Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
REKTOR Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Prof Dr Syahrin Harahap mengatakan tidak ada kebencian antara satu agama dengan agama lain, seperti Islamofobia di Indonesia karena bangsa ini memiliki Pancasila yang mempersatukan segala perbedaan.
"Di negeri ini sebenarnya tidak ada kebencian antara satu agama dengan agama lainnya karena Pancasila sebagai dasar negara telah mencoba mencari titik temu dari semua agama, latar belakang budaya, dan etnis sehingga kita dipersatukan dalam khalimatun syawa (satu keyakinan yang mempertemukan berbagai perbedaan)," kata Syahrin seperti dikutip Antara di Jakarta, Selasa (6/9).
Untuk itu, ia mengimbau anak-anak bangsa agar tidak membesar-besarkan isu Islamofobia yang tidak cocok dengan Indonesia.
Menurut Syahrin, hal tersebut penting untuk dilakukan karena isu Islamofobia dan isu-isu pemecah belah persatuan lainnya berpotensi menimbulkan konflik yang menjadi ladang subur bagi tumbuhnya kelompok radikal dan teroris dalam menyebarkan ideologi-ideologi transnasional.
"Tujuan mereka adalah merusak keutuhan NKRI, seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah," tambahnya.
Syahrin menyampaikan bahwa Islamofobia sebenarnya merupakan istilah yang berkembang di negara lain, tetapi kemudian dikirim ke Tanah Air untuk mengganggu persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia.
"Sebenarnya (Islamofobia) muncul pertama kali di bagian benua lain, terutama Eropa. Islamofobia muncul karena ada orang-orang tertentu yang
tersinggung dengan umat Islam, perilaku dan lain-lain yang dianggap mengganggu orang lain. Namun, perilaku itu sebenarnya bukan datang dari Islam atau umat Islam, melainkan orang yang minim pengetahuannya tentang Islam. Itu di Eropa," jelasnya.
Baca juga: Cegah Budaya Kekerasan lewat Penanaman sejak Dini Nilai-Nilai Kebangsaan
Syahrin mengakui kecenderungan Islamofobia merebak ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, memang tidak bisa dihindarkan. Hal itu karena situasi di suatu benua tertentu akan berpengaruh ke benua lain.
Meski begitu, menurut ia, jika setiap anak bangsa mengembangkan kepribadiannya yang digali dari nilai-nilai Pancasila, bangsa ini tidak
akan saling membenci.
"Kita sering mengatakan bahwa Pancasila itu adalah kita. Artinya, Pancasila digali dari kepribadian bangsa kita. Apabila kita mengembangkan kepribadian kita yang notabene adalah pesan-pesan yang terkandung dalam Pancasila, sebenarnya kita tidak akan saling membenci. Dengan demikian, Islamofobia tidak cocok dengan bangsa Indonesia," jelas Syahrin.
Ia juga meminta agar segenap anak bangsa berhenti menghadirkan diskusi-diskusi mengenai Islamofobia yang dikaitkan dengan Indonesia,
kecuali dalam konteks diskusi mengenai keadaan di negara lain.
Syahrin pun menekankan bahwa pada dasarnya bangsa Indonesia tidak didik untuk membenci satu sama lain. Sebaliknya, bahkan sebelum menjadi suatu negara, beragam penduduk dari kerajaan, etnis, dan agama yang berbeda-beda di Indonesia telah memiliki jiwa gotong royong.
"Bangsa kita tidak dididik untuk membenci satu sama lain. Bahkan sebelum Indonesia jadi suatu negara, sebenarnya, kerajaan-kerajaan,
etnis-etnis, dan kekuatan agama di Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika memiliki jiwa gotong royong. Itulah yang membuat tidak seperti masyarakat di bagian dunia lain yang saling membenci," pungkasnya. (Ant/OL-16)
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
Jika Generasi Z Indonesia mengadopsi Pancasila sebagai filter etika AI, kita tak hanya selamat dari distopia teknologi, tapi juga membangun Nusantara digital yang berkeadilan.
BADAN Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memperingati Hari Ibu Tahun 2025 melalui kegiatan lokakarya tematik bertema Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gimĀ online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved