Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTIVITAS fisik disebut dapat meningkatkan penuaan yang sehat, tetapi kondisi kronis dan penurunan kapasitas olahraga terkait usia sering kali membuat orang lanjut usia (lansia) enggan melakukan aktivitas fisik sedang atau berat seperti yang direkomendasikan oleh pedoman kesehatan.
Sebuah studi baru menunjukkan individu berusia 85 tahun ke atas yang berjalan setidaknya 1 jam dalam seminggu memiliki risiko lebih rendah dari semua penyebab kematian dan penyakit kardiovaskular daripada yang tidak terlibat dalam aktivitas fisik.
Rekan penulis studi tersebut, Dr. Moo-Nyun Jin dari Inje University, Korea Selatan, mengidentifikasi jumlah minimum latihan yang dapat bermanfaat bagi individu berumur merupakan tujuan penting karena tingkat aktivitas yang direkomendasikan mungkin sulit dicapai.
"Studi kami menunjukkan bahwa berjalan bahkan hanya satu jam setiap minggu bermanfaat bagi mereka (usia) 85 tahun ke atas dibandingkan dengan tidak aktif sama sekali. Pesan yang dapat diambil adalah untuk terus berjalan sepanjang hidup," ucap Moo-Nyun Jin.
Penelitian ini akan dipresentasikan di European Society of Cardiology Congress 2022 pada akhir Agustus. Untuk diketahui, berikut beberapa catatan terkait aktivitas fisik bagi orang lansia;
• Aktivitas fisik dapat memperlambat proses penuaan dan dikaitkan dengan penurunan risiko semua penyebab kematian pada orang dewasa yang lebih tua.
• Penyakit kronis dan perubahan terkait usia dalam kapasitas latihan dapat menghambat kemampuan individu yang lebih tua untuk mencapai tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan.
• Sebuah studi baru yang melibatkan individu berusia 85 tahun ke atas menunjukkan bahwa berjalan setidaknya 1 jam per minggu dapat mengurangi risiko semua penyebab penyakit dan kematian akibat masalah kardiovaskular.
• Hasilnya konsisten, orang lasia tidak dapat melakukan latihan fisik dengan intensitas tinggi. Mereka hanya harus tetap beraktivitas fisik sesuai kemampuan masing-masing.
Penuaan dan Aktivitas Fisik
PENUAAN dikaitkan dengan peningkatan risiko kondisi kesehatan kronis dan penurunan kemampuan fisik dan kognitif. Jumlah individu berusia 65 tahun ke atas di seluruh dunia adalah sekitar 1 miliar pada tahun 2019, diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2050. Peningkatan pada populasi individu yang menua ini mencerminkan peningkatan harapan hidup tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang hidup dengan usia tua yang sehat.
Sementara itu, aktivitas fisik dapat mengurangi risiko penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes, serta dapat memperlambat dampak penuaan pada penurunan fisik dan kognitif. Selain itu, aktivitas fisik dapat membantu menjaga fleksibilitas dan keseimbangan pada individu yang lebih tua dan memungkinkan mereka untuk berfungsi secara mandiri.
Konsisten dengan efek ini, studi observasional baru-baru ini termasuk orang dewasa yang lebih tua menunjukkan tingkat aktivitas fisik berkorelasi negatif dengan risiko semua penyebab kematian.
Namun, penyakit kronis dan penurunan kekuatan otot yang berkaitan dengan usia pada waktunya akan membatasi kemampuan lansia untuk terlibat dalam aktivitas fisik. Selain itu, perilaku menetap juga meningkat seiring bertambahnya usia.
Rekomendasi Aktivitas Fisik
Penelitian dari 2016 menunjukkan mayoritas lansia di atas 65 tahun di Amerika Serikat tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik. Pedoman aktivitas fisik saat ini untuk semua lansia di AS merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat atau 75 menit aktivitas aerobik intensitas tinggi seperti berlari per minggu.
Pedoman tersebut juga merekomendasikan latihan penguatan otot selama 2 hari, seperti angkat beban atau latihan beban tubuh.
Rekomendasi untuk lansia menekankan penggabungan rezim campuran yang melibatkan latihan aerobik, pelatihan ketahanan dan pelatihan keseimbangan untuk menghindari jatuh.
Pedoman aktivitas fisik juga merekomendasikan lansia yang tidak dapat melakukan latihan fisik intensitas sedang harus melakukan yang sesuai dengan kemampuan mereka setelah berkonsultasi dengan profesional kesehatan.
Lalu, bagaimana jalan kaki bisa bermanfaat bagi kesehatan dan umur panjang?
PENELITI mencari tahu apakah berjalan kaki dapat mengurangi risiko semua penyebab kematian termasuk penyakit kardiovaskular pada individu yang berusia 85 tahun ke atas.
Studi ini mencakup data dari 7.047 orang berusia 85 tahun atau lebih yang tinggal di Korea Selatan. Para peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai jumlah waktu yang dihabiskan per minggu oleh para peserta yang terlibat dalam aktivitas fisik berjalan lambat, intensitas sedang, atau intensitas kuat.
Para peneliti menemukan sekitar 42% individu berusia 85 tahun ke atas secara teratur berjalan kaki, sedangkan sekitar 26% melakukan aktivitas fisik sedang atau berat.
Baca juga: 68,65% Lansia Telah Divaksinasi Lengkap
Selain itu, sekitar sepertiga dari semua individu yang berjalan secara teratur juga melakukan aktivitas fisik sedang atau berat. Khususnya, kurang dari 8% lansia mencapai tingkat aktivitas fisik intensitas sedang-kuat yang direkomendasikan.
Temuan penelitian menunjukkan individu yang berjalan setidaknya 1 jam seminggu memiliki risiko lebih rendah dari semua penyebab penyakit dan kematian akibat masalah kardiovaskular daripada individu yang tidak aktif.
“Dalam hal penuaan yang sehat, olahraga adalah hal yang paling dekat dengan obat ajaib dan penelitian ini memperkuat gagasan dengan aktivitas fisik sederhana, lansia dapat menuai manfaat nyata,” ujar Dr. Scott Kaiser, ahli geriatri dan direktur dari Kesehatan Kognitif Geriatri untuk Pacific Neuroscience Institute di Pusat Kesehatan Providence Saint John di Santa Monica, CA.
Profesor di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia, Dr. Ulrik Wisløff, menjelaskan studi ini menunjukkan nilai batas saat ini yang diberikan untuk menentukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga kuat pada lansia tidak cocok untuk tujuan kehidupan nyata (batas ditetapkan terutama untuk orang berusia 40-an).
"Dalam pengalaman saya, mayoritas lansia di atas usia 85 tahun yang sering berjalan mencapai intensitas relatif yang melebihi 85% dari serapan oksigen puncak mereka. Itu adalah intensitas tinggi tetapi relatif terhadap tingkat kebugaran kardiorespirasi individu, yang merupakan kunci untuk meresepkan intensitas latihan yang benar untuk meningkatkan kebugaran,” ungkap Wisloff.
“Studi ini menambah bukti bahwa menggunakan ambang batas absolut untuk saran aktivitas fisik jauh dari optimal dan rekomendasi aktivitas fisik harus lebih fokus pada intensitas relatif dari aktivitas yang dilakukan,” imbuhnay.
Wisløff menyebut mengukur perubahan detak jantung sebagai respons terhadap aktivitas fisik adalah indikator yang lebih andal daripada mengukur frekuensi atau durasi olahraga.
Keterbatasan Penelitian Baru
Dr Maria Fiatarone Singh, seorang ahli geriatri di University of Sydney, mencatat temuan penelitian ini hanya korelasional.
“Ini adalah studi observasional dan bukan studi eksperimental – jadi ini berarti kausalitas tidak dapat diduga. Dengan kata lain, ada kemungkinan penyakit yang mengakibatkan kematian mencegah orang berjalan daripada sebaliknya. Satu-satunya studi eksperimental dengan kematian sebagai hasilnya adalah studi Generation100 dari Norwegia,” tukas Singh.
Dr. Singh juga mencatat berjalan mungkin tidak cocok untuk lansia dengan cacat atau kondisi kronis.
“Meskipun berjalan tampaknya mudah dan aman, orang-orang yang lemah, sarcopenic, osteoporosis, atau rentan jatuh disarankan untuk melakukan latihan ketahanan dan keseimbangan daripada berjalan. Baru kemudian berjalan nanti ketika mereka dapat melakukannya dengan aman," pungkasnya.(OL-5)
SEORANG siswa bunuh diri di NTT. Anak berinisial YBS yang baru menginjak 10 tahun, Psikiater, menekankan bahwa anak berusia 10 tahun sudah memahami konsep kematian
Selain sakit kepala dan asfiksia (kekurangan oksigen), gas tertawa dapat memicu terbentuknya bekuan darah serta gangguan pada hitung darah.
Penyalahgunaan gas tertawa dapat memicu timbulnya bekuan darah, gangguan hitung darah, serta menghambat fungsi saluran pembuangan (buang air besar dan kecil).
VILPA merupakan akitifitas singkat tetapi intens yang biasa kita lakukan. Durasi setiap aktivitas biasanya hanya 30–60 detik, tetapi intensitasnya cukup tinggi.
Sseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Tingkat kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 178,3 per 100.000 penduduk (disesuaikan dengan usia).
Studi terbaru mengungkap jalan kaki lebih dari 10 menit dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, terutama bagi orang dengan gaya hidup sedentari.
Telur merupakan sumber protein hewani yang sudah menjadi pangan pokok dan banyak dikonsumsi masyarakat.
Obesitas dan diabetes, dua penyakit kardiovaskular yang semakin meningkat di Indonesia, tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi.
PENELITIAN yang diterbitkan dalam Jurnal Asosiasi Jantung Amerika menemukan infeksi virus kronis tertentu seperti herpes zoster dan hepatitis C dapat meningkatkan risiko kardiovaskular.
Banyak kebiasaan yang tampak sepele ternyata membawa dampak besar bagi jantung dalam jangka panjang.
Fenomena stroke di usia muda meningkat. Stres kronis, gaya hidup modern, dan tekanan emosional kini jadi faktor utama risiko stroke generasi produktif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved