Rabu 09 Februari 2022, 16:25 WIB

Plasma Konvalesen hingga Ivermectin Terbukti tak Bermanfaat untuk Pemulihan Covid-19

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Plasma Konvalesen hingga Ivermectin Terbukti tak Bermanfaat untuk Pemulihan Covid-19

AFP/ Luis Robayo
Ivermectin

 

KETUA Kelompok Kerja (Pokja) Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlina Burhan menyampaikan pihaknya telah mencabut lima obat-obatan dan terapi covid-19 yang sempat dipakai namun terbukti tak bermanfaat bagi pemulihan pasien covid-19 dari buku pedoman tata laksana edisi terbaru, mulai dari plasma konvalesen hingga Ivermectin.

"Kami dari organisasi profesi medis mencabut sejumlah opsi obat-obatan antivirus dan terapi yang selama ini digunakan. WHO sudah umumkan beberapa obat yang tidak bermanfaat dan kami mengadopsi itu," kata Erlina dalam konferensi pers Peluncuran Buku Pedoman Tata Laksana Covid-19 Edisi 4 secara virtual, Rabu (8/2)

Menurutnya, plasma konvalesen dan Ivermectin sebelumnya masuk dalam buku pedoman tata laksana covid-19 edisi 3. Namun dalam panduannya, obat-obatan itu tidak pernah masuk sebagai opsi standar perawatan pasien covid-19.

"Obat-obatan itu opsi tambahan berdasarkan rekomendasi medis pada narasi buku edisi 3, Ivermectin masih dalam proses uji klinis, bukan dipakai untuk pelayanan biasa pada pasien," ucapnya.

Penggunaan opsi obat-obatan dan terapi antivirus yang dihilangkan dari buku pedoman meliputi plasma konvalesen, Ivermectin, Hidroksiklorokun, Azitromisin dan Oseltamivir. Tiga obat-obatan yang disebut terakhir bahkan telah dicabut dari buku pedoman sejak edisi 3 yang berlaku setahun sebelumnya.

"Dengan dikeluarkannya obat-obatan dan terapi dari buku pedoman. Tentunya seluruh tenaga medis dilarang menggunakan terapi maupun obat-obatan antivirus tersebut saat merawat pasien covid-19," tegasnya.

Diketahui Buku Pedoman Tata Laksana Covid-19 Edisi 4 disusun oleh 5 organisasi profesi medis yakni Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Indonesia Intensif Indonesia (PERDATIN), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular (PERKI), serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Selain memuat pembaruan seputar penggunaan obat-obatan pasien covid-19, buku pedoman ini juga memaparkan pembaruan terkait panduan lainnya, yakni definisi kasus probable varian omicron berdasarkan PCR dengan S-Gene Target Failure (SGTF) dan terkonfirmasi varian omicron berdasarkan Whole Genome Sequencing (WGS).

Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengatakan senada, penggunaan kelima obat-obatan dan terapi bagi pasien covid-19 memiliki efek samping serius.

"Obat-obat yang dulu dipakai untuk Covid-19 dan kini terbukti tidak bermanfaat, bahkan menyebabkan efek samping serius pada beberapa kasus: Ivermectin, Klorokuin, Oseltamivir, Plasma Konvalesen, Azithromycin," kata Prof Zubairi dalam cuitannya di akun twitter pribadi miliknya beberapa waktu lalu.

Baca juga: PMI Pastikan Stok Darah dan Plasma Konvalesen Cukup

Menurutnya, Ivermectin tidak disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan regulator obat Uni Eropa. Bahkan dari sejumlah laporan ditemukan penanganan serius bagi pasien setelah diberikan obat-obatan tersebut.

"Pasien banyak yang memerlukan perhatian medis, termasuk rawat inap, setelah konsumsi Ivermectin. Klorokuin yang sudah dipakai oleh ratusan ribu orang di dunia malah berbahaya untuk jantung. Manfaat antivirusnya justru enggak ada. Jadi, klorokuin tidak boleh dipakai lagi," ujarnya.

Dia menambahkan penggunaan Oseltamivir untuk Influenza dan justru tidak ada bukti ilmiah untuk mengobati covid-19. Dari WHO juga sudah menyatakan obat ini tidak berguna untuk covid-19.

"Kecuali saat Anda dites terbukti positif Influenza, yang amat jarang ditemukan di Indonesia," lanjutnya.

Saat ini, obat-obatan tersebut juga tidak tertera dalam daftar obat-obatan covid-19 layanan telemedicine Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bagi pasien isoman.(OL-5)

Baca Juga

MI/Sumaryanto

Perlu Penelitian Mendalam Apakah Ganja Bisa Mengobati Penyakit

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 01 Juli 2022, 15:55 WIB
"Untuk di Indonesia tentu harus dikaji lebih dalam apakah ada manfaatnya untuk kejang, apakah ada manfaatnya untuk cerebral palsy atau...
Antara/Syifa Yulinnas

Guru Besar UGM: Ganja Bisa Jadi Alternatif Obat, Tapi Bukan yang Utama

👤Mediaindonesia 🕔Jumat 01 Juli 2022, 15:40 WIB
Zullies menegaskan, posisi ganja medis ini sebenarnya justru merupakan alternatif dari obat-obat lain, jika memang tidak memberikan respon...
MI/Moh Irfan

KSP Selesaikan Sengketa Lahan Perluasan RS dr. M. Djamil di Padang

👤Indriyani Astuti 🕔Jumat 01 Juli 2022, 15:33 WIB
Abetenego mengungkapkan persoalan pengadaan tanah untuk perluasan RSUP dr. M. Djamil sudah berlangsung cukup...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya