Kamis 17 Maret 2022, 18:44 WIB

RI Mampu Turunkan 2,27% Prevalensi Stunting dalam Tiga Tahun

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
RI Mampu Turunkan 2,27% Prevalensi Stunting dalam Tiga Tahun

Antara
Petugas mendata balita untuk mendapatkan makanan tambahan dan vitamin di Palu, Sulawesi Tengah.

 

BERDASARKAN hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 sampai tingkat kabupaten/kota, Indonesia mampu menurunkan 2,27% prevalensi stunting dalam tiga tahun terakhir.

"Kita patut bersyukur bahwa di tengah pandemi covid-19, kita masih dapat menurunkan angka stunting. Namun, tentu angka penurunan ini belum cukup," ujar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam pemaparan virtual, Kamis (17/3). 

"Kita perlu mengencangkan dan memperluas jangkauan program dan kegiatan strategis. Untuk mempercepat penurunan stunting hingga 3,4% per tahun menuju 14% di 2024," imbuhnya.

Baca juga: Stunting Ancam Bonus Demografi 2045

Perbandingan hasil SSGBI 2019 dan SSGI 2021 juga menggambarkan keberhasilan luar biasa dari beberapa kabupaten/kota. Dalam hal ini, untuk menekan angka stunting selama 3 tahun terakhir. Misalnya, Kabupaten Probolinggo mampu menurunkan angka stunting sebesar 31,5%.

Lalu, Kabupaten Nias sebesar 24,1% dan Kota Pagar Alam sebesar 23,7%. Namun sebaliknya, terdapat beberapa kabupaten/kota yang justru mengalami tren peningkatan stunting. Seperti, Bolaang Mongondow Selatan pada angka 24,2% dan Kabupaten Toli- Toli sebesar 16,2%.

Baca juga: Menteri PPPA : Perkawinan Anak Ancam Masa Depan Anak

"Untuk itu, kita perlu merekam praktik baik yang telah dilakukan oleh kabupaten/kota dengan kisah suksesnya. Untuk dapat kiranya direplikasi di daerah lain," jelas Hasto.

Pihaknya menyadari nuansa kebingungan di daerah menyikapi prevalensi stunting hasil SSGI 2021 dan elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-PPGBM). Namun, kedua angka tersebut dihasilkan dari perhitungan dengan tujuan yang berbeda.

Prevalensi stunting yang dikeluarkan dari SSGI merupakan data makro, yang diperoleh berdasarkan survei berbasis blok sensus sebagai ukuran yang disandingkan dengan negara lain. Sedangkan, E-PPGBM berdasarkan surveilans rutin yang dilakukan kader dan tenaga kesehatan puskesmas untuk intervensi layanan.(OL-11)


Baca Juga

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Indonesia Rencana Teliti Tanaman Ganja untuk Obat Diabetes

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 01 Juli 2022, 14:40 WIB
Inang menyebut, pihaknya akan meneliti zat yang terkandung dalam akar, batang, daun, dan bunga dari tanaman ganja untuk pengobatan...
Antara/Raisan Al Farisi.

Kemenag Jelaskan Perbedaan Waktu Idul Adha 1443 H di Indonesia dan Arab Saudi

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Jumat 01 Juli 2022, 14:26 WIB
Ketetapan ini berbeda dengan Arab Saudi yang menetapkan 10 Zulhijah 1443 H jatuh pada Sabtu, 9 Juli...
ANTARA/Hafidz Mubarak.

NasDem Sambut Baik RUU KIA, Ingatkan Soal Kelompok Rentan

👤Putra Ananda 🕔Jumat 01 Juli 2022, 14:06 WIB
Keberadaan RUU tersebut harus didukung untuk memastikan perlindungan dan penguatan kepada ibu dan anak di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya