Minggu 19 Juni 2022, 12:11 WIB

Persentase Perempuan di Legislatif belum Capai Critical Mass

Dinda Shabrina | Humaniora
Persentase Perempuan di Legislatif belum Capai Critical Mass

KemenPPPA
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga

 

MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan saat ini keterwakilan perempuan di legislatif baru mencapai angka 21%. Angka ini masih lebih kecil dibandingkan kuota keterwakilan 30% perempuan.

“Meski sudah menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, angka keterwakilan perempuan dalam politik masih belum mencapai critical mass atau jumlah minimal yang diperlukan untuk menciptakan perubahan, yaitu rata-rata kuota 30%,” ujar Menteri PPPA dalam Webinar "Revisiting Pahlawan Perempuan Aceh dalam Kepemimpinan Perempuan" secara virtual, Sabtu (18/6).

Padahal, menurut Menteri PPPA, 49,42% penduduk Indonesia adalah perempuan dan sekitar 54% merupakan usia produktif.

“Berdasarkan data tersebut, seharusnya perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan, sehingga perempuan harus terdidik, berdaya, dan setara kedudukannya agar dapat berkarya dalam berbagai bidang untuk memberikan banyak manfaat bagi pembangunan,” tutur Menteri PPPA.

Akan tetapi, data dan indeks menunjukkan masih terjadi ketimpangan akses, partisipasi, kontrol, serta manfaat hasil pembangunan antara perempuan dan laki-laki. Oleh karena itu, Menteri PPPA menilai perlu ditetapkannya prioritas dalam mengurai permasalahan perempuan dan anak.

“Tahun 2020-2024, Presiden Republik Indonesia telah mengamanatkan lima prioritas isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang saling terkait satu sama lain,” ucap Menteri PPPA.

Baca juga: Dinilai Berpihak kepada Perempuan, Emak-emak DIY Dukung Ganjar

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh Nora Idah Nita mengatakan saat ini terdapat satu Kabupaten di Aceh yang telah mencapai kuota keterwakilan perempuan di legislatif, yaitu Kabupaten Aceh Tamiang. 

“Sebelas dari 30 kursi di DPR Kabupaten Aceh Tamiang diduduki oleh perempuan. Hal ini patut diapresiasi dan dicontoh,” ujar Nora.

Pasalnya, kebijakan pembangunan membutuhkan peran strategis perempuan, sehingga perempuan harus dilibatkan secara aktif dalam perumusan kebijakan terkait berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat.

“Perempuan tidak hanya menjadi objek dari berbagai program pembangunan, tetapi justru menjadi subjek pembangunan. Perempuan tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, namun sebagai aktor utama dalam membangun negara dan bangsa,” pungkas Nora.(OL-5)

Baca Juga

ANTARA

5 Hal Tentang Gas Air Mata, Menurut Ahli

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 02 Oktober 2022, 14:12 WIB
gas air mata dapat saja dalam bentuk chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS),...
MI/ HO

MIPA UNJ Gelar Pelatihan Bagi Guru Kimia Jakarta Timur

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 02 Oktober 2022, 13:14 WIB
Melalui pelatihan ini, diharapkan peserta dapat menghasilkan proposal penelitian, melaksanakan hingga publikasi...
Dok MI

Komnas HAM Pantau Penanganan Tragedi Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Minggu 02 Oktober 2022, 12:48 WIB
Komnas HAM RI meminta pemerintah daerah beserta jajaran terkait melakukan penanganan kesehatan yang intensif serta layanan kemanusiaan bagi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya