Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDUR yang cukup terbukti secara ilmiah dapat mendatangkan efek langsung yang baik bagi tubuh.
Dikutip dari siaran pers Zepp Health, Selasa (3/5), tidur yang cukup selain bisa memberikan dampak langsung seperti bangun tidur lebih berenergi, menjaga kondisi suasana hati (mood), menjaga berat badan, menjaga kadar gula darah, serta menjaga daya tahan kekebalan tubuh dan fungsi otak.
Hal itu tentunya akan membantu manusia menjadi lebih produktif, meningkatkan daya ingatan, lebih fokus dan lebih konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.
Baca juga: Atasi Stres dengan Meningkatkan Kualitas Tidur
Baru-baru ini, Zepp Health mengeluarkan hasil riset dan studi terkait jumlah rata-rata tidur harian di beberapa negara dan kaitannya dengan kesehatan.
Dalam hasil risetnya, ditemukan bahwa durasi waktu tidur per hari seseorang sangat menentukan dan berkaitan erat dengan indeks kesehatan seperti BMI, tensi jantung, hingga rata-rata tingkat stres seseorang.
Selain itu, terdapat hubungan yang erat antara jumlah langkah kaki harian seseorang dengan kualitas dan jumlah tidur seseorang serta kaitannya terhadap kesehatan jantung.
Penelitian terkait kualitas tidur yang dilakukan Zepp Health secara global menemukan, pada 2021, rata-rata durasi tidur seseorang adalah 7 jam 9 menit. Terdapat penurunan sebanyak 2 menit jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Data itu diambil dari total sampel penduduk di dunia. Indonesia berada di posisi terendah dibandingkan beberapa negara di dunia terkait dengan rata-rata durasi tidur harian penduduknya.
Rata-rata orang di Indonesia hanya tidur sebanyak 6 jam 36 menit setiap harinya dan masih berada di bawah Jepang dengan durasi tidur rata-rata penduduknya sebanyak 6 jam 44 menit, dan Malaysia dengan durasi rata-rata tidur penduduknya sebanyak 6 jam 46 menit.
Sedangkan Belgia, Republik Irlandia, dan Belanda adalah 3 negara teratas dengan jumlah durasi rata-rata tidur penduduknya, yaitu 7 Jam 30 menit.
Secara global, penduduk di dunia pun dinyatakan kurang tidur atau tidur di bawah 7 jam sehari selama 59 hari dalam setahun. Hal ini meningkat sebanyak 7 hari jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Lantas apa kaitannya kurang tidur dan dampak langsungnya terhadap kesehatan?
Menurut hasil riset Zepp Health, setelah 7-8 jam beristirahat, tingkat BMI, detak jantung, dan skor tidur seseorang menunjukkan hasil yang positif dan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan mereka yang tidur di bawah 7 jam.
Selain itu, masing-masing individual yang tidur 7-8 jam setiap harinya menunjukkan tingkat stres mereka berada di level rileks. Detak jantung mereka pun berada pada titik paling optimum ketika tidur di antara 7 jam sehari.
Zepp Health juga memiliki temuan akan korelasi antara jumlah langkah kaki saat berjalan kaki setiap harinya mampu meningkatkan kualitas tidur seseorang.
Setidaknya mereka yang setiap harinya secara konsisten berjalan kaki sebanyak 8.000 hingga 16.000 langkah, memiliki tingkat kualitas tidur yang tertinggi. (Ant/OL-1)
Kepemilikan ponsel pintar pada remaja awal dikaitkan dengan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Waktu tidur yang cukup membantu menyiapkan tubuh anak di tengah cuaca yang tidak menentu.
Penderita sakit pinggang direkomendasikan tidurnya dengan posisi telentang kasurnya jenis medium sampai medium firm, jangan terlalu keras.
Tidur bukan hanya istirahat. Studi baru ungkap peran hormon pertumbuhan yang bangun otot, tulang, metabolisme, hingga kejernihan otak esok hari.
Tidur bukan sekadar istirahat, melainkan proses biologis penting yang dikendalikan oleh otak dan hormon, seperti melatonin.
Riset terbaru University of Michigan menemukan neuron di hipotalamus berperan menjaga kadar gula darah, terutama pada empat jam pertama tidur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved