Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
HUMAN Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan merusak sel CD4, yang memiliki peran penting dalam melawan infeksi. Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), tahap lanjut dari infeksi ini, yang membuat tubuh lebih rentan terhadap berbagai penyakit.
HIV adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja, stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap kuat di masyarakat. Banyak orang yang menganggap HIV sebagai tanda moralitas buruk. Padahal penyakit ini adalah infeksi yang bisa dialami siapa pun, tanpa memandang status sosial, jenis kelamin, atau orientasi seksual.
HIV tidak dapat menular melalui kontak biasa, seperti berjabat tangan, berpelukan, atau berbagi makanan. Penularan hanya terjadi melalui cairan tubuh tertentu seperti darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI) dari ibu yang terinfeksi kepada bayi.
Penularan umumnya terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bersama, atau transfusi darah yang tidak disaring dengan benar.
Stigma terhadap ODHA sering kali muncul karena ketidaktahuan dan ketakutan masyarakat terhadap HIV. Banyak yang beranggapan HIV hanya menyerang orang dengan perilaku tidak bermoral, padahal sebenarnya semua orang, tanpa terkecuali, berisiko terinfeksi HIV. Pandangan semacam ini justru menciptakan diskriminasi, memperburuk kondisi ODHA, dan membuat mereka merasa terisolasi serta terstigma.
Penting bagi masyarakat untuk memahami HIV adalah penyakit medis, bukan aib. Sebagaimana ditegaskan ahli kesehatan, "Hindari penyakitnya, bukan orangnya." Menyalahkan atau mengisolasi ODHA hanya akan memperburuk stigma dan menghambat mereka untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan dalam proses pengobatan.
Meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV, pengobatan dengan obat Antiretroviral (ARV) dapat mengontrol jumlah virus dalam tubuh ODHA. ARV meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia ODHA, serta mengurangi risiko penularan ke orang lain melalui mekanisme "treatment as prevention" (TasP).
Keluarga dan masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan dukungan kepada ODHA. Mereka perlu merasa diterima dan tidak dihakimi agar bisa menjalani pengobatan dengan baik. Dukungan emosional, seperti mendengarkan keluh kesah mereka dan mendampingi dalam proses pengobatan, sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan ODHA terhadap terapi ARV.
ODHA juga perlu menjaga gaya hidup sehat, dengan pola makan yang bergizi, rutin berolahraga, serta menghindari penggunaan narkoba. Selain itu, menjaga kebersihan diri dan memperhatikan kesehatan mental turut mendukung keberhasilan pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
HIV adalah penyakit yang dapat dikelola dengan pengobatan yang tepat, dan ODHA berhak mendapatkan akses kesehatan yang setara tanpa diskriminasi. Oleh karena itu, penting mengubah pandangan masyarakat terhadap HIV dan memberikan dukungan yang penuh kepada ODHA agar mereka bisa hidup lebih baik tanpa dibebani oleh stigma yang tidak berdasar. (Kemenkes/Z-3)
Dinas Kesehatan Jawa Timur tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan kuratif dan pelaporan kasus, melainkan perlu memperkuat langkah preventif.
"Hasil pendataan kami, temuan HIV/AIDS selama 10 bulan mulai Januari-Oktober di Kota Sukabumi ada 124 kasus. Terdapat lima orang meninggal dunia,"
Para pengidap HIV/AIDS harus mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah.
KETUA DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup, Ribka Tjiptaning, menyoroti masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Universitas Esa Unggul melalui akademisi dan pakar Mikrobiologi, memberikan pandangan dan informasi ilmiah terkini terkait perkembangan penanganan HIV/AIDS di dunia dan Indonesia.
Stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV bisa menghambat pengobatan.
KETUA DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup, Ribka Tjiptaning, menyoroti masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Peringati Hari AIDS Sedunia 2025 dengan pesan solidaritas, dukungan untuk ODHA, serta ajakan edukasi dan pencegahan. Kumpulan ucapan inspiratif tanpa stigma.
Orang yang hidup dengan HIV (ODHA) memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi menular seksual (IMS). Selain berdampak langsung pada kesehatan.
Sesi utama kegiatan dikemas dalam bentuk talkshow edukatif yang menghadirkan narasumber lintas bidang antara lain adalah dr. Suheir Muzakir, Sp.PD.
Jumlah kasus baru ODHIV di Kota Pematangsiantar terus mengalami peningkatan dan berfluktuasi setiap bulan.
Kemenkes mencatat pada Maret 2025 sebanyak 356.638 orang dengan HIV (ODHIV) dari total estimasi 564 ribu ODHIV yang harus ditemukan pada 2025 untuk segera diberi penanganan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved