Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
Wot Batu, karya seni instalasi berskala ruang dari Sunaryo, seniman kontemporer Indonesia, berkolaborasi dengan Oza Sudewo, Indonesian tea blend specialist, meluncurkan racikan teh sebagai respons atas karya Sunaryo. Wot Batu merupakan karya seni yang diciptakan Sunaryo sebagai “jembatan spiritual”, menghubungkan jiwa manusia dengan wujud ragawi kehidupan dan menghubungkan empat elemen yang ada di alam.
Bagi Oza, Wot Batu sarat akan makna spiritual, menggambarkan perjalanan hidup manusia modern dan dualisme kehidupan; fana dan baka, material dan spiritual, purba dan modern, hingga makrokosmos dan mikrokosmos. Filosofi tersebut dihadirkan dalam tiga varian teh yang merespons suatu karya seni, diracik khusus untuk mewakili tiga tahap perjalanan hidup manusia; awal, tengah, dan akhir - yang juga terinspirasi dari konsep Tri Tangtu dalam falsafah Sunda.
Mempertimbangkan pengalaman panjang dan sertifikasi Oza sebagai peracik teh, Wot Batu menggandengnya untuk menjadi mitra dalam meracik varian khusus yang dapat menangkap karakter dari karya Sunaryo. Oza menyampaikan, “Dengan mengambil konsep “mereguk Wot Batu”, OZA Tea mencoba mendeskripsikan kembali Wot Batu melalui suguhan teh yang menghadirkan nuansa kontemplatif pada racikannya. Karakter utamanya adalah buah jambu sebagai bagian dari memori masa kecil Sunaryo dengan sang ibu yang terekam dalam salah satu instalasi di Wot Batu, yaitu Batu Indung. Racikan-racikan khas pada rangkaian Respons Karya ini juga menggunakan bahan-bahan yang mewakili konsep dualisme dalam deretan instalasi di Wot Batu.”
Hadirnya varian teh yang disiapkan secara khusus ini menawarkan pengalaman menikmati karya seni yang sangat istimewa. Racikan-racikan ini bukan saja terinspirasi oleh mahakarya Sunaryo ini, melainkan juga mengajak pencicipnya untuk menikmati suatu karya seni melalui rasa dan aroma. Sehingga karya-karya instalasi dalam Wot Batu tidak hanya bisa diresapi lewat pengelihatan, sentuhan dan pendengaran, tetapi juga dengan menyesap dan menghirup aroma racikan teh yang mengawinkan berbagai bahan asli Indonesia.
Oza menambahkan, “Perjalanan manusia sejak lahir, hidup hingga akhir hayat, kami tampilkan dalam tiga varian: Ambu, Indriya, dan Suwung, keseluruhan racikan yang merespon karya Sunaryo hanya tersedia secara khusus di Wot Batu.”
Oza Sudewo yang juga dikenal sebagai seniman teh juga menjelaskan, “Wot Batu adalah sebuah mahakarya seni. Karenanya, kami sangat bangga menjadi partner dalam kolaborasi yang mendukung sebuah pengalaman menyeluruh di Wot Batu ini, mulai dari dilihat, dinikmati, dan dikecap. Tiga varian tea blending yang saya hadirkan turut menjadi sebuah karya seni teh yang menggambarkan perjalanan manusia mulai dari sumber kehidupan yang berasal dari Ambu atau Ibu, indriya yang menggambarkan penggunaan indera saat hidup, hingga Suwung yang memiliki filosofi sakralnya kematian.”
Ketiga varian teh kolaborasi Wot Batu dan OZA Sudewo ini hanya dapat dinikmati ketika berkunjung ke Wot Batu dengan ditemani berbagai kudapan khas, dan tentunya, bersama pengalaman menyelami mahakarya Sunaryo yang tak akan ditemukan di tempat lain. (OL-12)
Pemkot Bandung berencana menyiapkan program pembinaan khusus, termasuk dukungan teknis dalam pengelolaan sampah dan air limbah secara mandiri.
Sebagai langkah perbaikan, Perhutani bersama pengelola legal mulai memperbaiki infrastruktur yang rusak secara bertahap.
Dalam rangka merayakan Hari Kasih Sayang, Cadbury berkolaborasi dengan Prisma Group menghadirkan activation terintegrasi melalui METALED Djakarta Theater dan Videotron Braga.
DALAM rangka memperkuat penetrasi pasar dan memaksimalkan potensi pembiayaan di wilayah Jawa Barat, PT Shinhan Indo Finance (SIF) mengoptimalkan kembali operasional Kantor Cabang Bandung.
Cek jadwal imsakiyah Jawa Barat Rabu 18 Februari 2026: Imsak pukul 04.30 WIB, Subuh 04.40 WIB, Magrib 18.15 WIB. Persiapkan sahur dan buka puasa dengan tepat.
Observatorium Bosscha ITB laporkan hilal 1447 H belum terlihat pada 17 Februari 2026. Pengamatan hilal dilanjutkan 18 Februari sebagai rujukan awal Ramadan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved