Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak Galih Herlambang menjelaskan penyebab dari timbulnya risiko stunting pada anak dan kiat untuk mencegah gangguan pertumbuhan tersebut.
Stunting adalah kondisi perawakan pendek di mana panjang atau tinggi badan anak menurut usianya kurang dari -2.00 standar deviasi berdasarkan jenis kelamin yang disebabkan oleh kekurangan zat gizi kronis dan berulang.
"Stunting merupakan masalah utama di malnutrisi anak, jadi ada 150 juta anak di usia balita yang mengalami stunting," kata Galih, dikutip Rabu (9/8).
Baca juga: Tangani Stunting, Bhayangkari Polda Sulbar Salurkan Pangan Olahan Sehat
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting berkaitan dengan faktor kemiskinan, buruknya gizi dan kesehatan ibu hamil, penyakit atau infeksi berulang, dan pola asuh atau pemberian makan yang tidak sesuai.
Salah satu penyebab dari kondisi tubuh anak yang memiliki perawakan pendek adalah stunting di mana gangguan tersebut identik dengan postur tubuh yang pendek serta kurus.
"Stunting itu identik dengan pendek kemudian kurus, kalau pendek gemuk kemungkinan besar bukan stunting," ujar dokter spesialis anak dari RS. PKU Muhammadiyah Temanggung itu.
Baca juga: Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Bantu Tekan Angka Stunting di Pasaman Barat
Galih menyebutkan penyebab risiko stunting pada anak antara lain kondisi kesehatan dan nutrisi ibu pada masa kehamilan, ibu hamil yang menderita anemia, pola asuh dan pemberian makan yang salah, serta asupan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak adekuat.
Selain itu, terdapat sejumlah penyakit kronis yang berkontribusi terhadap munculnya stunting antara lain prematuritas atau pertumbuhan janin terhambat, gizi buruk, alergi makanan atau susu sapi, dan kelainan metabolik bawaan.
Stunting memiliki berbagai dampak bagi anak. Mulai dari dampak pada pertumbuhan yaitu perawakan tubuh anak menjadi lebih pendek daripada rata-rata seusianya, berat badan yang kurang, dan komposisi tubuh tidak proporsional.
Kemudian terdapat dampak terhadap perkembangan yaitu mengganggu atensi atau pelancaran berpikir dan memori, kecerdasan dan skor IQ lebih rendah, proses perkembangan terlambat terutama pada usia 1-3 tahun, hingga masalah psikososial seperti cemas, depresi, serta kurang percaya diri.
Galih menjelaskan pencegahan stunting dimulai sedini mungkin yaitu dari masa remaja. Remaja perempuan yang sehat dan bahagia akan terhindar dari risiko stunting pada anaknya kelak.
Kemudian, untuk ibu hamil perlu mendapat nutrisi yang optimal dan hindari kehamilan saat mengidap anemia karena akan meningkatkan dua risiko pada bayi yaitu prematuritas dan berat badan lahir yang rendah.
Pencegahan lainnya adalah pemberian asupan nutrisi berupa inisiasi menyusui dini (IMD), air susu ibu, dan MPASI untuk bayi di bawah usia dua tahun. Sementara untuk balita dianjurkan memberikan asupan nutrisi yang baik dan cukup serta tindakan pencegahan penyakit.
Pemberian nutrisi yang baik dan cukup menjadi penting bagi proses pertumbuhan dan pencegahan stunting pada anak terutama ketika dua tahun pertama kehidupannya.
"Kalau mau memperbaiki anak dengan gangguan pertumbuhan, yang membutuhkan makanan terutama, adalah di dua tahun pertama ketika sudah lebih dari dua tahun akan sulit," kata Galih.
Galih juga menyampaikan sejumlah tindakan penanganan ketika menghadapi stunting yaitu melakukan konsultasi dengan dokter anak untuk mengevaluasi penyebab dan penanganan yang tepat.
Selain itu, anak perlu diberikan imunisasi untuk mencegah infeksi dan penyakit berat, asupan nutrisi atau zat gizi yang tepat dan benar sesuai usia, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat. (Ant/Z-1)
Selain penurunan angka stunting, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 64,28 persen balita peserta program mengalami perbaikan status gizi.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
SELAMA ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital, tapi melupakan manusia
Kemenkes ungkap 6% bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah (BBLR) lewat Program Cek Kesehatan Gratis 2025. Simak risiko stuntingnya.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengingatkan makanan manis, gorengan, dan soda boleh dikonsumsi, tapi proporsinya perlu dikurangi agar gizi seimbang.
Data menunjukkan bahwa 20%–30% anak di Indonesia terdeteksi mengalami cacingan secara global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved