Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
USAI menggelar Workshop “Menuju Industri Perfilman” di empat kota yakni Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Mataram, kini Festival Film Bulanan mengadakan workshop di Kota Jambi, pekan lalu.
Dalam keterangan, Senin (17/7), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan kompetensi sineas lokal supaya menghasilkan karya yang memiliki nilai jual.
“Sampai hari ini kami terus berupaya mendorong sineas-sines lokal agar naik kelas dan mendapatkan kesempatan yang sama," kata Sandiaga.
Baca juga: Sandiaga Uno: Saatnya Sineas di Pulau Sumatra Berkarya dan Ambil Peluang
"Melalui kegiatan workshop ini diharapkan bisa menambah literasi, semakin melek industri, dan meningkatkan produktivitas sehingga nantinya mereka bisa menghidupkan ekosistem perfilman, menghasilkan nilai ekonomi, serta berdampak positif untuk masyarakat luas,” jelas Sandiaga.
Workshop yang berlangsung selama tiga hari di Kota Jambi diikuti oleh perwakilan komunitas film asal Bandar Lampung, Bengkulu, Jambi dan sekitarnya.
Hadirkan Pelaku Industri Perfilman Nasional
Selama mengikuti kelas, peserta saling bertukar pikiran dan pengalaman dengan para pelaku industri perfilman nasional seperti Jeihan Angga (sutradara dan penulis naskah), Abdul Manaf (produser), Greg Arya (editor), dan Ezra Tampubolon (pengarah artistik).
Baca juga: Tinah Buys Cigarettes Jadi Juara Pertama EoS SFPP 2023
Turut hadir pula perwakilan Founder Festival Film Bulanan, Vera Damayanti, serta perwakilan dari FlipFlop TV, Indra Agus Rahman dan Akbar Rusdi yang akan memberi pendanaan dan pendampingan produksi bagi proposal film terpilih.
Selain dikenalkan dengan dunia industri perfilman, para peserta workshop juga diberi edukasi bagaimana membuat proposal film, mendistribusikan film, merancang film yang bisa dipasarkan, budgeting, sampai proses pitching.
Salah satu peserta workshop, Rudi Hariandi perwakilan dari Forum Film Merangin merasakan langsung manfaat setelah mengikuti workshop ini,
Baca juga: Gelar Sinema Keliling di Lombok, Sandiaga: Menonton Film Harus Terus Dikembangkan!
“Manfaat yang saya dapatkan setelah mengikuti workshop Festival Film Bulanan ini yang pertama sudah mengubah mindset saya, kedua workshop ini bisa mempertemukan kami para komunitas film yang tersebar di Jambi”, ujar Rudi.
Hal senada juga diungkapkan Azzam Rabbani dari Lunar Indonesia asal Bengkulu, “Jujur untuk mencari kelas workshop secara gratis itu susah, kalau pun gratis itu ilmunya ecek-ecek, standar, yang udah pernah kita tahu," katanya.
"Nah workshop ini bisa dibilang gratis dan luar biasa, materi-materinya asyik, mengubah paradigma tentang film itu sendiri,” ungkap Azzam.
Baca juga: Festival Film Bulanan, Sandiaga Yakin Sineas Lokal Buat Karya Bertaraf Internasional
Sementara bagi Muhammad Husni, dari CV Turion Kreatif merasa workshop kali ini sangat berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.
"Biasanya kita belajar tentang teknis, bagaimana cara membuat film, kalau di sini kita melihatnya dari sisi yang berbeda, bagaimana film bisa mempunyai nilai jual,” ucap Husni.
Sependapat dengan Husni, peserta dari Forum Film Jambi, Fikri Nuril Huda, mengatakan workshop ini bagus dan sangat bermanfaat terutama bagi sineas lokal,
“Kita enggak lagi diajarin bagaimana cara membuat film, tapi lebih ke bisnisnya, karena menurut saya itu yang penting, percuma kita bisa buat film tapi tidak bisa membisniskan/mendistribusikannya”, tutur Reza.
Semangat dan antusiasme peserta juga dirasakan oleh Ezra Tampubolon selaku pemateri. “Hari ini kelasnya seru banget, pesertanya antusias, banyak yang nanya, seneng sih liat semangat dan antusiasme teman-teman itu tentang film khususnya artistik,” kata Ezra.
Baca juga: Sandiaga Uno Ajak Sineas Lokal Tunjukkan Kekhasan Daerah dalam FFB
Dalam sambutannya, Mohammad Amin selaku Direktur Musik, Film dan Animasi Kemenparekraf berharap Workshop Festival Film Bulanan ini menjadi trigger untuk mendukung sineas di daerah agar lebih percaya diri, berani menggali dan mengelaborasi nilai-nilai kearifan lokal yang universal,.
"Cerita menarik yang relate dengan kehidupan dan potensi kreatif lokal yang dimiliki untuk diangkat dalam karya-karya filmnya sehingga berdampak pada munculnya gelombang tren inovasi karya film yang unik, autentik dan berdaya saing tinggi sehingga memperkuat ekosistem film Indonesia baik dari sisi supply maupun demand,” tutur Mohammad Amin. (RO/S-4)
GUNA mendorong kemandirian para ibu rumah tangga, Yayasan Indonesia Setara (YIS) bersama Rumah Zakat menggelar Pelatihan Tata Boga Pembuatan Talam Singkong dan Muffin Pisang.
HADIRKAN kemandirian, Yayasan Indonesia Setara (YIS) bersama Gerakan Mahasiswa Wirausaha (Gemawira) dan Bank Infaq Masjid Raya Bintaro Jaya (MRBJ) menggelar Workshop.
YAYASAN Indonesia Setara (YIS) bersama Bank Infaq Amanah Banyumanik menggelar Workshop Baking Pizza dan Wingko Singkong bertajuk 'Berkah Melimpah Inovasi Komoditas Lokal'.
GUNA membuka lapangan kerja bagi para ibu, Yayasan Indonesia Setara (YIS) berkolaborasi dengan OK OCE Forever kembali menggelar pelatihan pengolahan kuliner populer, yakni nugget dan dimsum mentai.
YAYASAN Indonesia Setara (YIS) bersama Relawan Kamie Muda Aceh menyalurkan sembako di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, pada 5–6 Januari 2026.
YAYASAN Indonesia Setara (YIS) menggelar bazar sembako murah serba Rp10.000 untuk meringankan beban warga terdampak bencana di Sumatra Barat.
Film pertama yang lolos seleksi awal yaitu The Boy with White Skin yang disutradarai Simon Panay (Perancis) untuk film pendek live-action terbaik.
Jakarta Film Week 2025 resmi dibuka dengan film The Fox King. Festival ini menampilkan 134 film dari 25 negara.
Jakarta Film Week 2025 menggelar konferensi pers di CGV FX Sudirman, Jakarta, yang menandai pencapaian lima tahun perjalanan festival ini.
"Melalui LSSFF 2025, kami ingin melihat bagaimana generasi muda maupun para kreator film ini menceritakan Kota Semarang, baik dari Lawang Sewu maupun gang-gang kecil di Kota Lama,"
FILM horor MVP Pictures yang disutradarai Randolph Zaini, Dia Bukan Ibu (A Woman Called Mother) resmi terpilih sebagai official selection Fantastic Fest 2025.
Festival Film Wartawan tahun ini menjadi tribut mendalam bagi almarhum Wina Armada Sukardi, Presiden FFW, yang baru saja berpulang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved