Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEPATAN waktu dan kedisiplinan menjadi hal yang paling utama untuk diterapkan oleh orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dalam mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Terlambat satu menit saja, virus HIV akan sudah bisa bereplikasi dan membuat pengobatan jadi tidak maksimal.
Apoteker spesialis farmasi rumah sakit dari RSPON, Hadijah Tahir, mengatakan kasus penderita HIV/AIDS yang telat mengonsumsi obat ARV dari jadwal yang sebelumnya telah ditetapkan memang menjadi kendala yang sering dihadapi. Mengingat pentingnya ketepatan waktu ini, maka pasien juga harus selalu memastikan ketersediaan stok ARV untuk dirinya sendiri.
"Tidak boleh telat (minum obat ARV), semenit pun tidak boleh. Lima menit saja sudah ada replikasi virus," kata Hadijah dalam diskusi yang diikuti secara daring di Jakarta, kemarin.
Ketika virus HIV telah menginfeksi sel limfosit, virus tersebut akan bereplikasi dengan sangat cepat. Pada pasien yang baru terdiagnosis HIV/AIDS, Hadijah juga menekankan pentingnya untuk mendapatkan terapi ARV sesegera mungkin.
Hal ini juga berlaku apabila petugas kesehatan secara tidak sengaja terpajan virus HIV. Dalam waktu empat jam, ujar Hadijah, seorang yang terpajan virus HIV minimal harus sudah mengonsumsi ARV.
"Jadi harus segera supaya dia (ARV) bisa menghambat replikasi virus. Karena kalau tidak segera, maka virus akan semakin banyak, daya tahan tubuh atau CD4 akan diduduki oleh virus tersebut. Dan tentu daya tahan tubuh menurun, maka infeksi oportunistik akan bisa segera terinfeksi," kata dia.
Hadijah mengatakan, saat ini ARV merupakan satu-satunya terapi yang tersedia untuk mengatasi virus HIV. Meski tidak bisa menyembuhkan, tetapi patuh mengonsumsi ARV dapat memperbaiki kualitas hidup penderita. Ketika jumlah virus HIV dalam darah tidak terdeteksi, maka risiko penderita untuk menularkan virus sangat rendah bahkan tidak ada risiko sama sekali.
Menurut dia, saat ini regimen obat ARV semakin baik. Bahkan, ada jenis obat yang di dalam satu tabletnya berisi beberapa macam obat sehingga hal ini meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat.
Hadijah menambahkan, obat ARV dapat diminum setengah jam hingga satu jam sebelum makan atau dua jam sesudah makan. Beberapa jenis ARV dianjurkan untuk tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan lain seperti efavirenz yang sebaiknya tidak dikonsumsi berdekatan dengan makanan lemak tinggi karena bisa mengganggu absorpsi obat.
Terkait efek samping ARV, ia mengatakan bahwa pada dasarnya efek samping obat bersifat individual. Artinya, tidak semua penderita ARV mengalami efek samping yang sama. Namun secara umum, ARV dapat menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, hingga diare.
Pemberian obat ARV akan terus dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Jika timbul efek samping, Hadijah mengingatkan bahwa hal ini bukan berarti pasien dapat menghentikan konsumsi ARV. Dalam waktu dua minggu, pada umumnya pasien sudah bisa beradaptasi dan tidak lagi mengalami efek samping.
"Apabila minum ARV sesaat langsung muntah, berarti dipastikan belum terabsorpsi dengan baik. Jadi bisa minum lagi untuk pengganti. Tapi kalau muntah saat sudah dekat dengan dosis selanjutnya, maka tidak perlu diulang, cukup minum obat pada waktu dosis selanjutnya itu," kata Hadijah. (Ant/Z-9)
Dinas Kesehatan Jawa Timur tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan kuratif dan pelaporan kasus, melainkan perlu memperkuat langkah preventif.
"Hasil pendataan kami, temuan HIV/AIDS selama 10 bulan mulai Januari-Oktober di Kota Sukabumi ada 124 kasus. Terdapat lima orang meninggal dunia,"
Para pengidap HIV/AIDS harus mendapat jaminan kesehatan dari pemerintah.
KETUA DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup, Ribka Tjiptaning, menyoroti masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Universitas Esa Unggul melalui akademisi dan pakar Mikrobiologi, memberikan pandangan dan informasi ilmiah terkini terkait perkembangan penanganan HIV/AIDS di dunia dan Indonesia.
Stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV bisa menghambat pengobatan.
Secara global, 1,3 juta kasus baru pada 2024 menunjukkan upaya pengendalian belum cukup menahan laju penularan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved