Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA menunjukkan bahwa dukungan dana yang diberikan oleh dunia internasional digunakan secara efisien untuk pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan. Salah satu pendanaan yang masuk ke Indonesia ialah perjanjian kontribusi antara Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup dan Norwegia sebesar US$56 juta. Hal itu merupakan kontribusi berbasis hasil pertama pada 2022 untuk pengurangan emisi yang terverifikasi dari deforestasi dan degradasi hutan sebesar 11,2 juta ton CO2 ekuivalen untuk kinerja Indonesia pada 2016-2017.
“Kita penting menunjukkan kepada internasional bahwa kita kerjanya berbobot dan gak main-main. Bagaimana mengambil keputusan, bagaimana mengurai masalah, bagaimana memformulasikan menjadi aksi,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dalam acara agenda pertemuan result based contribution 1 dengan Norway di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis (22/2).
Seperti diketahui, dalam kerja sama berbasis kontribusi antara Indonesia dan Norwegia, hingga saat ini sudah ada sebanyak US$156 juta yang terdiri dari tiga tahap. Adapun, pendanaan tahap keempat tengah dibahas lebih lanjut. Menurut Siti, dengan reputasi Indonesia yang telah berhasil melakukan pengelolaan lingkungan hingga berbuah hasil penurunan emisi gas rumah kaca, akan ada banyak pendanaan yang masuk ke Indonesia untuk terus meningkatkan kinerja di bidang lingkungan hidup. Bukan hanya pembayaran berbasis kinerja seperti kerja sama antara Indonesia dan Norwegia, tapi pendanaan juga bisa masuk dari brbagai skema .
Baca juga : Menteri LHK Bertemu Dubes Norwegia Proses Kontribusi Berbasis Hasil Tahap Keempat
“Yang paling penting itu desain implementasi dan praktiknya seperti apa, gak gampang loh menyiapkannya. Tapi ini akan terus berkembang dan berkembang. Dan ya, mari kita bereskan saja. Karbon itu kan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat Indonesia,” ucap Siti.
Direktur Jenderal Planologi dan Tata Lingkungan KLHK Hanif Faisol mengungkapkan, result based contribution tahap 1 senilai US$56 juta telah teralokasikan untuk rencana kerja dan anggaran dengan rincian ke Ditjen PHL, Ditjen PDASRH, Ditjen PSKL, Ditjen PKTL, Ditjen PPI, Ditjen Penegakan Hukum, BP2 SDM, dan Ditjen KSDAE.
Di samping itu, ada beberapa pemerintah daerah yang turut disalurkan pendaan tersebut, di antaranya Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Sumatra Barat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau.
Baca juga : Menteri LHK dan Presiden IUCN Bahas Kerja Sama Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Lebih lanjut, ada beberapa lembaga swadaya masyarakat juga, yakni Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Yayasan Institut Hijau Indonesia, Yayasan Paradigma, Yayasan ICEL. Serta sejumlah lembaga perguruan tinggi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, serta himpunan mahasiswa Tree Grower Community IPB University.
“Selanjutnya sampai saat ini kami telah menerima proposal-proposal usulan kegiatan bidang lingkungan hidup dan kehutanan dalam rangka untuk mewujudkan pencapaian target Indonesia;s FOLU Net Sink 2030, baik dari pemerintah pusat, pemda, maupun untuk masyarakat untuk kami tindaklanjuti,” ucap Hanif
Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Rut Kruger Giverin mengungkapkan, pihaknya melihat betul keseriusan Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta mengendalikan deforestasi. Hal itu yang membuatnya percaya bahwa Indonesia bisa mengelola pendanaan yang diberikan dari dunia internasional secara efisien untuk hasil yang lebih maksimal demi mencapai target FOLU Net Sink 2030.
“Kita melihat bahwa Indonesia memiliki tata kelola pemerintahan yang baik dan transparan untuk pengelolaan pendanaan tersebut. Dan kami melihat bahwa pendanaan tersebut digunakan secara baik untuk mencapai target Folu Net Sink 2030,” ucap Giverin. (H-1)
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung capaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
SALAH satu strategi utama Indonesia untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) adalah dengan cara aksi iklim nasional, khususnya melalui inisiatif FOLU Net Sink.
BEBAN Forestry and Other Land Use (FOLU) atau sektor kehutanan dan pengunaan lahan lain dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) disebut sangat berat.
Agenda perubahan iklim Indonesia, termasuk pengendalian emisi dari hutan dan lahan melalui FOLU NET Sink 2030 harus menjadi agenda bersama seluruh stakeholder.
Indonesia berkomitmen untuk melakukan langkah nyata dalam pengendalian perubahan iklim dengan melibatkan masyarakat di tingkat tapak.
Dalam komitmen NDC, sektor FOLU mengalami tren penurunan nilai emisi sejak 2010 tetapi masih sebagai sektor pengemisi GRK (net emitter) dengan tingkat emisi pada 2030 sebesar 216 juta ton CO2e.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved