Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo menilai bahwa pemilihan umum atau pemilu tidak akan mengganggu upaya pengentasan stunting/tengkes dan target penurunan tengkes di akhir 2023 yakni 3,8 persen tetap tercapai.
"Saya kira saya tidak melihat itu karena program tengkes ini sudah didesain kegiatan dan anggaran oleh negara dari pusat, daerah, sampai pemerintahan desa," kata Rahmad saat dihubungi, Minggu (23/7).
Ia menilai fokus saat ini adalah bekerja sama memaksimalkan program yang telah disusun tersebut. Kemudian memaksimalkan pencegahan tengkes pada remaja, ibu hamil, dan orang tua melalui sosialisasi dan edukasi.
Baca juga : BKKBN Jawa Timur Gencarkan Edukasi Stunting di Kabupaten Sumenep
"Justru yang kita gerakkan ini adalah warga yang 1000 hari pertama informasi kepada ibu-ibu yang masih produktif untuk yang mengandung bagaimana agar tahu apa itu tengkes apa itu risiko tengkes," ujarnya.
Baca juga : Pemberian ASI Eksklusif Sangat Penting untuk Cegah Stunting
Sehingga masyarakat sehat dan peduli terhadap bahaya isu tengkes.
"Kalau sesuai dengan target 14% sampai 2024 dan kemudian targetnya 2023 itu turun 3,8% itu butuh perjuangan dan butuh gotong-royongan. Jangan berpikir bahwa penurunan stunting itu hanya perlu tugasnya pemerintah pusat tapi juga menjadi penurunan tugas itu dari pemerintahan daerah, provinsi, sampai pemerintah desa atau tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat," tuturnya.
Meskipun secara akhir tahun butuh kerja keras dan butuh kolaborasi dan bentuk kerja sama.
Optimisme penurunan tengkes juga diungkapkan Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Prof drh Muhammad Rizal Martua Damanik yang menyebutkan bahwa kegiatan pemilu tidak akan mengganggu target penurunan angka tengkes tahun ini karena masyarakat sudah banyak mengerti bahaya dari tengkes.
"Terkait dengan kegiatan Pemilu, sejatinya kegiatan 5 tahunan ini tidak sampai menghambat upaya penurunan stunting," kata Rizal.
BKKBN menilai bahwa program percepatan penurunan stunting yang sudah disusun dalam program Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI) adalah kegiatan yang sudah terencana mulai dari tingkat desa, kabupaten/kota, sampai tingkat provinsi dapat tetap berjalan meski adanya event 5 tahunan yakni Pemilu.
"Kami berharap bahwa dengan adanya penjabat, pimpinan daerah mulai dari kota/kan dan provinsi program RAN PASTI tetap berjalan sesuai rencana sehingga percepatan penurunan stunting akan tercapai," ujarnya.
Sebelumnya menjadi atensi presiden bahwa penggunaan anggaran tengkes dinilai tidak tepat sasaran. Anggarannya habis tidak pada inti permasalahan. Presiden mempunyai komitmen dan atensi yang sangat kuat terhadap program tengkes, oleh karena itu R1 memberikan kekuatan yang khusus dengan memonitor pelaksanaan.
"Kemudian bagaimana penggunaan anggaran penting itu untuk menggunakan kearifan masyarakat lokal dengan mengajak masyarakat dan budaya lokal agar menjadi salah satu cara untuk mempercepat proses penurunan tengkes," ungkap Rahmad. (Z-8)
Kepala BGN Dadan Hindayana mengingatkan makanan manis, gorengan, dan soda boleh dikonsumsi, tapi proporsinya perlu dikurangi agar gizi seimbang.
Data menunjukkan bahwa 20%–30% anak di Indonesia terdeteksi mengalami cacingan secara global.
Ahli kesehatan Ray Wagiu Basrowi menegaskan perbaikan nutrisi dan sistem pencernaan anak krusial demi capai target stunting 14,2% di 2029.
Ia menjelaskan pada 1.000 hari pertama kehidupan penting untuk perkembangan anak dan BGN akan pastikan program untuk seluruh ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita.
SEJUMLAH ibu terlihat berkumpul di sebuah ruang dengan ukuran sekitar 7 x 5 meter dari keseluruhan bangunan dengan luas sekitar 63 meter persegi.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat dampak ekonomi program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama satu tahun, mulai dari pelibatan 46 ribu UMKM hingga penyerapan 780 ribu tenaga kerja.
Berdasarkan data komparatif internasional, sistem campuran justru berisiko menimbulkan ketimpangan antara perolehan suara dan kursi di parlemen.
WACANA penerapan sistem pemungutan suara elektronik atau e-voting dalam pemilu nasional dinilai tidak bisa dipandang sekadar sebagai persoalan teknologi.
Pemerintah tengah mengkaji penerapan elektronik voting atau e-voting dalam pemilu. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan penerapannya tidak bisa tergesa-gesa.
Secara konstitusional, baik pemilihan langsung maupun melalui DPRD sama-sama dikategorikan sebagai proses yang demokratis.
Kodifikasi ini bertujuan menyatukan beberapa undang-undang yang selama ini terpisah menjadi satu payung hukum yang utuh.
Mada menjelaskan, musyawarah/mufakat hanya bermakna demokratis apabila memenuhi syarat deliberasi, yakni adanya pertukaran gagasan secara setara dan terbuka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved