Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis kesehatan jiwa dari RSUPN dr Cipto Mangunkusumo, Kristiana Siste Kurniasanti, mengungkapkan masa remaja merupakan periode rentan mengalami adiksi karena kondisi perkembangan otak yang belum sempurna atau matang.
"Populasi remaja merupakan populasi yang sangat rentan untuk mengalami adiksi karena area otak yang mengatur emosi, menilai situasi, dan mengambil keputusan masih berkembang sehingga perilaku impulsifnya masih tinggi," kata Kristiana, dikutip Selasa (23/4).
Dokter lulusan Universitas Indonesia itu menjelaskan, perkembangan prefrontal cortex atau bagian depan otak yang berfungsi untuk membuat keputusan, mengatur emosi, dan menilai situasi baru memasuki tahap sempurna di usia 21 atau 22 tahun.
Baca juga : Keseringan Mengecek Medsos dapat Memengaruhi Perubahan Otak pada Remaja
Oleh karena itu, saat usia remaja atau bahkan pada anak-anak proses pengambilan keputusan masih bersifat impulsif atau tanpa berpikir panjang serta lebih mengedepankan emosinya.
"Area untuk mengambil keputusan mereka belum matang sehingga perilakunya impulsif. 'Aku kesal dimusuhin sama teman ya udah deh aku ngeganja aja karena perasaanku lebih enak kalau aku ngeganja atau Ya udah deh aku main games aja yang lama karena perasaan aku lebih enak ketika aku main games," ujar Kristiana.
Selain faktor perkembangan otak, menurut Kristiana, faktor biologis lain yang mempengaruhi munculnya adiksi adalah sistem pengeluaran hormon dopamin dan faktor keturunan.
Baca juga : Ini Dampak Adiksi terhadap Kemampuan Kognitif Anak
"Mereka yang mengalami adiksi dipengaruhi oleh biologi juga yang berperan. Biologi ini artinya ada genetik juga yang berperan misalnya sistem dopamin yang di dalam tubuh kita juga misalnya. Secara biologis yang lain genetik itu ada keluarga kita yang pernah mengalami gangguan adiksi," ujarnya.
Di samping faktor biologis, Kepala Divisi Psikiatri Adiksi, Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM itu juga menyebutkan adiksi juga bisa timbul dari pola asuh yang terlalu membebaskan maupun terlalu mengekang anak.
"Pola asuh yang sifatnya permisif, apa-apa boleh, tidak ada aturan yang jelas atau pola asuh yang sifatnya otoriter semuanya tidak boleh, harus dari orang tua, tidak ada komunikasi yang hangat itu adalah risiko tinggi untuk mengalami adiksi," katanya.
Oleh karena itu, dia mendorong orangtua untuk menerapkan pola asuh yang hangat, mengedepankan rasa empati, dan komunikasi yang baik sehingga dapat membantu mencegah adiksi pada anak-anak dan remaja. (Ant/Z-1)
RSUD Pagelaran Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, membuka layanan konsultasi bagi pecandu judi online. Sejauh ini ada beberapa orang yang sudah berkonsultasi.
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dari Ikatan Alumni FKUI Psikiatri Fitri Dona Nainggolan menyatakan bahwa kesulitan berhenti merokok disebabkan oleh perubahan yang terjadi dalam tubuh
Adiksi terhadap penggunaan gawai juga menyebabkan seseorang menunda-nunda kegiatan produktif lain seperti bekerja atau belajar.
Anak yang mengalami adiksi sulit mengalihkan perhatian mereka sehingga cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar serta lambat bereaksi apabila terjadi sesuatu di sekitarnya.
Risiko adiksi gawai harus segera diatasi melalui peningkatan literasi digital terhadap anak dalam upaya mencegah paparan kekerasan secara daring.
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia
Kolin merupakan nutrisi esensial yang berperan langsung dalam pengaturan suasana hati, daya pikir, dan emosi.
Pernahkah kamu melihat wajah pada rumput, batu, bangunan, atau mungkin benda-benda terdekat di sekitar?
Peneliti berhasil mengembangkan protein sensor untuk melacak sinyal glutamat di otak secara real-time. Penemuan ini membuka tabir cara otak belajar dan memproses memori.
peneliti di Swedia dan Republik Ceko pada 2023 menemukan faktor pemicu risiko demensia bahkan sebelum lahir
Peneliti berhasil memperbaiki fleksibilitas otak tikus model Down syndrome menggunakan molekul pleiotrophin. Temuan ini menantang teori terapi otak harus dilakukan sejak dalam kandungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved