Selasa 11 Januari 2022, 10:29 WIB

BMKG: Anomali Iklim ENSO Masih di Fase La Nina pada Semester Pertama

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
BMKG: Anomali Iklim ENSO Masih di Fase La Nina pada Semester Pertama

ANTARA/Oky Lukmansyah
Warga memperhatikan truk yang hanyut diterjang banjir Sungai Kaligung, Desa Danawarih, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (11/1/2021)

 

PLT. Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan semester I tahun 2022, anomali iklim ENSO di Samudera Pasifik diprediksikan akan masih berada pada fase La Nina dengan intensitas moderate, dan akan kembali Netral pada Semester II.

"Sementara itu anomali iklim IOD di Samudera Hindia diprediksikan akan berada pada kondisi Netral pada periode tersebut. Di wilayah Indonesia, suhu muka laut di bagian timur diprediksikan hangat," kata Urip dalam keterangannya Selasa (11/1).

Menurutnya, Informasi BMKG dalam Climate Outlook, Prediksi Musim dan iklim bulanan dapat digunakan sebagai acuan dalam antisipasi dampak keadaan iklim 2022 terhadap kegiatan sektoral yang penting, di antaranya sektor pertanian, sektor kehutanan, sektor pekerjaan umum, sektor pariwisata, sektor kesehatan, dan sektor kebencanaan.

Baca juga: BMKG: Curah Hujan Tahunan 2022 Lebih Sedikit dari Normal

Di antaranya, lanjut Urip di sektor pertanian dimana pemerintah daerah dan masyarakat dapat mengatur pola tanam sesuai dengan ketersediaan air; memilih komoditas dan varietas sesuai dengan prediksi iklim, upaya adaptasi lebih fokus dan tepat lokasi, seperti untuk wilayah yang diprediksi kering dapat menyediakan air melalui sumur pompa, dam parit, embung, longstorage.

"Sedangkan untuk yang diprediksi lebih basah dapat menyiapkan sistem drainase yang baik, dan menekan kehilangan hasil pertanian akibat kekeringan atau serangan organisme pengganggu tanaman (OPT)," jelasnya.

Sektor lainnya, tambah Urip, seperti di sektor kehutanan di mana potensi kelimpahan air hujan dapat dimanfaatkan untuk mendukung untuk aktivitas penanaman pohon dan reboisasi, demikian pula untuk kebencanaan hidrometeorologi kekeringan dengan tetap menjaga kesiagaan, potensi karhutla pun tidak terlalu tinggi.

Sementara di sektor kebencanaan, tingginya curah hujan berpeluang menimbulkan bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatra bagian tengah, Kalimantan bagian utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Bencana di sektor kesehatan juga perlu diperhatikan. Meningkatnya curah hujan juga turut meningkatkan populasi nyamuk sehingga dapat menyebabkan peningkatan penularan penyakit Demam Berdarah Dengue.

"Karenanya, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) menjadi hal yang wajib dilakukan selama musim penghujan agar tidak menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah," pungkas Urip. (H-3)

Baca Juga

Antara

BRIN Jajaki Peluang Kerja Sama di Bidang Nuklir dengan Prancis

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 03 Juli 2022, 14:23 WIB
Prancis merupakan salah satu negara Eropa yang sangat maju di bidang teknologi nuklir. Indonesia pun berharap dapat menjalin kerja sama...
MI/Susanto

Naib Amirul Hajj Minta Pemberangkatan Haji Tahun Depan Lebih Selektif

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 03 Juli 2022, 14:00 WIB
"Saya kira ini jadi perhatian kami ke depan agar lebih selektif untuk berangkat jamaah haji Indonesia, dipastikan yang berangkat...
ANTARA/Idhad Zakaria

Dokter Ingatkan Agar Segera Sikat Gigi Setelah Makan

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 03 Juli 2022, 13:30 WIB
Plak gigi terbentuk dari sisa makanan yang menempel pada gigi. Sisa makanan yang tidak dibersihkan akan berubah menjadi lapisan lengket...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya