Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN pola cuaca semakin nyata di Indonesia. Peneliti BRIN Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa musim hujan saat ini tak lagi berjalan secara reguler. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan siklus matahari, seharusnya bulan Maret merupakan periode di mana matahari mulai bergerak ke utara dan daerah konvergensi antar-tropis (ITCZ) berada di sekitar ekuator. Namun, kenyataannya berbeda.
"Kalau melihat dari pergeseran matahari atau gerak semu matahari, mestinya sekarang pusat konvergensinya ada di sekitar ekuator. Dalam hal ini, di wilayah-wilayah seperti Kalimantan dan Sumatera. Tetapi ternyata sistem tekanan rendah tidak terbentuk di sana," ungkap Erma, Kamis (6/3).
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan perubahan pola ini, salah satunya adalah pertemuan gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby di Samudra Hindia. "Meeting point-nya itu ada di dekat Lampung dan Jawa bagian barat, sehingga menyebabkan konvergensi dan pembentukan sistem tekanan rendah di sana," lanjutnya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa durasi musim hujan di Indonesia cenderung lebih panjang, namun dengan pola yang tidak biasa. "Musim hujan sekarang lebih panjang, tetapi diiringi dengan dry spell atau hari-hari kering yang lebih sering. Jadi, meskipun masih musim hujan, ada periode panjang tanpa hujan. Sekali hujan, intensitasnya bisa sangat ekstrem," jelas Erma.
Hasil penelitian BRIN memetakan wilayah-wilayah di Indonesia yang menjadi hotspot daerah yang mengalami kekeringan dan curah hujan ekstrem secara bersamaan.
"Untuk Pulau Jawa, wilayah yang paling terdampak adalah Jawa bagian tengah dan timur. Bahkan, Bandung dan Garut juga termasuk dalam kategori ini," katanya.
Dalam proyeksi iklim hingga tahun 2064, penelitian BRIN menemukan bahwa Jawa Timur akan menjadi wilayah paling sensitif terhadap perubahan iklim. "Jawa Timur menghadapi dua ancaman sekaligus, yaitu hujan ekstrem dan angin ekstrem," ujarnya. (H-3)
BADAN Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mengingatkan potensi terjadinya El Nino kuat atau Godzilla yang berdampak pada kekeringan saat musim kemarau 2026.
Potensi ketersediaan air di Indonesia mencapai 3,9 miliar meter kubik per tahun. Dengan 80% air nasional digunakan sektor pertanian/irigasi.
Kondisi musim kemarau yang cenderung lebih kering itu juga dipengaruhi indikasi fenomena El Nino lemah yang berpotensi muncul pada pertengahan hingga akhir 2026.
Menurut dia, salah satu langkah yang dilakukan Pemprov Jabar adalah mendorong pengembangan komoditas pertanian yang lebih hemat air.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan datang lebih awal pada April dan terasa lebih kering dibanding tahun lalu. Cek daftar wilayah terdampak di sini.
Ilmuwan temukan jutaan bakteri dan jamur "pelindung" di dalam pohon ek yang tetap stabil meski dilanda kekeringan ekstrem.
Prakiraan cuaca Jakarta dan sekitarnya Senin 23 Februari 2026 berpotensi berawan hingga hujan siang hari. Cek suhu, kelembapan, dan tips aktivitas.
Musim hujan sering kali dianggap sebagai penghalang bagi sebagian orang untuk berlibur. Namun, data terbaru dari platform perjalanan digital Agoda pada Februari 2026
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih akan berlangsung hingga akhir April atau awal Mei 2026.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Mandi air hangat bukan sekadar untuk kenyamanan, melainkan langkah krusial untuk membantu menghilangkan kotoran dari lumpur serta menjaga suhu tubuh agar tidak kedinginan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved