Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG Anak dari Universitas Padjajaran Fitrian Hararti menyebut pola asuh buruk menjadi salah satu penyebab terjadinya perundungan terhadap anak.
"Banyak orangtua yang secara tidak sadar melakukan bullying terhadap anak-anak mereka," kata Fitrian, dikutip Jumat (8/12).
Salah satu contoh perundungan yang dilakukan orangtua adalah membanding-bandingkan kemampuan anak dengan orang lain. Terlebih lagi apabila orangtua melontarkan komentar merendahkan untuk mendorong atau memotivasi anak.
Baca juga: Anak Korban Kekerasan akan Lakukan Hal Serupa pada yang Lebih Lemah
"Misalnya, 'Kamu itu masa enggak bisa sih, si itu aja sudah bisa. Ih cengeng gitu aja nangis.' Padahal setiap anak itu unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda," ujar Fitrian.
Menurutnya, ketika di dalam rumah, orangtua sudah terbiasa melakukan perundungan, anak terancam menjadi korban dari tindakan serupa di luar rumah karena kurang percaya diri.
Bahkan, ancaman yang lebih besar adalah anak meniru tindakan orangtuanya dan melakukan perundungan di luar rumah.
Baca juga: Victoria Beckham Ungkap Kerap Jadi Korban Perundungan di Sekolah
"Anak adalah peniru ulung dan orangtua adalah modelnya, jadi jangan berharap punya anak yang baik berakhlak mulia dan cerdas kalau orangtuanya sendiri tidak cerdas mendidik anak," katanya.
Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada 2021, menunjukkan empat dari 100 anak usia dini pernah mendapatkan pengasuhan tidak layak.
Berdasarkan Indeks Perlindungan Anak, Indonesia menargetkan menekan persentase anak usia dini yang pernah mendapatkan pengasuhan tidak layak menjadi 3,47% pada 2024 setelah 3,64% pada 2020 dan 3,73% pada 2018.
Guna mencapai target tersebut, pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah menetapkan indikator persentase balita dengan pengasuhan tidak layak.
Kementerian PPPA memiliki penguatan 257 layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk melakukan edukasi dan konsultasi konseling pengasuhan ke keluarga yang dilakukan oleh konselor dan psikolog.
Layanan tersebut diberikan guna melakukan perubahan perilaku orangtua agar bisa memberikan pengasuhan positif tanpa kekerasan sekaligus untuk memperkuat ketahanan keluarga, juga mendukung pencegahan anak dari kekerasan dan penelantaran. (Ant/Z-1)
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Saat ini, banyak platform telah menyediakan fitur kendali orangtua (parental control), namun belum semua orangtua memahami cara mengoperasikannya.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Keistimewaan yang didapat oleh anak sulung perempuan sering kali muncul dalam bentuk pemberian otonomi yang lebih besar.
Pendampingan orangtua selama film berlangsung sangatlah krusial untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada anak.
Menyaksikan tontonan yang tidak sesuai klasifikasi usia merupakan ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved