Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENERAPAN konsep ekonomi hijau dalam pengembangan pariwisata di Destinasi Super Prioritas (DSP), mampu meningkatkan pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh oleh Guru Besar Bidang Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Eko Priyo Purnomo, S.IP., M.Si., M.Res., Ph.D. dan tim peneliti saat memaparkan hasil penelitian mereka di Gedung Dasron Hamid Research and Innovation Center, Selasa (8/10).
“Kami melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mencapai tata kelola pariwisata yang berkelanjutan sebagai area yang proporsional bagi suatu wilayah atau negara," terang Eko.
Selain Eko, selaku ketua, penelitian berjudul Penerapan Model Transformasi Pariwisata untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Guna Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Destinasi Super Prioritas (DSP) juga melibatkan Dian Wahyu Trisnawati, S.P., M.Agr., Ph.D dan Dr. Dian Suluh Kusuma, M.AP. sebagai anggota tim peneliti.
Baca juga : Kemenparekraf Sebut F8 Makassar Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata Indonesia
Studi ini menyoroti pentingnya transformasi pariwisata melalui aspek lingkungan dan menerapkan strategi pembangunan ekonomi hijau. Artinya, pembangunan infrastruktur yang mendukung pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif semaksimal mungkin memanfaatkan sumber daya lokal dan energi terbarukan.
"Untuk mewujudkannya, kolaborasi antarpemangku kepentingan yang memiliki integritas tinggi sangat dibutuhkan agar dapat membantu mengatasi tantangan yang ada,” jelas Eko dalam kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian yang dibiayai dari Hibah Penelitian Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM) Kemdikbudristek.
Selaku pembahas, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Agustin Peranginangin, S.T, menyampaikan, pariwisata sebagai bagian dari green economy itu tidak bisa kita hindari. "Ekonomi Hijau dalam pariwisata merupakan bentuk tanggung jawab, rasa syukur, sebagai manusia dalam menjaga lingkungan yang diwariskan kepada kita oleh leluhur,” papar dia.
Baca juga : Beautiful Malino Kembali Digelar, Gowa Semakin Dilirik Investor
Ekonomi hijau yang dimaksud pada penelitian ini, kata dia, berarti bentuk keberlanjutan di berbagai sektor, baik ekonomi, kebudayaan, alam lingkungan, dan juga industri pariwisata.
Hasil dari penelitian ini dapat menjadi rekomendasi untuk mengetahui letak kekurangan tata kelola pariwisata di Indonesia saat ini.
“Ada beberapa temuan penelitian yang kita lihat tadi bisa menjadi rekomendasi, baik rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut maupun rekomendasi kebijakan," terang dia.
Baca juga : Dukung BBWI, Dinas Pariwisata DKI Promosi Pariwisata Terpadu
Ia mengatakan, rekomendasi dari penelitian ini harus kita uji coba supaya bisa mengetahui ada perbaikan dan penguatan yang bisa dilakukan untuk sektor pariwisata. Kalau tidak dijalankan kita tidak tahu dimana letak kelemahannya.
"Saya meyakini, riset mengenai pertumbuhan green economy akan dapat mendukung pariwisata berkelanjutan,” papar Agustin.
Kepala Lembaga Riset dan Inovasi (LRI) UMY yang juga Guru Besar Bidang Ilmu Pemerintahan UMY, Prof. Dr. Dyah Mutiarin, S.IP., M.Si mengatakan, ada beberapa Diseminasi Hibah Penelitian DRTPM 2024 yang dilakukan oleh UMY. Diseminasi tersebut dilakukan sebagai penguatan penelitian pada beberapa aspek.
Baca juga : Puan Sebut Revisi UU Kepariwisataan Upaya untuk Membuka Lapangan Kerja
Pihaknya mengundang para stakeholder sesuai bidang penelitian untuk memberikan masukan terhadap penelitian yang dilakukan. Dengan demikian, hasil penelitian dapat lebih sesuai dengan kebutuhan stakeholder.
“Diseminasi bertujuan menguatkan rekognisi stakeholder terhadap riset UMY, dan menjalin kerja sama dengan pihak stakeholder luar," terang dia.
Pihaknya juga mengundang rumah sakit terkait penelitian tentang kesehatan dan kedokteran, mengundang pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengundang akademisi dari kampus negeri dan swasta di Yogya. Kehadiran pembahas memberikan masukan atau feedback pada riset UMY, supaya riset UMY lebih mengakar pada realitas berdasarkan kebutuhan stakeholder. (H-2)
Di sektor pertanian, penerapan pertanian organik dan sistem pertanian yang berkelanjutan menjadi pilihan utama.
Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemimpin pasar karbon global berkat hutan tropis terluas ketiga di dunia.
Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola karbon dan pembiayaan iklim berbasis hutan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30).
Saat ini, regulator menuntut hasil yang terukur dan berintegritas, termasuk kebutuhan akan dampak iklim yang nyata.
Sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di tanah air.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam KTT APEC 2025 di Korea Selatan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.
Capaian ini sejalan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Samosir dari tahun ke tahun.
Berbagai proyek pariwisata dinilai merusak Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu, bertentangan dengan prinsip perlindungan kawasan karst.
Tokyo, Osaka, dan Sapporo masih menjadi primadona bagi wisatawan asal Indonesia saat berkunjung ke Jepang.
Dubai mencatat 17,55 juta wisatawan internasional sepanjang Januari-November 2025. Kota ini kian diminati berkat akses penerbangan, hotel beragam, dan wisata inklusif.
Data BPS mencatat lebih dari 300.000 wisatawan asal Indonesia berkunjung ke Tiongkok pada Semester I-2025, menyumbang sekitar 5,6% dari total perjalanan luar negeri WNI.
tenggelamnya kapal Putri Sakinah di Labuan Bajo, dinilai cerminan lemahnya tata kelola pelayanan publik di sektor keselamatan transportasi laut khususnya pariwisata
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved