Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
GEMPA bumi adalah getaran atau gelombang yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi yang terkumpul di dalam kerak bumi.
Pelepasan energi ini biasanya terjadi akibat pergerakan atau perubahan pada lapisan bumi, seperti pergeseran lempeng tektonik, letusan vulkanik, atau aktivitas lainnya yang menyebabkan perubahan dalam struktur geologi bumi.
Gempa bumi umumnya diukur berdasarkan magnitudo (kekuatan gempa) dan intensitas (tingkat kerusakan atau efek yang ditimbulkan).
Gempa bumi dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat memengaruhi wilayah yang sangat luas, menyebabkan kerusakan besar pada bangunan, infrastruktur, dan bahkan mengancam keselamatan hidup manusia.
Gempa bumi terjadi akibat adanya pergerakan atau perubahan di dalam lapisan bumi yang mengakibatkan pelepasan energi yang sangat besar.
Gempa bumi umumnya disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik di kerak bumi. Ketika lempeng-lempeng ini bertumbukan, bergeser, atau saling menjauh, energi yang terkumpul akan dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.
Patahan adalah celah atau retakan pada kerak bumi di mana pergerakan terjadi. Ketika patahan ini mengalami pergeseran atau pergerakan yang signifikan, akan terjadi pelepasan energi yang menyebabkan gempa bumi.
Letusan gunung berapi atau aktivitas vulkanik lainnya dapat menyebabkan gempa bumi. Pergerakan magma yang naik ke permukaan bumi atau pergeseran lapisan bumi akibat letusan dapat memicu getaran yang kita kenal sebagai gempa vulkanik.
Lempeng tektonik yang bergerak secara horizontal atau vertikal dapat menimbulkan gesekan atau tumbukan yang menyebabkan terjadinya gempa bumi, seperti yang terjadi di wilayah batas lempeng.
Tumbukan antara dua lempeng tektonik yang saling mendekat atau bertabrakan dapat menciptakan gempa bumi besar. Contoh terkenal adalah pertemuan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, yang menyebabkan gempa besar di wilayah Himalaya dan Indonesia.
Pergerakan salah satu lempeng yang masuk ke bawah lempeng lainnya disebut subduksi. Ketika lempeng samudra menyusup ke bawah lempeng benua, energi yang terkumpul bisa menyebabkan gempa bumi.
Ketika magma naik dari lapisan bawah bumi ke permukaan untuk membentuk gunung api, proses ini seringkali disertai dengan gempa bumi kecil. Aktivitas vulkanik bisa menghasilkan tekanan yang besar yang menyebabkan gempa.
Patahan horisontal atau pergerakan lateral pada kerak bumi juga dapat memicu gempa. Misalnya, patahan San Andreas di California, yang terkenal dengan pergerakan horisontalnya.
Pertambangan dan eksploitasi sumber daya alam seperti minyak, gas, atau batubara dapat menyebabkan perubahan tekanan bawah tanah yang mengarah pada terjadinya gempa bumi. Fenomena ini sering disebut induced seismicity.
Pembendungan sungai atau perubahan besar lainnya dalam volume air seperti yang terjadi di waduk besar (misalnya, bendungan) bisa memicu gempa. Tekanan air yang tinggi dapat menyebabkan pergerakan pada lapisan kerak bumi.
Kegiatan manusia seperti pengeboran sumur minyak atau gas bumi, penggunaan pencairan air tanah, atau rekayasa geologi dapat menambah tekanan pada lapisan bawah tanah dan memicu gempa. Fracking atau rekahan hidrolik juga diketahui bisa memicu gempa kecil.
Perubahan tekanan di bawah permukaan bumi, akibat adanya pergerakan lapisan atau perubahan temperatur, juga bisa menyebabkan gempa. Meskipun ini lebih jarang, peningkatan tekanan yang terjadi akibat proses geologis jangka panjang bisa memicu gempa bumi.
Gempa bumi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, terutama yang berhubungan dengan pergerakan tektonik, aktivitas vulkanik, dan intervensi manusia.
Sebagian besar gempa bumi terjadi di daerah yang memiliki aktivitas tektonik tinggi, seperti di sepanjang ring of fire (Cincin Api Pasifik), namun manusia juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya gempa melalui kegiatan-kegiatan eksploitasi sumber daya alam. (Z-12)
Peralatan pemantau aktivitas Gunung Merapi mencatat lonjakan kegempaan selama periode Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1), dengan total 1.277 kejadian gempa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah Ambon dan sekitarnya di Provinsi Maluku pada Sabtu.
BMKG menjelaskan bahwa gempa bumi tektonik M6,4 (update) yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Taluad, Sulut merupakan akibat dari deformasi batuan Lempeng Maluku
GEMPA bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,1 terjadi di Melonguane, Sulawesi Utara (Sulut).
Gempa dangkal magnitudo 4,5 mengguncang Kuta Selatan, Bali. BBMKG menyebut gempa dipicu sesar aktif dasar laut dan tidak berpotensi tsunami.
Sepanjang periode waktu tersebut tidak ada kejadian gempa bumi yang dirasakan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved