Kamis 27 Januari 2022, 07:05 WIB

Mustapa dan Usaha Produk Olahan Kelapa

Fathurozak | Humaniora
Mustapa dan Usaha Produk Olahan Kelapa

Dok. Pribadi
Mustapa Patapa.

 

PADA pertengahan 2019, Mustapa Patapa bekerja di bidang pasar komoditas di Jakarta. Di samping itu, ia mulai mengembangkan bisnis produk olahan kelapa yang dirintisnya di Palembang, Sumatra Selatan. Barulah pada awal 2020, saat ia keluar dari perusahaannya dan pulang ke kampung halamannya di Palembang, ia mulai menyeriusi bisnis barunya itu bersama salah satu rekannya.

Saat itu, Mustapa dan satu kawannya masih berfokus pada produk mentah seperti kopra ataupun arang batok kelapa. Ketika itu, model bisnisnya juga masih dijalankan dengan metode konvensional yang sasaran kliennya ialah perusahaan-perusahaan (B2B/business to business). Mereka mengirim produk mentah kelapa dengan sejumlah truk ke beberapa daerah di Pulau Jawa. Namun, kala itu, pandemi covid-19 pun menjadi badai tantangan usaha barunya.

Setelah sempat terhenti, ia bertemu dengan beberapa teman lainnya. Pada pertengahan 2020, Mustapa bersama kelima temannya pun mulai membangun kembali bisnis kelapanya. Kali ini, itu diiringi beberapa perubahan fokus. Mereka mulai mengeksplorasi produk turunan yang diproduksi hingga cara jualannya. Tidak lagi sekadar B2B, Mustapa dan kawan-kawannya mulai membangun kehadiran produk mereka secara digital. Salah satunya, tentu, disebabkan pandemi. Ia melihat hal itu berimpak pada peta pasar yang muncul ceruk baru.

“Ada beberapa hal yang memantik kami memasarkannya secara digital. Terutama adalah karena tren. Pengguna internet di Indonesia semakin lama semakin meningkat. Sejak pandemi, kebiasaan orang yang di rumah saja dan di depan layar gawai membuat adanya pasar baru yang diakibatkan pandemi itu sendiri. Karena beralih ke digital, kami pun mulai main ke produk ritel yang penjualannya dalam bentuk per item secara skala kecil. Tidak dalam jumlah besar seperti di B2B,” kata Mustopa, pendiri sekaligus CEO Kulaku, produk turunan kelapa yang berdomisili di Palembang, saat berbincang dengan Media Indonesia melalui konferensi video, Jumat (21/1).

Kulaku ialah nama merek dagang produk olahan kelapa yang dibentuk Mustopa. Beberapa produk yang ditawarkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) itu ialah minyak kelapa virgin (virgin coconut oil), minyak kelapa, nata de coco, asap cair, santan, arang, dan kopra.

“Kalau menjual produk turunan kelapa dalam bentuk ritel (per buah), itu lebih menjanjikan. Peningkatan keuntungannya bisa mencapai 20%-30% dari, misalnya, ketika menjual produk kelapa dalam skala B2B yang secara margin sangat sedikit, yakni 5%,” ujar pria kelahiran 10 Oktpober 1990 ini.

 

 

Kampanye digital 

Sebagai pelaku baru dalam bisnis produk turunan kelapa serta belum lama menjajaki dunia pemasaran digital, Kulaku sadar bagaimana produk dan bisnis mereka diperlakukan. Mustopa mengatakan, ketika awal merambah pemasaran digital, hal yang pertama dilakukan ialah membangun kesadaran publik tentang produk Kulaku. Ia dan timnya pun merancang berbagai kampanye digital yang tujuannya membangun persona produk mereka, dari bikin situs resmi Kulaku hingga kampanye iklan digital.

Untuk melakukan itu, setidaknya modal yang dikeluarkan Kulaku pada tahap awal berkisar Rp5 juta. Modal itu digelontorkan tidak untuk langsung jualan, tapi lebih kepada ‘woro-woro’ mengenai produk mereka sehingga publik setidaknya juga pernah mendengar nama Kulaku.

“Dari bikin website sampai bikin iklan digital itu, ya, bujetnya enggak sampai puluhan juta. Rp5 juta itu sudah tinggi bagi kami, tapi kami mengandalkan bantuan dari lingkungan pertemanan yang turut membantu kami dalam membangun instrumen digital kami. Impaknya jadi banyak yang tanya tentang produk kami. Bertanya soal harga, bisa dibeli di mana. Lebih ke menciptakan calon pembeli,” terang sarjana matematika Universitas Sriwijaya, Palembang, itu.

Seusai menciptakan persona di dunia digital, langkah yang dibereskan selanjutnya ialah mengurus legalitas produk. Mulai paten merek hingga cap halal. Untuk urusan itu, Kulaku memanfaatkan kanal-kanal fasilitasi yang disediakan kementerian atau dinas terkait setempat. Misalnya, untuk mengurus paten merek, ketika itu Kulaku mendapat fasilitasi dari Kementerian Perindustrian sehingga secara bujet juga bisa jadi lebih miring, cuma Rp500 ribu.

“Kalau normalnya, lumayan mahal. Jadi, sebenarnya ada program-program pembiayaan seperti hak kekayaan intelektual (HKI) untuk UMKM dengan syarat-syarat tertentu. Ini bisa diakses seluruh UMKM. Kalau mau coba, bisa dengan pendekatan ini. Begitu juga dengan urusan kehalalan produk. Kalau berbayar, itu maksimal di angka Rp2 juta-Rp3 juta per produk. Terkadang teman UMKM itu kesulitannya bukan bagaimana cara mengurusnya, melainkan lebih pada tidak tahu harus ke mana.”

Sejak memulai perjalanan pemasaran digital mereka dari pertengahan 2020, selain memiliki akun media sosial seperti Instagram yang diikuti sekitar 814 pengikut, Kulaku memasarkan produk mereka di beberapa platform lokapasar digital (e-commerce). Saat menengok ke laman Tokopedia milik Kulaku (Kulaku Indonesia Official), ada tujuh produk yang dipajang. Produk yang paling laku ialah Baco VCO ukuran 250 mililiter (ml) yang terjual sebanyak 81 item. Sementara itu, keenam produk lainnya tidak mencapai setengah dari jumlah penjualan Baco VCO 250 ml.

Saat laman Shopee mereka ditengok, ada delapan produk yang dipajang. Hasilnya Baco VCO ukuran 250 ml menjadi yang paling laris dengan total 60 item terjual. Sisa produk lain tidak mencapai setengahnya. Cuma minyak kelapa goreng ukuran 1 liter yang mencapai penjualan hingga 37 item.

Dari kedua platform tersebut, toko Kulaku sama-sama mendapat rating bintang lima. Di Tokopedia, ada 20 ulasan, dengan satu ulasan yang mengatakan kemasannya belum terlalu profesional. Di Shopee, yang mayoritas memberikan bintang lima (52 dari total 53 pemberi ulasan), ada satu pemberi bintang empat.

Angka-angka yang tecermin pada laman lokapasar digital itu memang terlihat kecil. Mustopa mengaku saat ini memang proporsinya masih difokuskan pada sisi B2B, dengan proporsi 75%, sedangkan 25% untuk ritel. Perincian serapan pembeli dari lokapasar digital berkisar di persentase 5%.

Marketplace sebenarnya membantu kami untuk mencari pembeli dari segmen lain. Fokusnya masih B2B karena pasarnya yang gede memang masih di sana. Bahkan ada beberapa produk yang kami belum bisa penuhi kebutuhannya, seperti permintaan arang yang tiap bulannya mencapai ratusan ton. Dari sisi ritel, kami juga mengandalkan reseller di Palembang dan Sumsel,” kata Mustopa.

Di sisi lain, pemasaran dan persona digital yang diciptakan Kulaku sebenarnya diakui Mustopa bertujuan menciptakan pasar B2B yang lebih besar lagi. Sebelumnya saat bisnis dijalankan secara konvensional, persona merek tidak begitu diperhatikan. Itu berbeda dengan ketika kini Kulaku memutuskan untuk masuk ke pemasaran digital. Banyak kemudian klien-klien baru yang bisa dijangkau.

“Walau, misalnya, marketplace itu bukan main source pendapatan kami, itu juga menjadi kunci bagi kami untuk mendapatkan pembeli yang lebih besar.”

Pada 2019-2020, Kulaku baru punya dua klien di sektor B2B, tapi kini jumlahnya naik menjadi tujuh klien dengan mayoritas pemintaan pada produk arang, yakni sekitar 15 ton per bulannya untuk tiap pelanggan/kien. Di luar lokapasar digital, Kulaku punya delapan distributor dan reseller yang berpusat di Sumatra Selatan dan Pulau Jawa. Permintaan terbanyak sama seperti dengan produk yang paling laku di lokapasar digital, yaitu Baco VCO ukuran 250 ml.

Pada 2021, omzet Kulaku mencapai Rp1,5 miliar-Rp2 miliar. Itu meningkat 1,5 kali lipat dari 2020. Kebanyakan klien B2B Kulaku berada di Pulau Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jabodetabek. Untuk saat ini, mereka belum bisa masuk ke pasar di luar Jawa seperti Kalimantan atau Sulawesi. Itu terkait dengan akses logistik, juga pasar yang belum tercipta. Namun, tahun ini mereka menargetkan omzet naik tiga kali lipat serta menyasar pasar ekspor, terutama Malaysia, yang siap menjadi tujuan dengan produk minyak kelapa virgin mereka.

 

 

Investasi sumber daya

Demi memuluskan kesadaran publik dan menjaga nama merek mereka di ranah digital, Kulaku juga merekrut beberapa pekerja untuk memproduksi aset kampanye kreatif mereka. Mulai foto produk, artikel, hingga desain. Saat ini, Mustopa mengatakan bujet yang diposkan untuk kebutuhan promosi ialah 5%-10% dari keuntungan mereka.

“Ya, memang secara bujet itu juga jadi meningkat, tapi karena kami sudah masuk digital, artinya juga tidak memperlakukannya sekadar jualan pasar. Misal cuma bicara untung ruginya, tapi juga ada investasi untuk SDM, brand, nama, dan sebagainya. Walau secara neraca keuangan tidak baik, misalnya, secara valuasi perusahaan meningkat.”

Saat ini, semua konten promosi dan desain kreatif sebagai bagian dari kampanye digital Kulaku dikerjakan tim internal. Selain Mustopa yang bertindak sebagai CEO, ada Aqilah Zainab yang menjabat direktur keuangan (chief financial officer/CFO), Ridho Hanafi sebagai direktur operasional (chief operating officer/COO), Rezaldy Bastharian sebagai direktur IT (chief technology officer/CTO), Ridho Pahlevi sebagai direktur produk (chief product officer/CPO), dan Alfius Dakhi bagian operasional. Mereka saat ini juga baru saja membuka rekrutmen untuk mendukung divisi konten kreatif dan pemasaran mereka.

Meski mengakui dunia digital turut mengakselerasi bisnis produk turunan kelapanya, menurut Mustopa, masih ada beberapa instrumen yang harus dibenahi. Apalagi, kata dia, saat ini pemerintah Indonesia menargetkan pada 2030 setidaknya ada 30 juta UMKM yang go digital. Beberapa hal yang menjadi tantangan ialah soal persaingan yang kian ketat, bahkan saling banting harga. Selain itu, menurut Mustopa, pemerintah perlu menyusun instrumen kebijakan yang turut melindungi produk dalam negeri. Ia mencontohkan masih banyak produk ‘printilan’ dari luar negeri yang dijual di lapak daring di Indonesia dengan harga yang lebih miring.

“Itu harus ada regulasi dari pemerintah, dengan membatasi. Bukan menghentikan, ya. Agar itu juga bisa menjadi ruang bertumbuh kembang UMKM lokal.”

Selain itu, kata dia, masih adanya gap antarklaster UMKM. Mustopa berpandangan perlu ada transformasi yang jelas di antara kementerian dan dinas terkait. Ia melihat saat ini program yang dirancang pemerintah masih tumpang-tindih.

“UMKM, kan, memang sedang disorot banget. Tiba-tiba kementerian apa bahas UMKM. Apakah ini sekadarnya atau, ya, memang begitu? Harusnya juga ada klaster yang jelas antar-UMKM karena satu klaster dengan yang lain permasalahannya berbeda. Di mikro ada masalah sendiri, di skala kecil ada masalah sendiri, dan di skala menengah juga punya masalah sendiri. Harusnya (pemerintah) tidak hanya urus yang sudah cukup baik, tapi yang dari bawah ini, di akar rumput, kalau mau ngomongin go digital.” (M-4)

Baca Juga

Dok MI

Satgas Sebut Tidak Terjadi Lonjakan Kasus Usai Libur Lebaran

👤Kautsar Widya Prabowo 🕔Rabu 18 Mei 2022, 23:44 WIB
Wiku menyebut kondisi tersebut menujukkan kasus covid-19 dapat terkendali di tengah...
Dok. handout Youtube Satgas Covid-19

Indonesia Siap Gelar Pertemuan Internasional Penanggulangan Risiko Bencana

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 18 Mei 2022, 23:26 WIB
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, GPDRR merupakan pertemuan internasional terkait...
Dok. Kemenkominfo

Siapkan SDM Digital Unggul Berdaya Saing, Kemenkominfo Sediakan Pelatihan dan Beasiswa

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 18 Mei 2022, 23:21 WIB
“Melalui pendidikan non-formal, berupa pelatihan pada tiga level keterampilan digital yakni Basic Digital Skill, Intermediate...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya