Selasa 22 November 2022, 12:45 WIB

Penyebab Kematian Tertinggi Kedua di Dunia, Infeksi Bakteri

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Penyebab Kematian Tertinggi Kedua di Dunia, Infeksi Bakteri

ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Ilustrasi--Peneliti menguji sampel antibiotik alami hasil temuannya di Laboratorium Kimia Universitas Ma Chung, Malang, Jawa Timur.

 

INFEKSI bakteri merupakan penyebab kematian terbesar di dunia, mencakup seperdelapan dari seluruh kematian di dunia pada 2019. Hal itu terungkapkan dalam laporan pertama tentang kematian di dunia yang dirilis pada Selasa (22/11).

Hasil penelitian, yang diterbitkan di jurnal Lancet itu, meneliti kematian yang disebabkan oleh 33 bakteri patogen dan 11 tipe infeksi yang terjadi di 2204 negara dan wilayah dunia.

Patogen itu disebut terkait dengan 7,7 kematian di dunia, 13,6% dari total kematian dunia, pada 2019, setahun sebelum pandemi covid-19 menghantam.

Baca juga: Gletser Mencair, Ratusan Ribu Ton Mikroba Beku Kembali Hidup

Hal itu berarti infeksi patogen merupakan penyebab kematian tertinggi kedua di dunia setelah penyakit jantung ischemik, yang mencakup serangan jantung.

Sebanyak lima dari 33 bakteri bertanggung jawab atas kematian akibat patogen yaitu Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas aeruginosa.

S. aureus  adalah bakteri yang umum ditemukan di kulit dan hidung manusia namun bertanggung jawab atas sejumlah penyakit. Adapun E. coli adalah bakteri yang biasa menyebabkan keracunan makanan.

Penelitian itu digelar dalam rangkaian Global Burden of Disease, penelitian besar-besaran yang dimodali oleh Bill and Melinda Gates Foundation dan melibatkan ribuan peneliti dari berbagai penjuru dunia.

"Penelitian ini merupakan yang pertama mengungkapkan beban dari infeski bakteri terhadap kesehatan publik global," ungkap salah satu peneliti, Christopher Murray, direktur Institur Metrik dan Evaluasi Kesehatan Amerika Serikat (AS).

"Sangat penting uneuk memasukkan hasil penelitian ini dalam radar kesehatan global agar bisa dilakukan penelitian mendalam mengenai patogen yang mematikan," lanjutnya.

Penelitian itu juga menemukan ketimpangan jumlah kematian akibat patogen antara wilayah yang kaya dengan yang miskin.

Di sub-Sahara Afrika, ada sebanyak 230 kematian per 100 ribu populasi karena infeksi bakteri. Angka itu turun menjadi 52 per 100 ribu penduduk di negara yang kaya, seperti Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australasia. (AFP/OL-1)

Baca Juga

MI/ERIEZ M RIAL

Unisba Berada di Peringkat Atas Universitas Terbaik di Kota Bandung

👤Bayu Anggoro 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 22:50 WIB
EduRank menempatkan Unisba sebagai universitas peringkat 4 terbaik di Kota...
Dok. USG Education

Kemitraan USG Education-University of Essex Hasilkan Program Jalur Cepat Raih Sarjana Internasional

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 22:42 WIB
Program Pathway atau program jalur adalah program yang bertujuan menjembatani celah antara kualifikasi pendidikan terakhir yang dimiliki...
ANTARA

PGRI: Jangan Lupakan Kesejahteraan Guru

👤Faustinus Nua 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 22:38 WIB
Pesan Presiden Joko Widodo agar kualitas guru terus ditingkatkan merupakan sebuah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya