
Jangan lupa, tapas dan lap dapur juga perlu diperhatikan. Gantilah secara berkala, jemur hingga benar-benar kering, dan buang jika sudah berbau atau berjamur.
Bahkan saat berbelanja, biasakan membersihkan tangan sebelum dan sesudah menyentuh bahan makanan, serta bersihkan gagang troli sebelum digunakan.
Demi menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini, McDonald’s Indonesia mengajak ribuan siswa SD di Jakarta, Palembang, Bali, Samarinda, dan Makassar untuk belajar pentingnya mencuci tangan yang benar. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Food Safety Week di sepanjang Juni untuk memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia, sebuah langkah kecil namun berdampak besar untuk melindungi generasi masa depan.
2. Pisahkan yang Mentah dan yang Siap Santap
Kontaminasi silang melalui perpindahan bakteri dari bahan mentah ke makanan siap santap sering terjadi tanpa disadari. Talenan yang sama digunakan untuk memotong ayam mentah dan sayuran segar, atau wadah daging mentah diletakkan pada rak kulkas yang sama dengan kue siap makan.
Solusinya? Simpan dan olah makanan mentah dengan matang secara terpisah, termasuk buah dan sayur. Gunakan talenan, pisau, dan wadah berbeda untuk daging mentah dan sayur-mayur.
Kemudian, cuci bersih semua peralatan sebelum digunakan untuk jenis bahan yang berbeda. Di dalam kulkas, penting untuk menyusun bahan secara higienis.
Simpan bahan mentah, seperti daging, ikan, unggas, atau seafood mentah di rak bawah dalam wadah khusus dan tertutup. Letakkan makanan siap saji di rak atas untuk menghindari tetesan cairan.
Simpan bahan makanan dalam porsi kecil atau per porsi masak agar lebih praktis saat dimasak.
3. Masak dengan Suhu yang Tepat
Masakan yang tampak matang belum tentu bebas dari bakteri. Meskipun banyak resep menyarankan bahan setengah matang, tetap disarankan memasak hingga matang sempurna, terutama untuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang lebih rentan terhadap infeksi.
Beberapa tips penting:
McDonald’s Indonesia menerapkan standar ini secara ketat di dapur restoran hingga pengantaran makanan. Semua produk dikemas dalam wadah khusus yang higienis dan tertutup, demi menjaga kualitas dan memastikan keamanan makanan hingga ke tangan pelanggan.
4. Simpan dengan Suhu yang Tepat
Bakteri penyebab penyakit berkembang cepat pada suhu antara 5°C hingga 60°C. Karena itu, menjaga suhu penyimpanan sangat penting agar makanan tidak cepat rusak.
Pastikan menyimpan makanan dengan suhu tepat: kulkas di bawah 5°C dan makanan panas tetap di atas 60°C jika disimpan sebelum disajikan.
Untuk bahan segar seperti sayur dan telur, cara penyimpanan yang tepat sangat penting untuk menjaga kesegarannya. Telur sebaiknya disimpan dalam karton aslinya dan ditempatkan di bagian tengah kulkas.
Hindari menyimpan telur di rak pintu kulkas, karena suhu di bagian ini cenderung tidak stabil akibat sering dibuka-tutup. Hal penting lainnya, jangan mencuci telur sebelum disimpan.
Kulit telur memiliki lapisan pelindung alami yang membantu mencegah masuknya bakteri. Cuci telur hanya saat akan digunakan agar perlindungan alaminya tetap terjaga.
5. Gunakan Air dan Bahan Baku Aman
Bahan baku yang tercemar bisa membawa mikroorganisme dan bahan kimia berbahaya. Karena itu, penting memilih bahan yang berkualitas dan mengolahnya dengan cermat. Langkah cermat yang bisa dilakukan:
Kandungan natrium (garam) dalam satu bungkus mi instan, khususnya varian kuah, sangatlah tinggi yakni mencapai lebih dari 1.000 miligram.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena ada laporan pada Sabtu (24/1) yang menduga makanan tersebut terbuat dari bahan Polyurethane Foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Namun demikian, lansia dengan penyakit kronis tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa untuk penyesuaian obat dan pola makan.
Secara medis, puasa yang dilakukan dengan pengawasan orang tua dapat membantu anak belajar pola makan teratur dan mengurangi kebiasaan jajan berlebihan.
Lingkungan harus memiliki kepekaan untuk membedakan kapan waktu untuk mendekat dan kapan harus memberi ruang bagi orang yang berduka.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan peran keluarga sebagai ruang yang aman bagi perempuan, sebagai bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Keseimbangan antara karier ibu bekerja dan pengasuhan sangat ditentukan oleh seberapa kuat dukungan keluarga.
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus lebih dari sekadar penyediaan kebutuhan material, tetapi juga trauma healing
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved