Jumat 03 Desember 2021, 13:47 WIB

PBI-UHAMKA Galang Kampanyekan Pengobatan Islam

mediaindonesia.com | Humaniora
PBI-UHAMKA Galang Kampanyekan Pengobatan Islam

dok.tangakapn layar
Webinar seminar kesehatan Islam yang dihelat Universitas Buya Hamka, Kamis (2/12)

 

PENGOBATAN thibbunabawi tumbuh seiring dengan kesadaran umat Islam akan pentingnya kesehatan. Sebab, selain diakui mahalnya pengobatan kimia di samping efeknya bagi tubuh yang kurang baik, umat Islam kini mulai mengkonsumsi pengobatan thibbunabawi baik untuk pencegahan maupun solusi penyakit.  

Untuk terus mendorong kesadaran umat untuk mengikuti pola hidup sehat ala Rasulullah, Persatuan Bekam Indonesia (PBI) dan Kampus UHAMKA menggelar Seminar Kesehatan Nasional, kemarin. Seminar yang digelar secara webinar dipandu Aris Aminullah ini menghadirkan narasumber Ketua Asosiasi PBI, dr. Zaidul Akbar dan Pakar Hadist Uhamka, Ustadz Muhib Rosyidi ini diikuti 1.000 peserta.

Menurut Zaidul Akbar, ajaran Islam sangat memberi perhatian pada pentingnya muslim yang sehat dan kuat. Karena itu, hanya dengan kembali kepada protokol kesehatan yang ada di Al Quran dan Sunnah, maka kita akan tumbuh menjadi manusia yang sehat.

Dokter asal Jambi ini menyatakan sakit adalah ujian dan nikmat dari Allah SWT. Ujian ini perlu agar mereka bisa  naik kelas. Sehingga dari situ mereka akan meningkatkan lagi iman mereka dan akan memperbaiki diri mereka.  

“Jadi, penyakit tidak hanya dilihat secara fisik tapi penyakit juga merupakan cara Allah SWT untuk membuat orang yang sakit lebih dekat kepadaNya,” imbuh dokter 3 anak ini.

Ziadul menegaskan, pola makan adalah sumber dari segala penyakit. Artinya, jika seseorang terkena penyakit pasti ada sesuatu yang salah dengan apa yang dimakannya setiap hari. “Jadi, kita menyarankan kepada mereka untuk memperbaiki pola makan”, lanjutnya.

Menjawab pertanyaan peserta, dr Zaidul mengatakan, meski Al Quran dan Sunah Nabi sudah banyak menjelaskan soal pentingnya menjaga kesehatan tetapi mayoritas umat masih bermasalah dengan kesehatannya. Hal itu terjadi karena  melanggar apa yang Allah telah umumkan dalam Al Quran.

“Kita sakit karena tidak mengikuti petunjuk yang ada di Al Quran dan apa yang dijalankan oleh Nabi sebagai panduan kita. 50 % penyakit ini Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan,” paparnya.

Mengutup Surat  A'raf ayat 31 disitu tertulis “Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan,” paparnya.  

“Solusinya, ya ikuti anjuran Al Quran dan praktek sehat hidup ala Nabi,” tegasnya.

Caranya, lanjut Zaidul, yaitu dengan mencontoh pola makan dan gaya hidup sang teladan, Rasulullah SAW. Rasul selalu memakan buah sebelum makan makanan besar. Rasul juga tidak pernah makan hingga kenyang. Dalam pola makannya, Rasul selalu membagi porsi lambungnya untuk makanan padat, cairan, dan gas, sehingga makanan yang ia makan hanya 1/3 dari kemampuan maksimal lambungnya.

Ketika sakit, pasien pun tidak diberi obat kimia. Zaidul lebih menganjurkan untuk berbekam yang memang rutin dijalankan oleh Rasul. Setelah itu, kalau dimungkinkan, diberi juga herbal.

“Prinsipnya adalah bagaimana selain kita menyentuh aspek kejiwaan dan aspek ruhiyah dari pasien tadi, kita juga memberikan herbal juga terapi yang cocok sesuai dengan apa yang mereka keluhkan,” kata Zaindul yang rajin mempromosikan pengobatan herbal di channel youtubenya.

Selain berbekam, lanjutnya, kita pun harus mulai mendisiplinkan diri untuk memanfaatkan puasa sunah, tahajud, bahkan sedekah.

Rektor UHAMKA Prof. Dr. H. Gunawan Suryoputro, M.Hum menegaskan, kesehatan dalam perspektif Islam memiliki dimensi profetisa yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Ketua panitia kegiatan seminar Yulia Asih menyampaikan seminar ini upaya utuk mencari titik integrasi antara ilmu kesehatan modern dengan warisan luhur ilmu kesehatan Islam yang populer dengan sebutan Thibbun Nabawi.

Sebab secara teoritis, jelas dia, dan praktek ternyata banyak sekali kecocokan dan bahkan bersifat komplementer, saling melengkapi satu sama lain. Sehingga pandangan-pandangan dikotomis yang merenggangkan jarak keduanya akan semakin menyempit. Diharapkan dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat secara umum.

“Perkumpulan Bekam Indonesia dan UHAMKA memiliki semangat yang sama untuk mengusung tema ini agar semakin luas diterima masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Presiden Soroti Rendahnya Vaksinasi di 15 Provinsi, Masih di Bawah 60%

Baca Juga

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

RUU TPKS akan Disahkan Sebagai RUU Inisiatif DPR

👤 Mohamad Farhan Zhuhri 🕔Selasa 18 Januari 2022, 11:20 WIB
Sejak tahun 2016, Kemen PPPA telah terlibat dalam diskusi gagasan awal RUU TPKS atau yang sebelumnya dikenal sebagai RUU Penghapusan...
Medcom

Ini Cara Cek Tiket Vaksin Covid-19 Dosis Booster di PeduliLindungi

👤Basuki Eka Purnama 🕔Selasa 18 Januari 2022, 11:15 WIB
Vaksin booster diberikan dengan jarak enam bulan setelah vaksin dosis...
Antara

Solusi Nyata Jokowi Tingkatkan SDM Hadapi Persaingan Global

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 18 Januari 2022, 11:01 WIB
SDM tersebut disiapkan agar mampu bersaing dengan negara luar terutama dalam menghadapi transformasi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya