Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak Madeleine Ramdhani Jasin dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana menganjurkan untuk segera membawa anak ke klinik atau rumah sakit jika mengalami tanda kegawatan saat musim pancaroba.
"Datang ke rumah sakit atau klinik apabila terdapat gejala berat semisal batuk yang menjadi sesak napas, sangat lemas, demam sangat tinggi hingga kejang, atau tanpa kegawatan lainnya," kata Madeleine, dikutip Selasa (21/2).
Selain itu, bila anak mengalami demam yang tidak membaik setelah dua hari juga harus dibawa ke klinik atau rumah sakit untuk memastikan apakah diperlukan pemeriksaan laboratorium tambahan.
Baca juga: YOAI Beri Penghargaan untuk Keluarga dan Pengasuh Anak dengan Kanker
Menurut Madeleine, di musim pancaroba ada beberapa penyakit yang harus diwaspadai terutama infeksi saluran pernapasan seperti selesma dan influenza.
"Pada anak, radang paru atau pneumonia, juga menjadi lebih sering ditemukan," ujarnya.
Madeleine menjelaskan, di musim pancaroba memang sering ditemukan kejadian infeksi saluran pernafasan akut yang lebih tinggi. Penyebabnya adalah aktivitas virus saluran pernapasan yang lebih tinggi pada musim hujan.
"Misalnya, virus influenza dan virus respiratory syncytial. Karena virus-virus ini mudah menular, banyak yang menjadi sakit bila terpapar dengan orang sakit," imbuhnya.
Selain penyakit infeksi saluran pernapasan, Madeleine juga mengingatkan penyakit lainnya yang mengintai seperti demam berdarah dengue, sebab di musim ini banyak dijumpai genangan air.
Dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Melanie Yudiana Iskandar menambahkan penyakit diare juga harus diwaspadai.
"Pada saat pancaroba mungkin hujan, kadang di rumah ada yang terkena banjir, kebersihannya menjadi tidak terjamin, makanan tidak bagus, jadinya anak lebih mudah diare," ujar Melanie.
Adapun tanda-tanda lain yang mengharuskan orangtua segera membawa anak ke dokter, menurut Melanie, adalah jika anak tidak mau minum karena akan meningkatkan risiko dehidrasi, serta tidak buang air kecil dalam 3-4 jam.
"Kemudian kejang, sesak nafas, juga harus dibawa ke rumah sakit. Demam sendiri kalau misalnya masih bisa ditangani di rumah dengan pemberian obat antipiretik, pemberian cairan, kompres hangat, dan anaknya mau minum, itu masih bisa kita terapi sendiri di rumah," pungkas Melanie. (Ant/OL-1)
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Virus Nipah secara alami berasal dari kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus atau dikenal sebagai flying fox.
Penularan utama leptospirosis terjadi melalui kontak kulit dengan air atau tanah yang telah tercemar urine hewan pembawa bakteri, dengan tikus menjadi perantara yang paling sering ditemukan.
TANTANGAN dan dinamika penyakit hati di Indonesia disoroti. Penyakit hati di Indonesia menunjukkan pola yang semakin kompleks, mulai dari hepatitis kronis, sirosis, hingga kanker hati.
Epilepsi bukan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau organisme yang bisa berpindah antarindividu.
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved