Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA Oktober 2024 akan ada fenomena asteroid yang terjadi, salah satunya ialah hujan meteor orionid. Orionid yang mencapai puncaknya pada pertengahan Oktober setiap tahun, dianggap sebagai salah satu hujan meteor terindah tahun ini.
Dilansir dari science.nasa.gov, meteor orionid dikenal karena kecerahan dan kecepatannya. Meteor ini bergerak cepat – melaju dengan kecepatan sekitar 148.000 mph (66 km/s) ke atmosfer bumi. Meteor cepat dapat meninggalkan kereta bercahaya (serpihan puing pijar di belakang meteor) yang berlangsung selama beberapa detik hingga menit. Meteor cepat terkadang juga dapat berubah menjadi bola api. Orionid juga dibingkai oleh beberapa bintang paling terang di langit malam, yang memberikan latar belakang spektakuler untuk meteor yang mencolok ini.
Adapun, hujan meteor orionid akan berlangsung selama 2 Oktober sampai 7 November 2024. Dan akan mencapai puncaknya pada 21 Oktober 2024. Saat puncak, diperkirakan akan muncul sebanyak 20 meteor perjam.
Baca juga : Fakta Ilmiah Puncak Hujan Meteor Perseid 2023 dan Asal Usul Namanya
Orionid dapat dilihat di belahan bumi utara dan selatan selama beberapa jam setelah tengah malam. Carilah area yang jauh dari kota atau lampu jalan. Persiapkan diri Anda dengan membawa kantong tidur, selimut, atau kursi taman. Berbaringlah telentang dengan kaki menghadap ke tenggara jika Anda berada di belahan bumi utara atau timur laut jika Anda berada di belahan bumi selatan, dan lihatlah ke atas, nikmati pemandangan langit sebanyak mungkin. Dalam waktu kurang dari 30 menit dalam kegelapan, mata Anda akan beradaptasi dan Anda akan mulai melihat meteor. Bersabarlah – pertunjukan ini akan berlangsung hingga fajar, jadi Anda punya banyak waktu untuk melihatnya sekilas.
Titik radiannya – titik di langit tempat Orionid muncul – adalah konstelasi Orion. Orion juga merupakan asal nama hujan meteor ini: Orionid. Catatan: Konstelasi yang menjadi asal nama hujan meteor hanya berfungsi untuk membantu pengamat menentukan hujan meteor mana yang mereka lihat pada suatu malam. Konstelasi bukanlah sumber meteor.
Anda tidak boleh hanya melihat ke arah konstelasi Orion untuk melihat Orionid – meteor tersebut terlihat di langit malam. Sebenarnya lebih baik untuk melihat Orionid dari sudut 45 hingga 90 derajat dari radian. Orionid akan tampak lebih panjang dan lebih spektakuler dari perspektif ini. Jika Anda melihat langsung ke radian, Anda akan melihat bahwa meteor tersebut akan pendek. Ini adalah efek perspektif yang disebut foreshortening. (H-2)
Salah satu fenomena utama terjadi pada Maret 2026, ketika gerhana Bulan total dapat diamati dari Indonesia.
Sebuah meteor terekam melintas di langit malam di atas Gunung Fuji, Jepang, pada 26 Desember 2025. Video viral ini memicu diskusi dan kekaguman warganet di media sosial.
Hampir dua bulan lalu, tepatnya pada Minggu malam, 5 Oktober 2025, warga Cirebon, Jawa Barat, dikejutkan oleh dentuman keras yang terjadi di langit.
Langit malam Indonesia baru-baru ini disinari oleh pertunjukan cahaya yang spektakuler dari Hujan Meteor Taurid Utara.
Fenomena hujan meteor Orionid berlangsung sepanjang Oktober hingga awal November. Puncaknya akan terjadi pada 21-22 Oktober.
Warga Kuningan dan Cirebon, Jawa Barat, dikejutkan oleh dentuman keras dan getaran kuat pada Minggu (5/10) malam. Setelah diselidiki, sumber suara tersebut ternyata berasal dari meteor.
Waktu terbaik melihatnya adalah setelah tengah malam tiba. Aktivitasnya akan sangat tinggi menjelang datangnya waktu subuh. Cari lokasi yang gelap tanpa ada polusi cahaya.
Hujan meteor Orionid, salah satu fenomena langit paling mengagumkan, berlangsung dari September-November setiap tahun, dengan puncaknya pada 20 dan 21 Oktober.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved