Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI Pusat Studi Pariwisata, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Destha Titi Raharjana menyebut, perkembangan desa wisata dalam beberapa tahun terakhir ini dinilai menggembirakan karena bisa membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar dan menekan urbanisasi. Namun, jika
pembangunan desa wisata hanya demi tontonan, roh pedesaan yang dimiliki desa tersebut dikhawatirkan akan hilang.
Bisnis pariwisata yang dijalankan di perdesaan dipercaya mampu menekan urbanisasi sekaligus membuka peluang kerja bagi warga desa. Bahkan, kebangkitan pariwisata di desa pascapandemi Covid-19 sangat menjanjikan dan berpotensi menjadi tulang punggung kebangkitan ekonomi desa.
"Pariwisata hadir sebagai “bonus� karena yang sejatinya dikemas dan ditawarkan bagi wisatawan atau guest adalah pengalaman unik berinteraksi dengan warga setempat sebagai host," ujarnya dalam siaran pers dari Humas UGM, Selasa (20/9).
Ia menyebut, ada risiko jika wisata yang dikembangkan di desa-desa tidak dibingkai dalam perencanaan atau master plan pariwisata desa. Tata ruang perdesaan yang berubah tentu akan menanggalkan karakter kedesaannya.
Ia mencontohkan, alih fungsi lahan pertanian menjadi ruang yang digunakan untuk usaha wisata menjadi ancaman yang akan membuat ciri khas pertanian dari desa tersebut menjadi hilang.
"Roh pedesaannya akan hilang jika banyak terjadi perubahan hanya demi tontonan wisatawan semata," tegas dia. Oleh sebab itu, pengembangan desa wisata jangan sampai menghilangkan roh pedesaannya.
Menurut Destha, paling tidak ada dua faktor yang bakal menyokong popularitas desa wisata, yaitu karakter yang kuat dan pengelola desa wisata yang kompeten.
Pertama, pengelola wisata harus bisa memastikan produk wisatanya memiliki karakter yang kuat untuk menjadi identitas yang membedakan dengan desa lainnya. Dalam bahasa marketing, sebuah desa wisata harus mampu memiliki unique selling proposition (USP).
"Untuk itu, pengembangan desa wisata orientasinya harus condong pada pelibatan dan penguatan interaksi wisatawan dalam kehidupan masyarakat setempat," jelas dia.
USP harus dikemas dalam paket wisata, bukan dalam pembelian tiket. Artinya, wisata di desa itu sejatinya tidak menjual tiket, namun yang ditawarkan adalah paket wisata.
"Daya tarik di desa itu adalah aktivitas, bukan semata objek wisata. Oleh sebab itu, desa wisata tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan home stay," ujar dia. Oleh sebab itu, tantangan bagi desa-desa wisata saat ini adalah bagaimana mengemas dan menguatkan identitasnya melalui kemasan paket wisata yang berkualitas.
Kedua, desa wisata harus memiliki sumber daya manusia pengelola desa wisata yang kompeten dan inovatif. Seorang tokoh penggerak utama (local champion) di desa setempat memegang peranan penting.
Destha juga menyebut, ada empat kunci penting agar desa wisata untuk mampu bertahan dan berkelanjutan. Pertama, memiliki konsep yang jelas tentang orientasi pengembangan wisata desa yang sesungguhnya.
Kedua, memiliki supporting dari pihak internal dan eksternal dalam pengembangannya. Ketiga, pihak pengelola mampu mengelola wisata secara transparan dan inklusif. Keempat, pengelola paham dan mampu menerapkan prinsip pembangunan wisata berkelanjutan. (OL-13)
Baca Juga: Menparekraf: Daya Saing Masyarakat Desa Wisata di Enam ...
Pemilihan Kabupaten Tuban didasari oleh karakteristik wilayah pesisir utara Jawa yang memiliki ketergantungan tinggi pada sektor pertanian dan perikanan.
pemberdayaan desa melalui empat pilar pembangunan berkelanjutan, melibatkan generasi muda, komunitas lokal, dan program Desa Sejahtera
Antusiasme kepala daerah dalam pembentukan Posbankum sangat tinggi.
Pemkab Bekasi mengeklaim telah melakukan pengawasan ketat, mulai dari pengadaan bahan baku hingga proses pengolahan di dapur SPPG.
Penghargaan tertinggi ini diberikan kepada desa-desa yang sukses menyajikan pengalaman autentik sekaligus mendorong pemerataan ekonomi di tingkat lokal.
Kapasitas pemerintah desa dalam mengelola anggaran masih jauh dari standar akuntabilitas yang dibutuhkan.
Istilah sustainable tourism kini mulai berevolusi menjadi regenerative hospitality, sebuah konsep di mana pelaku industri tidak hanya berusaha meminimalisasi dampak negatif,
Tren terbaru menunjukkan bahwa bagi Generasi Z, pengalaman kini menjadi faktor utama yang mendorong keputusan perjalanan, melampaui pertimbangan harga semata.
Pembangunan Bandara Internasional Chinchero di Peru menuai kontroversi. Mampukah infrastruktur ini menampung lonjakan wisatawan tanpa merusak kesucian Lembah Suci?
Pulau Sumba semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi unggulan pariwisata Indonesia.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy, mengungkapkan bahwa negara tersebut berhasil menyambut 64 juta pengunjung sepanjang 2025.
Pemerintah Daerah Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta menargetkan kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, bertransformasi menjadi kawasan pedestrian penuh mulai 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved