Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBANGUN citra diri di media sosial, menurut pakar komunikasi, tidak melulu dilakukan oleh orang terkenal, tapi, juga oleh setiap pengguna media sosial.
"Sebagai individu, kita bisa membangun branding atau penokohan," kata Ketua Program Studi Komunikasi, Universitas Sahid, Hayu Lusianawati, dalam webinar Ngobrol Bareng Legislator - Jangan Asal Curhat di Media Sosial, Selasa (7/6).
Membangun citra diri bisa menggambarkan seperti apa seseorang ingin dikenal sebagai seorang pengguna media sosial dan konten apa yang akan dibagikan. Misalnya, jika suka memasak, bisa mengunggah konten yang berkaitan dengan menu masakan.
Baca juga: Twitter Kembali Terbukti Gunakan Data Pengguna secara Ilegal
Menurut Hayu, ada tujuh hal yang perlu diperhatikan ketika ingin membangun citra diri di media sosial. Hal yang paling awal bisa dilakukan, pertama dan kedua, dengan memperkenalkan diri dan mengunggah kegiatan sesuai dengan kesukaan.
Agar tidak monoton, buat variasi unggahan di media sosial. Misalnya jika suka memasak, setelah mengunggah konten tentang cara memasak, keesokan hari bisa mengunggah aktivitas yang sedang dilakukan.
Hayu mengingatkan konten yang diunggah semestinya adalah sesuatu yang nyata, yang memang dilakukan. Ini penting untuk membangun kredibilitas.
Ketiga, menurut Hayu, media sosial bisa digunakan untuk membangun jejaring.
"Saat ini zaman kolaborasi," kata Hayu.
Keempat, pengguna harus memahami popularitas dalam jaringan, misalnya hal apa yang sedang sering dibahas.
Dalam hal ini, pengguna harus berhati-hati supaya tidak terjebak aktivitas yang tidak perlu sampai mengeluarkan kata-kata yang negatif di media sosial.
Ketika menyikapi hal yang sedang viral, menurut Hayu, penting juga untuk mengedepankan empati. Contohnya, tidak menuduh berbohong pada unggahan yang memuat musibah.
Kelima, pengguna sebaiknya beradaptasi dengan interaksi di media sosial. Misalnya, balas komentar atau ucapkan terima kasih pada teman yang menyukai unggahan.
Keenam, media sosial sejatinya adalah ruang untuk berteman di dunia maya. Maka, upayakan memberikan dukungan dan ujaran yang positif kepada teman-teman di media sosial.
Terakhir, evaluasi terhadap unggahan di akun media sosial, termasuk juga membaca lagi apakah unggahan sudah sesuai dengan apa yang ingin disampaikan.
Dalam acara yang sama, penasihat Forum Akademisi Indonesia, Aat Surya Safaat menyatakana ada enam hal yang sebaiknya tidak dilakukan di media sosial.
Hal tersebut adalah tidak boleh menyudutkan orang lain, tidak boleh menyinggung perasaan orang lain, tidak boleh mengadu domba, tidak boleh memprovokasi, tidak boleh mengambinghitamkan orang lain, dan sebaiknya tidak membuat unggahan ketika sedang marah. (Ant/OL-1)
Tiga akun media sosial provokatif yang diduga mengeskalasi kerusuhan Agustus 2025. Akun Strongerboy, Adiastha8, dan Armyzoned ID dianggap kebal hukum dan belum diusut kepolisian.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
DI tengah upaya pemerintah memperketat pengawasan digital bagi anak-anak, suara dari akar rumput mengingatkan bahwa regulasi teknis saja tidak cukup.
BNPT mencatat 230 donatur aktif mendukung kelompok teroris dari 2023-2025, dengan pendanaan mencapai Rp5 miliar.
Puncak popularitas Lincoln’s Rock di Blue Mountains berujung penutupan. Ribuan turis menyerbu demi meniru foto Jennie Blackpink, memicu kekhawatiran keamanan dan lingkungan.
Media Talk 2026 sangat relevan dengan peran BSKDN sebagai lembaga think tank Kemendagri yang bertugas menyusun dan merumuskan rekomendasi strategi kebijakan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved