Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN pola cuaca semakin nyata di Indonesia. Peneliti BRIN Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa musim hujan saat ini tak lagi berjalan secara reguler. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan siklus matahari, seharusnya bulan Maret merupakan periode di mana matahari mulai bergerak ke utara dan daerah konvergensi antar-tropis (ITCZ) berada di sekitar ekuator. Namun, kenyataannya berbeda.
"Kalau melihat dari pergeseran matahari atau gerak semu matahari, mestinya sekarang pusat konvergensinya ada di sekitar ekuator. Dalam hal ini, di wilayah-wilayah seperti Kalimantan dan Sumatera. Tetapi ternyata sistem tekanan rendah tidak terbentuk di sana," ungkap Erma, Kamis (6/3).
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan perubahan pola ini, salah satunya adalah pertemuan gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby di Samudra Hindia. "Meeting point-nya itu ada di dekat Lampung dan Jawa bagian barat, sehingga menyebabkan konvergensi dan pembentukan sistem tekanan rendah di sana," lanjutnya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa durasi musim hujan di Indonesia cenderung lebih panjang, namun dengan pola yang tidak biasa. "Musim hujan sekarang lebih panjang, tetapi diiringi dengan dry spell atau hari-hari kering yang lebih sering. Jadi, meskipun masih musim hujan, ada periode panjang tanpa hujan. Sekali hujan, intensitasnya bisa sangat ekstrem," jelas Erma.
Hasil penelitian BRIN memetakan wilayah-wilayah di Indonesia yang menjadi hotspot daerah yang mengalami kekeringan dan curah hujan ekstrem secara bersamaan.
"Untuk Pulau Jawa, wilayah yang paling terdampak adalah Jawa bagian tengah dan timur. Bahkan, Bandung dan Garut juga termasuk dalam kategori ini," katanya.
Dalam proyeksi iklim hingga tahun 2064, penelitian BRIN menemukan bahwa Jawa Timur akan menjadi wilayah paling sensitif terhadap perubahan iklim. "Jawa Timur menghadapi dua ancaman sekaligus, yaitu hujan ekstrem dan angin ekstrem," ujarnya. (H-3)
BENCANA kekeringan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
GUBERNUR Sumatra Barat Mahyeldi menyebut kondisi kekeringan air di Padang saat ini tergolong cukup ekstrem, terutama di Kecamatan Pauh dan Kuranji.
USAI banjir bandang menerjang Padang, Sumatra Barat, pada akhir November 2025 lalu, dua irigasi rusak total.
Studi terbaru mengungkap rangkaian kekeringan panjang berperan besar dalam kemunduran Peradaban Lembah Indus, memicu penyusutan kota dan pergeseran permukiman secara bertahap.
Kebutuhan untuk penanganan kekeringan dari tahun ke tahun terus bertambah sehingga perlu dicari upaya lain seperti mencari sumber air baru.
Gelombang panas, terutama pada siang hari, mempercepat penguapan air dari daun dan tanah, menurunkan ambang kekeringan.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih akan berlangsung hingga akhir April atau awal Mei 2026.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Mandi air hangat bukan sekadar untuk kenyamanan, melainkan langkah krusial untuk membantu menghilangkan kotoran dari lumpur serta menjaga suhu tubuh agar tidak kedinginan.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Pada 2025, tercatat 161.752 kasus Dengue dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved