Senin 08 Agustus 2022, 10:30 WIB

Terluas dan Terbesar di Dunia, Saatnya Konservasi Ekosistem Karbon Biru Indonesia Masuk NDC

Arnoldus Dae | Humaniora
Terluas dan Terbesar di Dunia, Saatnya Konservasi Ekosistem Karbon Biru Indonesia Masuk NDC

ANTARA/Fikri Yusuf
PENANAMAN MANGROVE: Warga menanam bibit mangrove di kawasan Mertasari, Denpasar, Bali dalam rangka memeringati Hari Mangrove Sedunia.

 

SUDAH saatnya ekosistem karbon biru (blue carbon) menjadi prioritas utama dalam perencanaan tata kelola ruang dan konservasi pesisir di Indonesia maupun global. Apalagi mangrove dan padang lamun dapat menyerap dan menyimpan karbon alami (carbon sink) yang sangat besar dalam waktu yang sangat lama, bahkan lebih banyak dari hutan terestrial.

"Kami yakin jika ekosistem karbon biru Indonesia ditata dan dikelola dengan baik secara strategis untuk adaptasi dan mitigasi menuju ketahanan iklim, kita pasti bisa berkontribusi lebih banyak dalam penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% secara nasional, dan 41% secara global hingga tahun 2030. Nah, kita harus berpacu juga untuk menjaga dan merehabilitasi ekosistem karbon biru kita yang semakin terdegradasi," jelas J. Rizal Primana, Deputi Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Hal itu dikemukakan ketika menjadi pembicara kunci bersama Jiro Tominaga, Country Director Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia, dalam Seminar, Blue Carbon: Enabling Conservation and Financial Capital di Nusa Dua Convention Centre, Bali, (8/8/2022).

Sebagai catatan, luas padang lamun di Indonesia termasuk terluas di dunia hingga 293.465-875.957 Ha, dan mampu menyerap karbon hingga 119,5 ton karbon per hektare. Begitu pun dengan mangrove Indonesia yang seluas 3,3 juta Ha adalah terbesar di dunia, dan mampu menyimpan karbon sebanyak 950 ton karbon per hektarnya. Namun luas padang lamun di Indonesia, menurut hasil kajian Pusat Riset Oseanografi Indonesia dalam Buku Status Ekosistem Lamun di Indonesia tahun 2021 disebutkan ekosistem ini mengalami penurunan sebesar 2,8% per tahun atau sekitar 0,4 ha per tahun pada periode 2015-2021.

Sementara mangrove Indonesia, dalam data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2020) menyebutkan kurang lebih seluas 637.824,31 Ha (19,28%) berada pada kondisi kritis. "Ke depan, kita ingin memastikan ekosistem Karbon Biru bisa masuk NDC (Nationally Determined Contribution). Tentu saja harus melalui perencanaan pembangunan Karbon Biru yang berkelanjutan, dan harus didukung komitmen semua pihak. Untuk mencapai ini diperlukan suatu kerangka kerja yang dapat mengakomodasi semua pihak," jelasnya.

Deputy Country Director Agence Francaise De Developpement (AFD) untuk Indonesia, Sophia Chappellet yang menjadi salah satu pembicara menyampaikan bahwa AFD mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam pengelolaan ekosistem karbon biru, salah satunya melalui kegiatan pengintegrasian ekosistem karbon biru ke dalam kebijakan keanekaragaman hayati dan iklim Indonesia.

Sementara Sri Yanti, Direktur Kelautan dan Perikanan, Kementerian Bappenas, menambahkan, pembangunan Karbon Biru Berkelanjutan harus mengedepankan upaya perlindungan dan kelestariannya dengan berbasis masyarakat. Guna mendukung upaya tersebut diperlukan mekanisme pembiayaan sehingga dapat berkontribusi terhadap pencapaian target NDC.

"Saat ini ada beberapa opsi pembiayaan untuk kegiatan yang berkaitan dengan karbon biru selain dari APBN. Itu bagus, karena mengandalkan APBN saja tidak akan cukup untuk mencapai target NDC ini. Ke depan kita ingin juga bisa diintegrasikan dengan framework yang akan disusun, dan memastikan pembiayaan untuk keberlanjutan pembangunan Karbon Biru ini. Apalagi kita
punya potensi karbon biru yang besar sebagai potensi sumber modal yang baik. Karena itu kita perlu juga mendengar pengalaman-pengalaman negara lain yang telah menjalankan dan sukses dalam pembangunan Karbon Biru
mereka,"  jelasnya. (H-1)

 

Baca Juga

ANTARA/Makna Zaezar

319 Ribu Formasi Tersedia untuk Seleksi ASN PPPK Guru di Oktober 2022

👤Faustinus Nua 🕔Jumat 30 September 2022, 07:20 WIB
Mekanisme seleksi kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2022, pemerintah akan menggunakan mekanisme tertutup dan...
ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

Pengawasan Semua Pihak Diperlukan untuk Pengolahan Tanggap Darurat Bencana

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 30 September 2022, 07:15 WIB
Perbaikan terus dilakukan mulai dari regulasi, kelembagaan, perencanaan pendanaan, peningkatan kapasitas, dan penyelenggaraan pengelolaan...
ANTARA/Fauzan

Menkes Sebut Stok Vaksin Covid-19 Masih Tersedia 5 Juta Dosis

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 September 2022, 23:45 WIB
Stok vaksin di daerah masih ada 2,5 jutaan, di pusat masih ada 2,5 jutaan dosis, kata...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya