Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PT AEON Fantasy Indonesia (AFI) berkomitmen untuk menyebarkan senyuman dan kebahagiaan bagi anak-anak dan keluarga di Indonesia, salah satunya dengan mengadakan program Fantasy Care setiap tahunnya.
Fantasy Care telah diadakan setiap tahun sejak 2017. Pada dua tahun pertama, AFI mengajak pengunjung kidzooona dan Fanpekka untuk datang langsung membawa mainan dan buku layak pakai untuk disumbangkan bersama.
Pada program 2020, AFI telah menyumbangkan mainan serta set paket Health Kit kepada total 450 anak dari 9 Panti Asuhan di Jakarta, Bekasi, Bandung, Surabaya, Bogor, Palembang, Samarinda, Banjarmasin, dan Yogyakarta.
Pada 2021 AFI mendatangi 5 Yayasan anak jalanan dan mendonasikan alat belajar serta buku bacaan edukasi untuk total sekitar 200 anak di Jakarta dan sekitarnya.
Dalam rangka merayakan hari jadi perusahaan yang ke-8, di tahun ini, AFI telah menyumbangkan alat belajar dan buku bacaan edukatif kepada adik-adik kita yang tinggal di Yayasan anak berkebutuhan khusus.
Baca juga : Tes Sertifikasi TOEIC dari Kemendikbudristek, Skor Para Siswa SMK Meningkat
AFI juga mengajak sekitar total 400 anak berkebutuhan khusus tersebut untuk bermain dan bersenang-senang di 16 toko yang tersebar di beberapa kita di Indonesia, yaitu Jabodetabek, Bandung, Yogyakata, Palembang, Surabaya, Samarinda, Banjarmasin, Jambi dan Jember pada periode 09 November – 07 Desember 2022.
Metrianda Lagita selaku HR Manager AFI Metrianda Lagita mengatakan, lewat program itu, AFI berharap adik-adik dari yayasan anak berkebutuhan khusus dapat berbahagia serta donasi yang diberikan bisa bermanfaat.
"AFI juga berharap dapat menginspirasi banyak orang untuk menyebarkan kebaikan dalam bentuk apa pun." ujarnya.
PT AEON Fantasy Indonesia merupakan perusahaan yang berasal dari Jepang dan memulai bisnisnya di Indonesia pada 2014 di bidang hiburan keluarga yaitu area bermain kidzooona, Fanpekka dan Edokko. (RO/OL-7)
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved