Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda melihat semut berjalan secara berkelompok di dekat makanan manis? Kehadirannya sering kali mudah ditemukan pada berbagai tempat, baik rumah maupun alam terbuka. Apakah Anda pernah berpikir berapa jumlah semut yang ada di muka Bumi?
Semut adalah makhluk kecil yang berperan besar dalam ekosistem. Mereka membantu menyebarkan biji, menggemburkan tanah, hingga mempercepat proses dekomposisi.
“Semut adalah penggerak utama ekosistem,” kata Nate Sanders, seorang ekolog dari University of Michigan, seperti dikutip dari New York Times.
Sanders menjelaskan memahami semut, berarti memahami bagaimana ekosistem berfungsi.
Patrick Schultheiss, ekolog dari University of Hong Kong, bersama timnya baru-baru ini mengungkapkan hasil penelitian mengenai jumlah semut di muka Bumi. Patrick mencatat jumlah semut di muka Bumi ini mencapai 20 kuadriliun atau 20 dengan 15 nol di belakangnya. Jumlah ini berarti kurang lebih menandakan ada sekitar 2,5 juta semut untuk setiap manusia di dunia.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini menggunakan pendekatan yang logis.
Mulanya para peneliti mengumpulkan data lebih dari 1.300 lokasi di seluruh dunia. Lalu, semut dikumpulkan berdasarkan sampel serasah daun atau jebakan lubang selama kegiatan foraging mereka.
Data tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan populasi semut di berbagai ekosistem, termasuk hutan tropis dan daerah kering.
Sebelumnya, jumlah semut secara global hanya diketahui berdasarkan perkiraan kasar populasi serangga atau data dari wilayah tertentu. Namun, penelitian kali ini mengambil pendekatan "bottom-up" dengan mengompilasi semua data yang ada.
Dr. Sanders, menyebutkan metode tersebut sebagai langkah yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis.
Selain jumlahnya yang luar biasa, penelitian ini juga mengungkapkan biomassa semut mencapai sekitar 12 megaton karbon. Ini setara dengan 20% dari biomassa manusia di Bumi, atau setara dengan berat dua Piramida Giza.
Akan tetapi, Para peneliti percaya jumlah semut sebenarnya bisa lebih besar. Hal ini karena penelitian yang dilakukan hanya mencakup semut yang hidup di permukaan tanah. Semut yang tinggal di pepohonan dan bawah tanah belum sepenuhnya dihitung.
Sabine Nooten, seorang ekolog dari University of Hong Kong yang juga penulis studi ini, mengatakan estimasi tersebut hanyalah data awal saja.
“Saya tidak akan terkejut jika jumlah sebenarnya 10 kali lebih besar,” ujarnya.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa sekitar 70% populasi semut hidup di kawasan tropis. Kawasan tersebut meliputi hutan hujan dan padang rumput tropis. Tempat-tempat ini memang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati.
Dengan mengetahui jumlah semut saat ini, para ilmuwan dapat melacak penurunan populasi di masa depan.
Selain itu, hal ini menjadi seruan bagi peneliti keanekaragaman hayati. Mereka diharapkan dapat terus mengedukasi masyarakat agar populasi fauna tetap lestari.
Adapun wilayah yang harus lebih diperhatikan yaitu Afrika Tengah dan Asia Tenggara. Wilayah tersebut juga perlu mendapat perhatian lebih terutama dalam hal penelitian.
“Ini adalah baseline yang sangat bagus dan diharapkan akan terus diperbarui di masa depan,” kata Sanders.
“Penelitian ini menjadi panggilan aksi bagi ilmuwan untuk memulai pemantauan perubahan ekosistem,” tambahnya.
Dengan adanya penelitian terhadap fauna di seluruh dunia, diharapkan keanekaragaman hayati dapat terlindungi. (National Institute of Health/New York Times/Mongabay/Z-3)
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved