Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
ERA digital telah banyak dimanfaatkan oleh para pendakwah untuk menyampaikan ajaran agama dengan mengajak dan menebar kebaikan.
Aktivitas para pendakwah ini diharapkan mampu mengidentifikasi sekaligus menyikapi pelanggaran dan perilaku kurang etis di ruang digital.
Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Frida Kusumastuti menyampaikan hal tersebut pada webinar Literasi Digital ”Indonesia Makin Cakap Digital” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk komunitas digital di wilayah Bali - Nusa Tenggara, Jumat (14/10).
Frida menegaskan, pelanggaran etika di ruang digital pada umumnya bisa berupa informasi hoaks, ujaran kebencian, pornografi, perundungan, dan konten negatif lainnya.
Untuk itu, interaksi, partisipasi, dan kolaborasi para pendakwah diharapkan mampu memberi rasa nyaman ruang digital.
Baca juga: Kemenkominfo Gelar Webinar 'Rahasia Membuat Konten Viral'
”Adapun prinsip dan ruang lingkup etika yang harus dijunjung, yakni: kesadaran, tanggung jawab, integritas, dan kebajikan,” ujar Frida dalam diskusi virtual bertajuk ”Aktivitas Dakwah di Ruang Digital” yang juga diikuti secara nobar oleh komunitas digital di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Selain menjunjung tinggi etika, lanjut Frida, para pendakwah perlu menghindari pesan dakwah yang tidak ramah di media digital.
Di antaranya membuat klaim kebenaran; mempersulit ajaran agama; bertindak keras, kasar dan emosional; berburuk sangka terhadap pihak di luar golongan, dan mudah mengkafirkan.
”Dakwah sebaiknya dilakukan dengan aman dan gaul. Kreasikan dakwah digital lewat media sosial, seperti Facebook, Twitter, IG, YouTube, TikTok dengan berbagai kisah dan tulisan inspiratif penuh kebaikan,” sebut Frida Kusumastuti.
Webinar #MakinCakapDigital 2022 yang merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) ini diselenggarakan oleh Kemenkominfo bekerja sama dengan Siberkreasi dan mitra jejaring lainnya.
Kegiatan yang diagendakan digelar hingga awal Desember nanti ini diharapkan mampu memberikan panduan kepada masyarakat dalam melakukan aktivitas digital.
Sejak diselenggarakan pada 2017, GNLD telah menjangkau 12,6 juta warga masyarakat. Pada tahun 2022, Kominfo menargetkan pemberian pelatihan literasi digital kepada 5,5 juta warga masyarakat.
Pelatihan literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten tersebut selalu membahas setiap tema dari sudut pandang empat pilar utama. Yakni, kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.
Dari kacamata keamanan digital (digital safety), influencer Dyahhakim mengingatkan ihwal pentingnya kesadaran terhadap rekam jejak digital.Hal itu ia sampaikan mengingat banyak da’i muda yang kini muncul di era digital.
”Mereka seringkali mengunggah konten dakwah tanpa menyertakan sumber rujukan yang jelas. Padahal, sebuah unggahan akan meninggalkan jejak digital meskipun telah dihapus,” ujar Dyah.
Dyahhakim berpesan agar para pendakwah mau mencari dan menggali lebih banyak sumber informasi sebagai acuan pembanding. Dengan begitu, lanjutnya, isi dakwah yang disampaikan lebih komprehensif.
Narasumber lain, Fajar Tri Laksono dari Ikatan Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (IGTIK) PGRI menambahkan, para pendakwah kini memiliki”pekerjaan rumah”, yakni bagaimana menyampaikan dakwah yang mampu menarik kalangan anak muda.
”Misalnya membuat konten dakwah yang lebih menarik anak muda dan bukan malah menghindarinya,” kata Fajar dalam webinar yang dipandu oleh moderator Fitta Mamita. Informasi lebih lanjut silakan akses info.literasidigital.id atau akun Instagram @siberkreasi. (RO/OL-09)
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Anak di bawah usia 16 tahun tetap dapat berkarya di media sosial, namun sebaiknya menggunakan akun milik orang tua, bukan akun pribadi.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Paparan media sosial yang terlalu dini berisiko mengganggu regulasi emosi, pembentukan identitas diri, hingga menurunkan kualitas interaksi sosial nyata.
PIMPINAN Pusat Gerakan Pemuda Ansor menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan Peraturan Pemerintah (PP) Tunas yang digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Kemendikdasmen dorong 7 Kebiasaan Hebat seiring pembatasan medsos anak di bawah 16 tahun melalui PP Tunas untuk tekan dampak negatif ruang digital.
Kemenag memperkuat literasi digital bagi siswa dan santri sebagai bagian dari implementasi PP TUNAS untuk perlindungan anak di ruang digital.
Media8 Pictures rilis Petualangan Dinos 2, film AI pertama di Teater Keong Mas. Kisah petualangan lintas waktu Ferry dan bayi T-Rex yang siap menghibur keluarga.
Diskominfo Batam juga terus mendorong peningkatan literasi digital bagi para orangtua agar dapat membimbing anak menggunakan internet secara bijak dan bertanggung jawab.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved