Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
DERMATITIS atopik atau yang sering disebut sebagai eksim atopik adalah penyakit kulit dengan spektrum luas yang dapat mengenai semua usia mulai dari bayi sampai kaum lanjut usia (lansia).
Pasien dermatitis atopik dapat mengalami kekambuhan yang ditandai dengan timbulnya kembali bercak kulit kemerahan yang terkadang membasah. Pada saat kambuh, penyakit ini dapat mengganggu karena rasa gatal.
Selama ini, obat minum untuk dermatitis atopik yang parah umumnya bersifat menekan sistem kekebalan tubuh dan memiliki berbagai efek samping. Penggunaan obat standar, misalnya obat oles, yaitu pelembap dan kortikosteroid topikal, serta obat minum antihistamin H1 (AH1) belum sepenuhnya mengurangi keparahan dan mencegah kekambuhan dermatitis atopik.
Oleh karena itu, diperlukan obat yang efektif dan aman bagi pasien yang dapat meminimalisir efek samping terhadap pasien.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Endi Novianto, SpKK(K) dalam disertasinya yang berjudul 'Efektivitas Penambahan Simetidin pada Pengobatan Dermatitis Atopik Ekstrinsik-Akut: Kajian terhadap Kadar Serum Imunoglobulin E, Interferon-y, Interleukin-12, dan Interleukin-4' mengajukan obat simetidin sebagai alternatif penyembuhan dermatitis atopik ekstrinsik-akut.
Menurutnya, Simetidin sebagai antihistamin H2 (AH2) berpotensi untuk mengobati dermatitis atopik ekstrinsik bagi pasien yang mengalami kekambuhan. Pada dosis 25–40 mg/kg berat badan per hari diperkirakan simetidin dapat meningkatkan pembentukan zat tertentu yang dihasilkan oleh sel penyaji antigen. Zat tersebut akan mengembalikan respons sistem kekebalan tubuh yang diperantarai sel dan mengurangi respons alergi.
"Proses inilah yang diharapkan menurunkan pembentukan imunoglobulin E (IgE) dan kemudian mengurangi keparahan dermatitis atopik. Tidak ada bukti sebelumnya bahwa simetidin dapat mengobati dermatitis atopik ekstrinsik yang mengalami kekambuhan, yang diukur secara objektif, klinis, dan laboratoris,” ujar Endi pada sidang promosi doktor beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pemilihan obat simetidin merupakan pilihan yang sangat tepat. Selain murah, simetidin juga dapat mengurangi keparahan penyakit secara klinis dan mengurangi rasa gatal yang dapat dilihat efeknya pada minggu ke-2 mesti baru terlihat bermakna pada minggu ke-6. Hal ini tentu akan sangat membantu pasien dan keluarga, baik dari segi subjektif maupun objektif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan simetidin, selain terapi standar, lebih baik dalam menurunkan keparahan klinis pasien dermatitis atopik ekstrinsik.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, ia menyarankan penambahan simetidin dengan dosis 25–40 mg/kgBB/hari atau maksimal 1.200 mg/hari selain terapi standar seperti obat minum AH1, obat oles kortikosteroid, dan pelembap, untuk mengurangi keparahan klinis, mengurangi rasa gatal, dan menurunkan kadar serum IgE pasien dermatitis atopik ekstrinsik yang mengalami kekambuhan.
Sementara itu Ketua Sidang yang juga merupakan Dekan FKUI Prof Ari Fahrial Syam menilai hasil penelitian itu sangat menarik untuk terus dikembangkan. Sebab, umumnya pasien-pasien dengan atopik itu stres juga dan cemas karena bolak-balik gatal dan meningkatkan asam lambungnya.
"Jadi pas juga ini kalau kita obati dengan antagonis H2 reseptor, asam lambungnya bisa ditekan dan gatalnya dikurangi. Jadi, riset S3 ini membuktikan hal tersebut, walaupun disebutkan tadi bahwa pada riset ini masih perlu dibuktikan lagi secara imunologinya, tetapi secara klinis ini suatu double-blind control trial, jadi cukup signifikan," kata Prof Ari.
Dalam profilnya, Endi Novianto tercatat sebagai staf pengajar Dermatologi dan Venereologi FKUI. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Divisi Dermato Alergi Imunologi di Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM. Promotor pada sidang promosinya adalah Guru Besar Dermatologi dan Venereologi FKUI Prof Dr dr Rustarti Retno W Soebaryo, SpKK(K) dengan ko-promotor Dr dr Tjut Nurul Alam Jacoeb, SpKK(K), dan Dr dr Wresti Indriatmi, SpKK(K), MEpid.(H-2)
Satu dari tiga pasien mampu mencapai penurunan berat badan lebih dari 20%, sebuah angka yang selama ini identik dengan hasil terapi suntikan mingguan.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial dinilai terancam setelah perubahan regulasi paten terbaru.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Obat dapat berasal dari bahan kimia, tumbuhan, maupun hewan, dan biasanya digunakan dengan dosis tertentu agar aman dan efektif.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) mengadakan seminar “Peran Strategis GPFI dalam Menegaskan Prinsip 4K untuk Menunjang Kesehatan Nasional”
Para siswa juga diperkenalkan profil kampus USK, FMIPA, dan Departemen Farmasi sebagai upaya menumbuhkan minat generasi muda terhadap farmasi dan profesi apoteker.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) mengadakan seminar “Peran Strategis GPFI dalam Menegaskan Prinsip 4K untuk Menunjang Kesehatan Nasional”
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Taruna Ikrar menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kemandirian farmasi nasional melalui pengembangan obat bahan alam.
Probiotec, merampungkan konsolidasi empat pabrik menjadi satu fasilitas berskala besar di Kemps Creek, New South Wales.
PT Holi Pharma kembali menunjukkan komitmen dalam mendukung dunia pendidikan dengan membuka akses mahasiswa untuk mengenal lebih dekat industri farmasi Indonesia.
TENAGA apoteker yang kompeten dan tersebar merata di Indonesia masih menjadi kebutuhan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved