Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGURUS Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Iqbal Mochtar mengatakan program makan siang gratis sangat tidak relevan, khususnya jika bertujuan untuk mengurangi prevalensi stunting.
Menurutnya, pemberian makanan pada anak sebenarnya tidak secara otomatis menurunkan kejadian atau prevalensi stunting. Kalau pun bisa itu sifatnya temporer.
“Kenapa? Karena stunting ini persoalan yang sangat kompleks bukan hanya asupan gizi, tapi juga kemiskinan dan sosial ekonomi. Orangtua yang tidak bisa memberikan makanan kepada anaknya itu karena mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memberikan makanan yang bergizi bagi anaknya,” ungkapnya kepada Media Indonesia, Kamis (29/2).
Baca juga : Soal Makan Siang Gratis untuk Tangani Stunting, Ini Kata Mantan Menkes RI Nila Moeloek
Menurutnya, persoalan stunting bukan hanya gizi, tapi kemiskinan, sosial, pengetahuan dan banyak hal lain yang menyertainya.
Maka dari itu, Iqbal menyebukan jika program makan siang diterapkan, sifatnya hanya akan berlangsung sementara saja karena yang perlu diperbaiki justru faktor kemiskinan.
“Saya berpikir kalau ada pemberian makanan tambahan dan gratis tidak perlu diberikan pada semua anak, hanya kepada anak berisiko tinggi,” tegas Iqbal.
Baca juga : Sumedang Libatkan Mahasiswa Tangani Kasus Stunting
Selain itu, dia menambahkan program pemberian makanan juga bukan hal yang baru, bahkan sudah ada sejak 30 tahun lalu.
“Sejak saya di Puskesmas sudah ada pemberian makanan tambahan dan dilakukan secara teratur beberapa bulan. Tapi hasilnya tidak ada perubahan signifikan. Jadi begitu, kalau ini dipaksakan juga tidak akan terlalu efektif dan efisien,” ujarnya.
Dia berpendapat program itu hanya akan menguras anggaran negara. Pasalnya, jika program ini diberikan bagi anak-anak berusia 0-6 tahun, jumlahnya saat ini mencapai sekitar 30 juta jiwa.
“Survei sosial ekonomi pada 2021 menyebutkan biaya makanan bergizi seimbang mencapai Rp22 ribu sehari atau Rp660 ribu per bulan. Ini belum mempertimbangkan kenaikan harga pangan. Jadi belum termasuk perhitungan logistik juga,” ucap Iqbal.
“Kalau pakai hitungan ini saja pemerintah harus menyediakan Rp19,7 triliun atau Rp20 triliun per bulan atau sekitar Rp240 triliun per tahun. Ini belum termasuk nilai yang diperlukan keperluan logistik. Kalau diperhitungkan bisa meningkat 3 kali lipat,” tukasnya. (Z-5)
Pemanfaatan kacang hijau untuk mengatasi stunting dinilai sangat relevan karena aksesnya yang mudah, harga terjangkau, serta kandungan gizi yang tinggi.
Selain penurunan angka stunting, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 64,28 persen balita peserta program mengalami perbaikan status gizi.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
SELAMA ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital, tapi melupakan manusia
Kemenkes ungkap 6% bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah (BBLR) lewat Program Cek Kesehatan Gratis 2025. Simak risiko stuntingnya.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengingatkan makanan manis, gorengan, dan soda boleh dikonsumsi, tapi proporsinya perlu dikurangi agar gizi seimbang.
Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai kedudukan Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) dan Kolegium Kesehatan belum cukup tegas sehingga multitafsir.
Hingga saat ini, dokter belum tersebar merata di seluruh wilayah, sebagian besar masih terkonsentrasi di kota-kota besar.
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia atau IDI Iqbal Mochtar menjelaskan bahwa paparan dalam dosis tinggi dan jangka waktu lama cesium-137 atau cs-137 dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius
BARU-BARU ini, publik disuguhi kabar tidak sedap.
Padahal, peran dan posisi molegium dalam sistem pendidikan kedokteran sangat krusial dan menyangkut langsung mutu pelayanan kesehatan masyarakat.
KETUA Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Slamet Budiarto menilai komunikasi Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin harus segera diperbaiki.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved