Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BUDAYAWAN Hilmar Farid menggambarkan Pramoedya Ananta Toer sebagai salah satu penulis Indonesia yang karya-karyanya paling banyak diterjemahkan ke bahasa asing, sekitar 25 bahasa.
Karya-karya Pram, menurutnya, berhasil menarasikan Indonesia dengan begitu memukau, mencerminkan keteguhan dan kecerdasan sang penulis.
"Jadi sejak awal ya, ketika mulai menulis di tahun 50-an, sampai kemudian di tahun-tahun 80-an tuh karyanya, pengaruhnya luar biasa gitu.
Dia sejak usia belasan tahun sudah memilih jalan sebagai penulis, dan kemudian mendedikasikan hidupnya sampai akhir hayat itu sebagai penulis. Dia bahkan menyebut bahwa menulis itu adalah tugas nasionalnya dia, gitu ya," kata Hilmar saat konferensi pers gelaran seabad Pramoedya Ananta Toer di Jakarta, Selasa (21/1).
Dedikasi Pram tidak lepas dari berbagai konsekuensi berat, ia harus merasakan pahitnya penjara di tiga rezim berbeda, yakni masa kolonial Belanda, pemerintahan Soekarno, dan Orde Baru.
Namun, Hilmar menekankan pengalaman-pengalaman itu menunjukkan keteguhan prinsip Pram dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui tulisan.
Hilmar menggarisbawahi konsistensi Pram adalah teladan berharga di tengah berbagai pilihan hidup yang sering membingungkan.
Meskipun perjalanan hidup Pram dipenuhi banyak hal tidak menyenangkan, karya-karyanya tetap hadir dengan gemilang.
Salah satu karya yang meninggalkan kesan mendalam bagi Hilmar adalah novel Bukan Pasar Malam.
Novel ini merefleksikan hubungan Pramoedya dengan ayahnya yang keras dan penuh tantangan.
"Kalau buat saya, ada satu novel yang sangat penting itu Bukan Pasar Malam. Ini cerita mengenai ayahnya ya, ketika orang yang menempa dia sehingga menjadi Pram yang kita kenal sekarang, dengan cara yang sangat tidak lazim," ungkap Hilmar.
Melalui novel tersebut, Hilmar melihat sisi personal Pram yang luar biasa dengan menunjukkan refleksi mendalam Pram sebagai seorang manusia.
Di usia 25 tahun, Pramoedya sudah dikenal luas sebagai penulis mapan, bukti dari keteguhannya menempuh jalan yang ia pilih.
Bagi Hilmar Farid, warisan Pramoedya adalah cermin perjalanan seorang manusia yang konsisten dan teguh memegang prinsip, sekaligus pengingat akan kekuatan kata-kata dalam menarasikan sebuah bangsa.
Selain itu, Seniman dan Aktris Happy Salma menyebut Pramoedya Ananta Toer sebagai sosok yang luar biasa, seorang penulis yang mampu menggerakkan hati banyak orang melalui karya-karyanya.
Menurutnya, generasi saat ini sangat beruntung karena dapat membaca karya Pram secara leluasa, memahami pandangan-pandangan yang memantik keberanian dan solidaritas atas nama kemanusiaan.
"Pram adalah sosok yang mungkin hanya muncul sekali dalam seabad," ujar Happy.
Happy Salma menegaskan, di kancah dunia, Pramoedya adalah sosok yang tidak hanya milik Indonesia tetapi juga milik dunia.
Dengan karya-karya yang diterjemahkan ke beberapa bahasa, Pram menjadi duta yang mengenalkan Asia melalui sastra.
"Dia adalah seorang tokoh luar biasa, seorang inspirasi yang akan terus hidup melalui karyanya," pungkas Happy. (Ant/Z-1)
Dalam pandangan Gol A Gong sastra berfungsi sebagai ruang jeda dari banjir informasi digital yang dangkal.
SAYEMBARA Novel DKJ 2025 telah mengumumkan pemenangnya semalam, Rabu, (5/11) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menegaskan komitmen negara terhadap pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa serta sastra.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), menggelar rangkaian kegiatan strategis dalam rangka penguatan literasi dan sastra, serta revitalisasi bahasa daerah di Jawa Tengah.
Aprinus mencontohkan, beberapa karya yang kandungan SARA, yakni pada novel Salah Asuhan yang pada draf awalnya disebut menyinggung ras Barat (Belanda).
Sastra sebagai suatu ekspresi seni berpeluang mempersoalkan berbagai peristiwa di dunia nyata, salah satunya adalah persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Banyak karya akademik yang ia tangani berubah menjadi buku yang lebih komunikatif dan dapat dibaca masyarakat luas.
IRCOMM Group menghadirkan program khusus bagi peneliti dan akademisi. Sebanyak 12 penulis terpilih yang berhasil submit dan lolos tahap editorial review akan mendapatkan sejumlah manfaat.
Menurut Oh Su Hyang, berbicara itu bukan hanya tentang menyusun kata tapi juga bagaimana berbicara itu bisa memikat orang atau bahkan bermakna bagi orang.
PENULIS asal Korea Selatan, Oh Su Hyang, yang dikenal lewat buku laris Bicara Itu Ada Seninya, ternyata punya kebiasaan yang luar biasa yaitu membaca hingga 70 buku setiap bulan.
Dikenal lewat bukunya yang populer Bicara Itu Ada Seninya, Oh Su Hyang ternyata punya masa kecil yang jauh dari kata mudah.
Prof Agus telah menulis dan menerbitkan 11 buku yang membahas berbagai topik seputar politik, keamanan, dan hubungan internasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved