Senin 23 Mei 2022, 18:44 WIB

Ekonomi Berbasis Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Bisa Jadi Solusi

Mediaindonesia.com | Humaniora
Ekonomi Berbasis Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Bisa Jadi Solusi

DOK Y20
Sesi foto di sela-sela FORUM Pra-KTT Ketiga Y20 Indonesia, Minggu (22/5).

 

FORUM Pra-KTT Ketiga Y20 Indonesia mengenai isu planet berkelanjutan dan layak huni masih terus berlanjut pada Minggu (22/5) dengan diskusi mengenai ekonomi sirkular.

Dalam konsep ekonomi linier, kita mengambil sumber daya alam untuk memproduksi barang yang pada akhirnya akan dibuang. Pola buat-gunakan-buang ini hanya memicu konsumsi berlebih dan produksi limbah yang berlebihan. Sudah waktunya kita mengubah pola ini dengan menerapkan ekonomi sirkular berbasis produksi dan konsumsi berkelanjutan.

Pra-KTT Ketiga Y20 Indonesia kali ini menghadirkan talk show ekonomi sirkular. Harapannya, wawasan yang diberikan dapat membantu para delegasi muda dalam menyusun rekomendasi kebijakan khususnya yang berkaitan dengan lingkungan kepada pemimpin G20.

Talkshow menghadirkan Alesya Krit (Center of Competence for Climate Change, Environment and Noise Protection di Aviation Hessen), Joi Danielson (Partner di Systemiq), Ke Wang (Program Lead di Platform for Accelerating Circular Economy), serta Mohammad Bijaksana Junerosano (CEO dan Founder Waste4Change), dengan ekonom lingkungan Andhyta F. Utami sebagai moderator.

Alesya menyarankan pentingnya berpikir secara lokal dalam upaya mendorong konsumsi berkelanjutan.

“Kita harus berpikir lokal dan menyesuaikan (solusi tersebut) dengan wilayah tujuan, serta cocok dengan dimensi sosial dan budaya setempat. Kemudian, bentuklah perspektif normatif dan ajaklah pekerja, teman, warga untuk mengenal mindset baru. Misalnya, lewat TikTok challenge,” ungkap Alesya pada talk show Pra-KTT Ketiga Y20 Indonesia.

Baca juga: Bertemu Menlu Serbia, Jokowi Bahas Peningkatan Kerja Sama Ekonomi

Joi Danielson mengatakan, sebelum masuk ke pembahasan ekonomi sirkular, kita perlu memerhatikan pola konsumsi. Menurutnya, manusia cenderung takut akan kelangkaan, sehingga kita cenderung mengonsumsi lebih dari apa yang dibutuhkan. Di sebuah ekonomi yang berbasis konsumsi, lanjutnya, semakin banyak yang dikonsumsi, semakin tinggi produk domestik bruto (PDB).

“Jadi sistem kita mengandalkan konsumsi berlebihan. Jika kita bisa membantu orang merasa bahwa apa yang mereka miliki sudah cukup, kita bisa meyakinkan mereka untuk hanya mengonsumsi yang dibutuhkan. Dengan ini, kita bisa mulai memutus siklus konsumsi tersebut," jelas Joi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ke Wang. Menurutnya, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular tidak hanya bisa mengakibatkan perubahan kebiasaan, tetapi juga perubahan kebijakan.

“Karena para politisi mendengarkan aspirasi masyarakat. Namun, kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular masih sangat rendah. Di sinilah, anak muda memainkan perannya. Generasi muda telah menunjukkan bahwa mereka memegang peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim,” jelas Ke Wang.

Junerosano menjelaskan, populasi dunia saat ini telah mencapai 7,9 miliar jiwa. Jika kita ingin adanya perubahan tanpa adanya peperangan, kita harus meyakinkan 4% dari sebuah populasi. Berarti di Indonesia, ada 10 juta orang yang harus diyakinkan tentang ekonomi sirkular.

“Memang terkadang terasa sulit. Solusi datang lebih lambat daripada terjadinya kerusakan lingkungan. Kita harus memikirkan bagaimana kita bisa mempercepat solusi tersebut. Tapi yang terpenting, kita harus optimistis bahwa kita bisa melakukan perubahan dengan berkolaborasi,” jelas Junerosano. (R-3)

Baca Juga

DOK Sahabat Ganjar

ITS Surabaya Juara Hackaton 2022 Jawa Timur

👤Widhoroso 🕔Minggu 26 Juni 2022, 22:14 WIB
TIM Victorits dari Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, meraih juara ajang Hackathon 2022 Jawa Timur yang berakhir Minggu...
ANTARA/Ampelsa

Peringatan HANI 2022, Kualitas SDM untuk Bangun Karakter Remaja Jadi Tantangan

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 26 Juni 2022, 22:10 WIB
Sekarang ini mental emotional disorder atau gangguan mental emosional pada anak remaja dalam keluarga meningkat pesat pada 2018 jika...
Dok. Kemenparekraf

Sandiaga Tekankan Pentingnya Keterlibatan Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata 

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 26 Juni 2022, 22:07 WIB
Selain memahami akan potensi yang ada, masyarakat juga harus paham nilai-nilai penting yang terkandung dalam Sapta...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya