Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER dari Puskesmas Kecamatan Senen Jakarta Pusat Ambiyo Budiman menyebutkan bahwa mengendalikan risiko kehamilan sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya kondisi yang dapat menghambat proses persalinan.
"Kalau kita mengendalikan risikonya dulu itu jauh lebih baik dibanding nanti sudah terlambat karena menyepelekan risikonya," kata Ambiyo dalam acara bincang-bincang kesehatan, dikutip Rabu (26/10).
Ia menjelaskan semua kehamilan sebenarnya berisiko, baik pada ibu maupun janin yang dikandungnya. Ada tiga kategori risiko yang bisa dialami oleh ibu hamil, yakni risiko rendah, tinggi, dan sangat tinggi.
Baca juga: Asupan Vitamin Penting yang Harus Dipenuhi Ibu dan Anak untuk Mencegah Stunting
"Jika hamil saja itu risiko rendah. Kalau ibunya punya penyakit, risikonya jadi tinggi, dan jika sampai komplikasi dan mengancam nyawa ibu dan anak itu masuk risiko sangat tinggi," ujarnya.
Adapun penyakit-penyakit yang membuat kehamilan menjadi berisiko tinggi, kata dia, adalah penyakit yang diderita ibu sebelum hamil seperti hipertensi, diabetes, dan anemia.
Sedangkan kondisi yang membuat kehamilan berisiko sangat tinggi di antaranya hipertensi kronis yang tidak tertangani yang mengakibatkan preeklamsia atau tekanan darah tinggi disertai adanya protein dalam urine.
"Yang ditakutkan adalah komplikasi menjadi eklamsi, yaitu saat ibu hamil bisa mengalami kejang. Itu adalah risiko yang sangat tinggi," imbuhnya.
Untuk mengendalikan risiko kehamilan, Ambiyo mengatakan ibu perlu memeriksakan kondisi kesehatan terlebih dahulu. Jika ditemukan memiliki risiko seperti anemia misalnya, maka ibu dapat segera berkonsultasi dengan ahli gizi.
Ia melanjutkan, pemeriksaan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan di rumah sakit, klinik, bahkan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat satu seperti puskesmas.
Jika ibu baru melakukan pemeriksaan untuk pertama kali, maka akan dilakukan skrining dan antenatal care (ANC).
"Skriningnya itu ada triple eliminasi. Jadi ibu akan diberikan surat pengantar laboratorium untuk memeriksakan hepatitisnya, sifilisnya, dan HIV. Setelah hasilnya keluar, baru konsultasi dengan dokter umum, ahli gizi, dan dokter gigi," kata Ambiyo.
"Untuk ANC, Permenkes nomor 21 itu minimal enam kali kunjungan. Yaitu, di trimester pertama yaitu 0-12 minggu, itu satu kali. Kemudian di atas 12 minggu itu dua kali, dan di trimester tiga ini tiga kali sampai nanti dia melahirkan," imbuhnya.
Namun, lanjut dia, jika ibu hamil memiliki risiko tinggi dan sangat tinggi, pemeriksaan sebaiknya dilakukan lebih sering. Misalnya, jika ibu mengalami anemia maka harus diperiksa setiap bulan.
Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, Ambiyo juga mengatakan mengendalikan risiko kehamilan dapat dilakukan dengan pola makan yang sehat. Ibu hamil harus mencukupi kebutuhan nutrisi mulai dari vitamin, asam folat, dan kalsium.
"Sedangkan untuk risiko tinggi atau sangat tinggi, itu tergantung penyakitnya. Misalnya dia diabetes, otomatis gula atau takaran karbohidratnya akan diukur dulu oleh ahli gizi. Kemudian yang darah tinggi, kurangi garam," pungkas Ambiyo. (Ant/OL-1)
Kelompok yang perlu waspada saat berolahraga saat puasa ramadan mencakup ibu hamil, ibu menyusui, serta penderita penyakit penyerta atau komorbid.
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
BGN menegaskan prioritas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yakni memberikan asupan gizi kepada kelompok rentan termasuk balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, sebagai prioritas utama
Laporan terbaru NCHS menunjukkan tren kenaikan kasus sifilis maternal. Kenali risiko, gejala "senyap", dan cara melindungi janin dari infeksi mematikan.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
Sentuhan ini ternyata sudah bisa dirasakan oleh bayi di dalam kandungan saat kehamilan memasuki trimester kedua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved