Sabtu 05 November 2022, 09:15 WIB

Tradisi Dinggung, Panen Madu Sialang Asal Jambi

Naufal Zuhdi | Humaniora
Tradisi Dinggung, Panen Madu Sialang Asal Jambi

MI/Bagus Himawan
Ilustrasi: Pemanen madu sedang membaca 'syair' untuk merayu lebah meninggalkan pohon sialang

 

TRADISI lisan menjadi upaya untuk melindungi suatu ekosistem. Indonesia memiliki banyak tradisi lisan yang tanpa disadari tujuannya memang untuk menjaga ekosistem.

Banyak sastra lisan yang sebetulnya masih dibutuhkan oleh masyarakat di berbagai pelosok Indonesia. Hanya saja karena generasi sekarang tidak memahami bahasanya, mereka hanya sekadar mengikuti tanpa memahami apa isi atau arti dari tradisi tersebut.

Koordinator Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, Anita Astriawati Ningrum, mengatakan tradisi Dinggung di Jambi adalah salah satu dari tradisi lisan yang dikonversi oleh Badan Bahasa untuk tetap dijaga kelestariannya.

"Contohnya, ini adalah salah satu sastra lisan yang sudah beberapa tahun dikonservasi oleh Badan Bahasa, ada tradisi lisan Dinggung di Jambi. Dinggung ini jadi semacam senandung yang wajib dituturkan oleh para petani madu sialang," ungkap Anita dikutip pada Sabtu (5/11).

Baca juga:  Melestarikan Sandeq, Merawat Tradisi Mandar

Jadi, sebelum para petani madu sialang memanen dari pohon sialang, mereka melakukan sebuah tradisi atau ritual dan salah satunya dengan membaca doa.

"Isi doanya sebetulnya adalah permohonan izin kepada alam untuk manusia boleh mengambil makanan, madunya. Di bawah pohon sialang itu biasanya para petani bersenandung dan memohon doa-doa dan sebagainya," tuturnya.

Anita menambahkan, apabila pohon sialang memberikan tanda berupa dengungan, maka warga diizinkan untuk memanen madu. Sebaliknya, jika pohon sialang tidak memberikan tanda berupa dengungan, petani atau warga sekitar tidak diizinkan memanen madu. Tradisi ini sebetulnya memiliki tujuan untuk lebih menjaga ekosistem. 

"Kemudian dikatakan oleh para leluhur di daerah tersebut nanti akan memberi semacam tanda melalui dengungan dari si pohon sebagai tanda madu yang didapat sudah matang untuk dipanen, sedangkan kalau pohon itu tidak berdengung berarti masyarakat tidak diizinkan," pungkas Anita.(OL-5)

Baca Juga

MI/Ramdani

Ahli: Masyarakat tidak Boleh Lengah, Subvarian XBB Bahaya bagi Komorbid

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 02 Desember 2022, 23:38 WIB
Menurut Guru Besar Mikrobiologi FKUI, subvarian XBB dan varian omikron lainnya bisa melarikan diri dari antibodi, baik pascainfeksi,...
MI/ Moh Irfan

BPJS Kesehatan Ingin Masyarakat Teredukasi Soal Layanan Kesehatan

👤Dinda Shabrina 🕔Jumat 02 Desember 2022, 22:59 WIB
MASYARAKAT sangat membutuhkan edukasi terkait layanan kesehatan yang diselanggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)...
Dok. i3L

Terus Lakukan Inovasi, Dundee dan i3l Kembangkan Kerjasama Double Degree

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 02 Desember 2022, 21:59 WIB
"Mahasiswa nantinya akan diberikan gelar sarjana dari Biomedicine i3L, serta dari University of...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya