Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGINGAT banyak masyarakat yang mengunjungi tempat wisata di masa libur Lebaran, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pengelola kawasan wisata memperhatikan potensi bencana.
"Lebih utama lagi, pengelola kawasan wisata harus benar-benar paham kondisi aspek kebencanaan di lokasi wisata yang dikelola," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari saat dihubungi, Jumat (6/5).
"Sehingga, jalur evakuasi, sarana peringatan dini dan sirene evakuasi, tersedia di lokasi wisata," imbuhnya.
Baca juga: BMKG Identifikasi Peningkatan Curah Hujan Saat Arus Mudik
Pemerintah daerah juga perlu mengawasi dan mempersiapkan upaya mitigasi. Mulai dari struktur, hingga fisik keras, seperti penguat tebing. Berikut, vegetasi seperti vetiver untuk tempat wisata yang berada di area risiko longsor atau banjir.
"Sebelum izin dikeluarkan, audit tata ruang perlu dilakukan. Sehingga, peruntukan lahan sesuai dengan daya dukung lingkungan," pungkas Abdul.
Masyarakat pun harus melihat peta jalur mudik aman bencana. Sebenarnya, tidak hanya berguna saat mudik, namun juga saat warga menghabiskan waktu libur panjang.
Baca juga: KAI: 6-7 Mei Jadi Puncak Arus Balik dengan Kereta Api
"InaRisk personal ini meski sudah disosialisasikan sejak 2017, tetapi memang kesadaran kita untuk mengecek situasi risiko bencana ketika sedang di luar rumah, masih perlu ditingkatkan," tuturnya.
Sebelumnya, BMKG menyatakan bahwa meski berada pada musim pancaroba (Maret-Mei), namun potensi hujan intensitas tinggi masih berpeluang terjadi di selatan Jawa. Kemudian, Sumatra bagian selatan, berikut sebagian Kalimantan dan Sulawesi.(OL-11)
Meskipun modifikasi cuaca merupakan ikhtiar mitigasi yang penting, teknik ini bukanlah solusi permanen.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih akan berlangsung hingga akhir April atau awal Mei 2026.
KELURAHAN Cisarua di Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Data BMKG selama 16 tahun terakhir (2010–2025) juga memperlihatkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang sejalan dengan kenaikan suhu dan perubahan iklim.
Survei pascabencana yang dilakukan Pusat Koordinasi Nasional Mapala se-Indonesia bersama pegiat lingkungan menemukan ratusan titik longsor di kawasan hulu sungai Tapanuli Selatan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut, tanah longsor tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Cuaca buruk berupa hujan dengan intensitas tinggi dan angin kencang kembali melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan dalam beberapa hari terakhir.
Pola hujan pada awal tahun 2026 di Pulau Jawa menunjukkan karakter yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Harga ikan di Pasar Tradisional Naikoten 1 dan Pasar Ikan Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur mengalami kenaikan signifikan akibat cuaca buruk.
CUACA buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi mulai melanda perairan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kondisi ini berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran.
BMKG juga menyampaikan peringatan dini gelombang sedang hingga tinggi di sejumlah perairan, termasuk Perairan Kuala Pembuang, Teluk Sampit, dan Kuala Kapuas.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenot'ek, mengatakan, saat ini Bibit Siklon Tropis 97S yang berada di wilayah utara Benua Australia
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved