Senin 14 Februari 2022, 18:30 WIB

Penyebab Bencana Cuaca Buruk bukan hanya Perubahan Iklim

Mediaindonesia.com | Humaniora
Penyebab Bencana Cuaca Buruk bukan hanya Perubahan Iklim

Antara/Umarul Faruq.
Warga mendorong sepeda motornya di Jalan Raya Gempol yang terendam banjir di Pasuruan, Jawa Timur, Senin (14/2/2022).

 

SEBAGAI pelopor dalam bidang yang disebut ilmu atribusi atau membangun hubungan antara cuaca ekstrem dan perubahan iklim, Friederike Otto bersikukuh bahwa meningkatnya jumlah gelombang panas dan angin topan tidak dapat dijelaskan hanya dengan pemanasan global.

AFP berbicara kepada Otto, seorang fisikawan di Grantham Institute for Climate Change di Imperial College London, menjelang rilis laporan iklim utama PBB tentang dampak perubahan iklim dan cara umat manusia dapat beradaptasi dengannya.

Apakah istilah 'bencana alam' itu kontradiksi?

Membicarakan bencana alam seperti yang biasa kita lakukan tidak terlalu membantu karena mengalihkan perhatian dari kewenangan yang kita miliki sebagai manusia. Anda harus mencari sangat keras untuk menemukan bencana iklim yang murni alami. 

Bahkan tanpa perubahan iklim, jika manusia terlibat, bencana seperti itu sebagian besar terjadi ketika kerentanan dan keterpaparan bertemu dengan peristiwa cuaca ekstrem. Pemanasan global hanya memperburuk keadaan.

Bisakah Anda memberikan contoh?

Tahun lalu terjadi banjir besar di Jerman barat yang menyebabkan banyak korban jiwa dan harta benda yang rusak. Ya, perubahan iklim membuat curah hujan semakin deras. 

Namun tanpa pemanasan global akan ada peristiwa hujan lebat yang sangat besar. Itu akan terjadi pada geografi padat penduduk tempat sungai sangat mudah banjir dan airnya tidak bisa kemana-mana.

Apakah ilmu atribusi mengarah pada menyalahkan bencana hanya pada perubahan iklim?

Ketika kami mulai melakukan atribusi, semua oran-- kami, media--sangat senang akhirnya memiliki jawaban atas pertanyaan, apa peran perubahan iklim dalam bencana ini? Merupakan terobosan untuk dapat mengatakan bahwa peristiwa yang dibuat individu, katakanlah, 10 kali lebih mungkin.

Namun jika mengabaikan kerentanan, kita juga mengabaikan sebagian besar yang sebenarnya dapat dilakukan untuk mengatasi dan melindungi diri sendiri dari perubahan iklim.

Bagaimana kita menilai tanggung jawab atas bencana alam?

Tujuannya bukan menunjukkan kesalahan atau menyalahkan, tetapi untuk memahami penyebabnya. Langkah selanjutnya bertanya, apa yang perlu kita ubah? Siapa yang memiliki kewenangan untuk melakukan itu? Kemudian Anda bisa bertanya tentang tanggung jawab.

Kita tahu sekarang bahwa membangun rumah mewah di pantai atau tebing Malibu mungkin ide yang bodoh. Ini dengan sengaja mengekspose diri pada risiko.

Satu kota berusia 1.000 tahun yang dibangun di atas daerah yang sekarang menjadi dataran banjir berbeda. Tapi kita masih harus beradaptasi yakni mendidik masyarakat untuk tidak lagi membangun di sana, membangun dengan cara di atas panggung, misalnya, yang tahan banjir. Kami juga membutuhkan prakiraan banjir yang lebih baik.

Apakah ini juga masalah kesetaraan?

Yang paling rentan dalam masyarakatlah yang menderita kerugian dan kerusakan. Mereka tinggal di rumah yang tidak tahan terhadap bahaya alam, mereka tinggal di dataran banjir, dan mereka tidak mampu membayar asuransi. Siapa yang masih menderita hari ini dari akibat Badai Katrina, yang menghancurkan New Orleans pada 2005? Bukan orang kaya dan kulit putih. Ini orang miskin dan orang kulit berwarna.

Apa itu malaadaptasi dan di mana itu cocok?

Menyalahkan iklim saja sebagai penyebab bencana dapat menyebabkan malaadaptasi. Jika Anda menganggap bencana iklim murni sebagai masalah fisik, Anda cenderung menyukai solusi teknis, seperti membangun bendungan. Hal itu dapat mengakibatkan lebih sedikit banjir di sebagian kecil kota tetapi memiliki konsekuensi buruk di sepanjang bagian sungai lain.

Jika tindakan yang Anda lakukan untuk beradaptasi memperburuk keadaan dalam jangka panjang atau bagi sebagian besar orang, itu malaadaptasi. Adaptasi juga berarti pendidikan, pemerintahan, dan sebagainya. Namun berinvestasi dalam hal-hal itu lebih sulit dan perlu waktu puluhan tahun untuk melihat hasilnya.

Apakah bencana telah salah dipersalahkan pada perubahan iklim?

Kekeringan dan kelaparan di Madagaskar. Perubahan iklim benar-benar tidak berperan di sana. Penduduk sangat bergantung pada pertanian tadah hujan, tetapi hujan secara alami tidak terlalu dapat diandalkan.

Ada tingkat kemiskinan yang sangat tinggi. Bantuan bencana dari luar bersifat jangka pendek. Banyak hal yang benar-benar salah di sisi kerentanan. Namun perubahan iklim bukanlah benar-benar pendorong.

Baca juga: Pakai Masker di Kelas Merusak Perkembangan Anak?

PBB mengidentifikasi Madagaskar sebagai bencana kelaparan pertama di dunia yang dipicu oleh iklim?

Bahkan tanpa melakukan studi atribusi, hanya dari semua yang kita ketahui sebelumnya dari laporan IPCC, seharusnya sudah jelas bahwa perubahan iklim bukan satu-satunya dan bahkan bukan penyebab utama kekeringan di Madagaskar selatan. Saya dapat melihat alasan mereka melakukan itu untuk mengumpulkan dana dan sebagainya. 

Namun tidak ada gunanya mengatakan, "Semua kacau balau dan kemudian monster perubahan iklim yang besar dan buruk datang dan memakan kita semua." Bukan begitu cara kerjanya. (AFP/OL-14)

Baca Juga

Ist

Keterbukaan dan Sikap Kritis Kunci Pulih dari Intoleransi

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 23:40 WIB
Proses radikalisasi seringkali masuk akibat keterbukaan yang tidak diiringi sikap kritis. Hal ini mengingat strategi infiltrasi kelompok...
Antara

Cegah Kasus PMK Meluas, Pemerintah Impor 14 Juta Dosis Vaksin

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 23:37 WIB
Pemerintah juga melakukan percepatan vaksinasi pada hewan ternak sehat, namun berada di wilayah yang berstatus wabah...
Medcom.id/Ahmad Garuda

Mau Buat SIM C, Ini Syarat dan Biayanya

👤Mesakh Ananta Dachi 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 22:54 WIB
Apabila anda ingin segera mengendarai kendaraan, terutama sepeda motor, ketahui apa saja syarat dan berapa biaya pembuatan SIM...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya