Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA peneliti telah mengonfirmasi bahwa sekelompok mikroRNA (miRNA) dapat menjadi biomarker yang andal dalam mendeteksi tumor sel germinal testis ganas, jenis kanker padat yang paling umum terjadi pada pria muda.
Tim peneliti dari Cornell menemukan bahwa biomarker ini tidak hanya berguna untuk mendeteksi kanker lebih dini, tetapi juga berpotensi membantu diagnosis bahkan sebelum kelahiran.
Penelitian ini, yang diterbitkan dalam Scientific Reports, menggunakan model tikus untuk menunjukkan bahwa miRNA tertentu yang berperan dalam mengatur ekspresi gen sangat spesifik untuk kanker sel germinal testis. Menariknya, miRNA yang ditemukan pada tikus ini juga memiliki padanan di tubuh manusia, memperkuat potensinya sebagai alat diagnostik yang akurat.
"Dalam dunia diagnosis kanker, ada dorongan besar untuk beralih ke metode yang lebih tidak invasif, seperti biopsi cair," ujar Robert Weiss, profesor genetika molekuler di Departemen Ilmu Biomedis, Fakultas Kedokteran Hewan, Cornell.
Biopsi cair memungkinkan deteksi penyakit, pemantauan kekambuhan setelah operasi, atau bahkan skrining dini hanya melalui sampel darah. Dengan teknologi ini, mendeteksi kanker bisa menjadi lebih mudah dan tidak memerlukan prosedur bedah yang rumit.
Di Amerika Serikat, kanker sel germinal testis adalah jenis kanker yang paling sering ditemukan pada pria berusia 15 hingga 39 tahun, dengan angka kejadian meningkat hampir 40% dalam 50 tahun terakhir. Namun, jenis kanker ini sangat responsif terhadap kemoterapi konvensional, sehingga tingkat kelangsungan hidup lima tahun mencapai 95%.
Bukti menunjukkan bahwa tumor ini muncul sejak dalam kandungan selama perkembangan embrio dan dapat berkembang menjadi kanker invasif, terutama setelah pubertas.
Kanker ini mengandung sel punca kanker pluripoten, yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi berbagai jenis sel kanker lainnya.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan model tikus yang dikembangkan sebelumnya oleh Weiss dan timnya untuk mempelajari perkembangan tumor sel germinal testis.
Dalam studi ini, para peneliti menggunakan model tikus yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Weiss dan timnya untuk menargetkan serta mengontrol perkembangan tumor sel germinal testis.
Model ini juga memungkinkan mereka untuk menumbuhkan sel tumor di laboratorium dan memaksa sel tersebut berdiferensiasi, sehingga kehilangan sifat pluripoten mereka.
Dengan cara ini, mereka dapat membandingkan sel punca kanker yang masih belum berdiferensiasi dengan sel yang telah menjadi lebih spesifik.
Penelitian ini terinspirasi dari studi klinis pada manusia yang menunjukkan bahwa miRNA dalam serum darah dapat berfungsi sebagai biomarker kanker.
Dengan menggunakan model tikus, para peneliti menemukan bahwa sekelompok miRNA disebut miRNA 290-295 pada tikus hanya diekspresikan dan disekresikan oleh sel kanker testis yang belum berdiferensiasi. miRNA ini memiliki padanan dalam tubuh manusia, yaitu kelompok miRNA 371-373.
Penelitian ini mengungkap bahwa miRNA tersebut hanya muncul pada kanker testis ganas dan tidak ditemukan pada tumor lain, seperti kanker payudara atau tumor testis jinak. Hal ini menunjukkan bahwa miRNA ini bisa menjadi biomarker yang sangat akurat.
Para peneliti juga mengidentifikasi gen yang menjadi target miRNA dan bagaimana mereka menekan ekspresi gen tersebut.
"Jika kita melihat fungsi gen-gen ini, mereka mengatur proses yang berkaitan dengan kanker, seperti siklus sel dan apoptosis (kematian sel)," jelas Weiss.
Menurut Weiss, penelitian ini menunjukkan pentingnya model tikus sebagai representasi autentik penyakit manusia, yang memungkinkan eksperimen yang sulit dilakukan langsung pada manusia.
Penemuan ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut. Para ilmuwan berencana menyelidiki lebih dalam fungsi miRNA ini untuk memahami gen yang mereka pengaruhi dan peran gen tersebut dalam perkembangan kanker.
"Jika dugaan kami benar bahwa miRNA ini memiliki peran fungsional penting," tutur Weiss.
"Maka ini bisa menjadi langkah awal dalam mengembangkan terapi yang menargetkan miRNA untuk menghentikan pertumbuhan atau penyebaran tumor,” pungkasnya.
Sumber: Scitechdaily
Peneliti Universitas Jenewa mengungkap bagaimana tumor memprogram ulang neutrofil, sel pertahanan utama tubuh, menjadi pemicu pertumbuhan kanker melalui molekul CCL3.
Saat ini, sekitar 30% kasus kanker usus besar di tanah air diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun, sebuah angka yang jauh melampaui statistik di negara-negara maju.
Berbeda dengan herediter, kanker familia terjadi bukan karena mutasi gen, melainkan karena anggota keluarga hidup dalam satu ekosistem yang sama.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
KECANTIKAN sejati bagi seorang wanita sering kali didefinisikan melalui pantulan cermin. Namun, esensi sebenarnya terletak pada pancaran empati dan kekuatan dari dalam hati.
Angka kematian akibat kanker di Indonesia tercatat masih 234.000 kasus tiap tahun, dengan kasus tertinggi kanker payudara yang menurut Globocan 2020 tercatat 66.000 kasus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved