Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
WORLD Health Organization (WHO) kantor regional Eropa pada Juli 2023 melaporkan terjadi peningkatan kasus enterovirus, echovirus 11 (E-11), mulai dari Prancis yang melaporkan sembilan kasus neonatal sepsis dengan kerusakan hati (hepatic impairment) dan juga kegagalan multi organ (multi-organ failure).
Mirisnya, sebanyak tujuh dari sembilan kasus itu meninggal dunia. Laporan WHO Juli ini menyebutkan kasus juga terjadi di berbagai negara Eropa lain, yaitu Kroasia satu kasus, Italia tujuh kasus, Spanyol dua kasus, Swedia lima kasus serta Inggris dua kasus.
Meskipun di Indonesia belum ada kasus tersebut, Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan ada sejumlah gejala yang perlu diwaspadai.
Baca juga : Cacar Monyet belum Berpotensi jadi Pandemi
Sekarang sedang ada peningkatan kasus di Eropa adalah infeksi dari Echovirus 11 (E-11), virus Enterovirus jenis positive-strand RNA dari famili Picornaviridae.
"Seperti juga enteroviruses pada umumnya, infeksi akibat E-11 bisa beragam bentuknya, dari mulai yang ringan seperti kulit kemerahan dan demam, dan mungkin juga sampai yang berat dalam bentuk gangguan sistem saraf, termasuk meningitis, ensefalitis dan kelumpuhan acute flaccid paralysis (AFP)," kata Tjandra, Sabtu (15/7).
Echovirus 11 (E-11) juga dilaporkan menimbulkan penyakit yang berat pada neonates dan bayi, dengan angka kesakitan dan kematian pula, seperti yang sekarang terjadi di Eropa ini dan perlu kita cermati. Bentuknya dapat berupa peradangan berat pada neonates (bayi baru lahir), termasuk hepatitis akut berat dengan koagulopati. E-11 juga dapat saja menular dari ibu ke anaknya.
Baca juga : 7 Fakta Cacar Air yang Amat Menular, Cegah dengan Vaksin
Sementara itu, jenis enterovirus lain yaitu EV71 pernah pula dilaporkan beberapa kali di negara kita, yang jenis ini menyebabkan penyakit tangan kaki mulut (PTKM). Penyakit ini ditandai dengan demam, munculnya rash (ruam pada kulit) dan blister (benjolan kecil) di telapak kaki, tangan dan mukosa mulut, penderita cenderung tidak nafsu makan, malaise dan nyeri pada tenggorokan.
"Biasanya, setelah satu atau dua hari setelah demam, timbul keluhan nyeri di mulut dimulai dari blister sampai kemudian dapat menjadi mukus. Lesi dapat terjadi pada lidah, gusi atau bagian dalam mulut lainnya," kata dia.
Pada umumnya PTKM bukan penyakit berat, dan akan sembuh dalam 7-10 hari, pengobatan hanya bersifat suportif. Sebenarnya penyebab HFMD adalah enterovirus secara umum, termasuk coxsackievirus A16, EV 71 dan echovirus. Pada kejadian sangat jarang, HFMD akibat EV 71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan ensefalitis. (Z-4)
Baca juga : Kena Cacar Air, Kapan Anak Bisa Kembali ke Sekolah?
Masyarakat perlu dijelaskan bahwa virus influenza yang saat ini banyak ditemukan di berbagai negara tidak selalu lebih berat, tetapi memang lebih mudah menular.
IDAI mengingatkan cacar air sangat menular. Satu anak bisa menularkan varicella ke 8–12 anak lain, terutama di sekolah dan lingkungan dengan kontak erat.
Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sekaligus Ketua PDITT dr. Iqbal Mochtar, meminta masyarakat tidak panik dengan penyakit ini, apalagi dengan istilah super flu.
Superflu merupakan influenza tipe A virus H3N2 subclade K yang sudah ada dari dulu.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Hingga saat ini, telah dilaporkan 189.312 kasus flu positif di New York pada musim ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved