Sabtu 03 September 2022, 21:15 WIB

Gelombang Panas Tahun 2022 Sangat Ekstrem

Faustinus Nua | Humaniora
Gelombang Panas Tahun 2022 Sangat Ekstrem

AFP
Ilustrasi

 

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) berdampak besar terhadap perubahan iklim global. Bukan hanya menyebabkan kerusakan hutan, lahan atau hunian masyarakat, tetapi juga meningkatkan emisi karbon yang akan semakin memperburuk krisis iklim.

Director of Global Fire Monitoring Center, Prof. Dr. Johann Georg Goldammer mengungkapkan bahwa gelombang panas yang terjadi di tahun 2022 ini sangat ekstrem. Berbagai sumber pantauan menunjukkan banyak wilayah di dunia yang mengalami situasi tersebut. Tidak terkecuali Eropa dan Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

"Kebakaran bulan lalu (di Portugal) sangat dekat dengan lingkungan masyarakat, dekat dengan desa/ kota dan itu sangat ekstrem dan sulit dikontrol. Kemudian 4 tahun kebakaran di Athena dengan korban meninggal lebih dari 100 orang. sekitar 2.500 rumah atau gedung rusak hanya dalam beberapa jam di sore hari," ujarnya dalam webinar 'Forest and Land Fire Control during 2022 Heat Wave' yang digelar Forest Digest, Sabtu (3/9).

Diungkapkan Johann, penanganan risiko kebakaran di setiap daerah tentu berbeda-beda. Hal itu sesuai dengan jenis kebakaran, misalnya kebakaran hutan berbeda dengan lahan atau juga hunian masyarakat.

Faktor penyebab kebakaran juga berbeda, mulai dari faktor alami seperti gelombang panas hingga pembukaan lahan perkebunan baru. Akan tetapi kebakaran yang disebabkan oleh cuaca ekstrem memang sulit dikendalikan.

"Salah satu masalah besar di Eropa khususnya di wilayah Mediterania kita memiliki perubahan penggunaan lahan. Ini berbeda dengan Indonesia dimana masyarakat lokal yang hidup di pedesaan meninggalkan desa. Mereka ke kota khususnya anak muda yang mencari kesempatan di kota. Kita bisa lihat tempat-tempat ditinggal. Ini artinya bahwa tidak ada penanaman lagi. Ini masalah besar bahwa api akan menemukan banyak material untuk dibakar," jelasnya.

Sebagai bagian dari manajemen kebakaran hutan dan lahan, lanjut Johann, di Eropa memiliki unit penanganannya. Setiap unit tersebut memiliki tanggung jawab untuk mencegah dan mengurangi potensi kebakaran.

"Kebakaran bukan hanya menghancurkan hutan atau lahan tapi juga menyebabkan emisi yang berdampak pada aspek kesehatan publik. Jadi kami memiliki aktor berbeda yang secara sektoral, bertanggung jawab dalam manajemen kebakaran," kata dia. (H-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Arab Saudi Sepakati pembukaan Penerbangan Umroh dari Kertajati

👤Mediaindonesia 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 14:28 WIB
Menhub mengatakan, telah bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi untuk membahas hal...
Ist

Universitas BSI Masuk 10 Besar Kampus Terbaik Jakarta Versi UniRank 2022

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 13:21 WIB
Universitas BSI masuk dalam 10 besar Universitas terbaik di Jakarta, dengan menempati urutan ke-7 dan mengungguli beberapa PTN dan PTS...
Dok. Perpusnas

Perpusnas Gelar Literasi Kewirausahaan Kopi, Diikuti 750 Peserta dari 5 Kota

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 13:12 WIB
Perpusnas RI bertekad melakukan transformasi menjadi institusi yang memiliki peran signifikan, terutama dalam upaya ikut meningkatkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya