Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Kelompok Studi Morbus Hansen (kusta) Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia Sri Linuwih SW Menaldi mengatakan tidak ada kekebalan khusus untuk kusta sehingga seseorang bisa terkena lagi.
"Penyakit lain juga begitu ya. Karena tidak ada kekebalan khusus untuk itu, bisa tertular kembali. Sebetulnya sembuh bisa, dia bisa sakit lagi, ya mungkin saja," kata Sri, dikutip Senin (18/9).
Namun, menurut Sri, bukan berarti mereka yang mengalami disabilitas akibat kusta menyandang penyakit akibat bakteri Mycobacterium leprae itu seumur hidup.
Baca juga: Yayasan NLR Indonesia Komitmen Tangani Kusta
"Padahal bukan. Itu sama dengan penyakit lain yang menimbulkan kelumpuhan misalnya. Semisal stroke, tangan atau kakinya bisa kembali? Enggak juga, padahal stroke-nya sudah selesai. Jadi, kusta bisa disembuhkan," jelas dia.
Cacat, sambung Sri, merupakan bagian dari penyakit di masa lampau atau sisa penyakit. Mereka yang menjadi difabel masih bisa berdaya, disesuaikan kemampuan.
"Stigma kusta, cacat, sudah enggak usah ngapa-ngapain, enggak diberi pekerjaan bahkan sekolah saja tidak boleh. Orang kusta tidak boleh dikucilkan," kata dia.
Baca juga: Peringati Hari Kusta Sedunia, Indramayu Terus Berbenah
Berbicara penularan kusta, bakteri penyebab penyakit bisa berada di rongga hidung dan menular melalui droplet atau cairan pernapasan, lendir hidung atau mulut, sama dengan covid-19.
Oleh karena itu, Sri menyebut kusta ditularkan dengan kontak lama dan erat yang berarti tidak hanya berarti saling bersentuhan, tetapi juga melalui udara yang dihirup bersama untuk waktu yang lama dan erat.
"Jadi, bergantung pada jumlah bakteri yang bisa masuk ke tubuh, daya tahan tubuh, itu sangat menentukan daya tularnya," kata dia.
Berbicara pencegahan, Sri mengatakan kusta sama seperti penyakit menular lainnya yang bisa dicegah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta memperkuat sistem imun tubuh, salah satunya dengan konsumsi makanan nutrisi seimbang.
"Pencegahan utama kalau ada satu orang yang sakit, keluarga dekat harus diperiksa juga. Kalau ada kecenderungan tertular, kita berikan obat pencegahan atau kalau sudah positif diobati," tutur dia.
Kemudian, apabila ada salah satu anggota keluarga sakit maka segeralah membawanya ke dokter agar mendapatkan pengobatan.
"Kalau diobati saat itu, bakteri itu gampang mati dengan sekali pengobatan. Itu sudah 90% lebih bakteri mati. Jadi kita tinggal membunuh sisanya," pungkas Sri. (Ant/Z-1)
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
PRESIDEN Prabowo Subianto memberikan dukungan penuh terhadap komitmen Sasakawa Foundation dalam upaya mengeliminasi penyakit kusta di Indonesia.
Penanganan kusta tidak dapat dilihat hanya dari sisi medis. Faktor sosial memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pengendalian penyakit ini.
MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk mempercepat eliminasi kusta. Salah satunya dengan menyertakannya di CKG.
Indonesia masih menempati peringkat tiga besar negara dengan jumlah kasus kusta terbanyak di dunia.
UPAYA eliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterlambatan deteksi dini hingga hambatan sosial berupa stigma dan diskriminasi.
UPAYA eliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterlambatan deteksi dini hingga hambatan sosial berupa stigma dan diskriminasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved