Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
DETEKSI dini terhadap gangguan autisme pada anak merupakan faktor penting dalam penanganan secara medis. Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial KSM Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menyebutkan ada sejumlah cara melakukan deteksni dini ganggung autisme.
“Deteksi dini itu krusial sekali, jangan dua tahun atau lebih baru menyadari perkembangan anak yang lamban,” kata dia pada seminar daring, dikutip dari Antara, Kamis (6/4).
Rini yang juga Dokter Spesialis Anak itu mengatakan anak dengan autisme dapat dideteksi sejak usia enam bulan dan dapat dilakukan skrining diagnosis pada usia 18 bulan.
Baca juga : Kado Alma untuk Dila, Buku Cerita Bergambar tentang Autisme
Anak usia enam bulan, menurutnya, sudah mampu untuk berinteraksi dengan orang tua, salah satunya mengenali nama panggilannya dengan baik.
“Usia enam bulan harusnya sudah bisa berinteraksi, misal apabila dia tidak merespons ketika dipanggil namanya secara terus-menerus ini bisa menjadi salah satu indikasi,” ujar Rini.
Baca juga : Hari Autisme Sedunia, Raysha Management Team Gelar Pameran Lukisan
Selain itu, kontak mata selalu menjadi indikator yang dapat diobservasi oleh orang tua. Anak dengan autisme cenderung menghindari kontak mata dengan orang lain.
Beberapa indikator lain seperti progres kemampuan berbahasa dan bersosialisasi yang lamban perlu diperhatikan. Kesulitan berkomunikasi dan mengekspresikan perasaan adalah ciri dari autisme.
Lebih lanjut, Rini mengatakan bila orang telah menemukan beberapa indikasi autisme pada anak, skrining dengan diagnosis lebih lanjut oleh tenaga medis profesional dapat dilakukan.
Umumnya, dokter akan mendiagnosis dengan perangkat Modified Checklist for Autism in Toddlers, Revised with Follow-Up (M-CHAT-R/F).
M-CHAT-R/F merupakan alat skrining tahap kedua berdasarkan laporan orang tua untuk mengevaluasi risiko autisme. Skrining ini dapat dilakukan saat anak telah berusia 18 bulan.
“Jangan menyangkal dan menganggap anak kita baik-baik saja, coba untuk move on dan segera meminta pertolongan profesional,” kata Rini.
“Deteksi dini lebih baiik kalau ada masalah, agar ada perbaikan supaya anak itu bisa mandiri di kemudian hari,” tambahnya.
Meskipun data anak dengan gangguan autisme di Indonesia belum pasti, namun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia dengan tingkat pertumbuhan 1,14 persen dapat diprediksi penderita autis di Indonesia berkisar 2,4 juta orang dengan peningkatan 500 orang per tahun. (Ant/Z-5)
Kabar baik bagi ibu hamil! Tinjauan ilmiah terbaru dari The Lancet menegaskan paracetamol aman dan tidak terbukti meningkatkan risiko autisme atau ADHD pada anak.
Studi menemukan ketidakseimbangan hormon tiroid yang berlangsung selama beberapa trimester kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme pada anak.
Penelitian baru menunjukkan kemampuan kognitif, bukan sekadar gangguan pendengaran, menentukan seberapa baik seseorang memahami percakapan di tempat ramai.
Belakangan, asam folinat mulai menarik perhatian sebagai salah satu pendukung terapi pada anak dengan autisme. Apa sebenarnya zat ini dan bagaimana perbedaannya dengan vitamin B9.
Penelitian terbaru dari Stanford mengungkap peran evolusi otak manusia dalam tingginya prevalensi autisme.
Penelitian terhadap 2,5 juta anak tunjukan tidak ada bukti penggunaan asetaminofen selama kehamilan meningkatkan risiko autisme.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved