Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR mikrobiologi klinis, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D, Sp. MK(K) menekankan sejumlah poin penting yang perlu diwaspadai terhadap Human papillomavirus (HPV). Virus ini mulai dikenali sejak tahun 80-an dan diketahui berhubungan dengan kanker serviks.
"Karena prevalensi kanker serviks ini cukup tinggi jadi vaksin HPV mulai dikembangkan dan masuk ke Indonesia,” terang Tri dalam siaran pers dari Humas UGM, Sabtu (21/6).
Menurutnya, pada banyak kasus, angka pemicu kanker serviks dari virus HPV bisa mencapai 70%. Angkanya bisa bertambah hingga mendekati 100% bergantung pada sistem imunitas tubuh dan klasifikasi kelompok beresiko.
Ia menjelaskan, HPV merupakan virus yang penularannya melalui kontak langsung dengan bagian alat reproduksi. Berbeda dengan virus HIV (human immunodeficiency virus), virus HPV tidak menular melalui cairan tubuh melainkan bersinggungan langsung antar kulit ke kulit.
Aktivitas seksual tanpa adanya pertukaran cairan tubuh pun dapat menularkan virus HPV secara langsung. Ia mengatakan, melompok paling berisiko adalah individu yang telah aktif secara seksual, dalam hal ini diasumsikan berada di rentang usia 20 tahun ke atas.
“HPV itu ada banyak jenisnya, inkubasinya, dan gejalanya. Tidak semua virus HPV bisa memicu kanker serviks. Sebagian hanya memiliki gejala seperti kutil dan menghilang dengan sendirinya,” ungkap Tri.
Prof Tri Wibawa menjelaskan, gejala HPV dan masa inkubasinya akan sangat bergantung pada sistem imun tubuh. Bahkan, dalam banyak kasus, pasien tertular biasanya tidak merasakan gejala apapun. Namun perkembangan virus perlu dipantau agar tidak berkembang menjadi kanker serviks.
Oleh sebab itu, vaksinasi HPV telah diupayakan diberikan sedini mungkin.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong pemberian vaksinasi HPV, terutama pada remaja perempuan. Pemberian vaksinasi memang seharusnya dilakukan sebelum memasuki usia beresiko atau aktif secara seksual.
"Semakin tua usianya maka efektivitas vaksin akan semakin menurun," ungkap dia.
Selain itu, baru-baru ini ada inisiasi vaksin untuk memutus rantai virus HPV dengan kanker serviks. Vaksin ini diperuntukan bagi pasien yang sudah tertular virus HPV agar dapat menurunkan rrsiko munculnya kanker serviks. Sayangnya, vaksin jenis ini memang belum tersedia.
Tri menyebut, dikarenakan virus HPV tidak memiliki gejala langsung, setiap orang perlu mawas diri dengan melakukan vaksinasi dan check-up berkala. Bagi individu yang sudah aktif secara seksual, maka dihimbau untuk waspada ketika berhubungan intim, seperti menggunakan pengaman dan tidak berganti-ganti pasangan.
Satu faktor penting yang perlu diperhatikan adalah individu perokok aktif. “Meskipun jarang, virus HPV bisa menimbulkan kanker selain di genital. Kalau orang merokok bisa memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker di saluran pernafasan,” terang dia.
Namun, Tri juga menjelaskan bahwa tidak perlu takut dan panik akan adanya virus ini. Mulai dari upaya preventif, penanganan, vaksin, hingga terapi sudah tersedia sehingga tidak serta merta langsung memicu kanker.
Jika terdeteksi tertular, pasien harus segera lakukan pemeriksaan untuk memantau perkembangan virus secara berkala. Lebih lanjut, Tri juga mengingatkan agar tetap menjaga sistem imunitas tubuh dengan kebiasaan pola hidup sehat dan aktivitas fisik yang cukup. (H-2)
Radioterapi merupakan satu dari tiga pilar utama terapi kanker, berdampingan dengan prosedur pembedahan dan terapi sistemik.
PT Bio Farma (Persero) berkolaborasi dengan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menyelenggarakan kegiatan Vaksinasi HPV Massal untuk mencegah kanker serviks
Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan Indonesia.
“Hampir 90% kanker serviks dapat dicegah. Karena itu, vaksinasi 500 perempuan hari ini merupakan langkah strategis dalam melindungi kesehatan perempuan Indonesia,”
Tenaga kesehatan dibekali keterampilan VIA–DoVIA dan penggunaan AI HerLens dengan materi mencakup materi klinis, praktik lapangan, serta quality assurance.
TINGGINYA angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat upaya deteksi dini untuk tes HPV DNA.
Masyarakat perlu dijelaskan bahwa virus influenza yang saat ini banyak ditemukan di berbagai negara tidak selalu lebih berat, tetapi memang lebih mudah menular.
IDAI mengingatkan cacar air sangat menular. Satu anak bisa menularkan varicella ke 8–12 anak lain, terutama di sekolah dan lingkungan dengan kontak erat.
Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sekaligus Ketua PDITT dr. Iqbal Mochtar, meminta masyarakat tidak panik dengan penyakit ini, apalagi dengan istilah super flu.
Superflu merupakan influenza tipe A virus H3N2 subclade K yang sudah ada dari dulu.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Hingga saat ini, telah dilaporkan 189.312 kasus flu positif di New York pada musim ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved