Senin 15 November 2021, 06:45 WIB

Yuk Ketahui Beda Stres dan Kecemasan

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Yuk Ketahui Beda Stres dan Kecemasan

pexels.com
Ilustrasi

 

STRES dan kecemasan (anxiety) sering dianggap sebagai hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan meski sama-sama berdampak pada fisik dan mental.

Para ahli mengatakan stres sebagian besar berasal dari faktor eksternal, sedangkan kecemasan lebih internal.

Psikolog klinis India dan pendiri Talk To Me Narendra Kinger mengatakan meskipun seseorang dapat memicu timbulnya stres dari dalam diri sendiri melalui self-talk negatif, sikap pesimis, atau kebutuhan untuk perfeksionisme, tetap lebih banyak berasal dari faktor eksternal.

Baca juga: Diabetasol Edukasi Cara Mudah Kontrol Gula Darah di Masa Pandemi

"Terlalu banyak tanggung jawab atau proyek kerja berisiko tinggi biasanya dapat memicu respons stres. Kecemasan, di sisi lain, sebagian besar bersifat internal dan tergantung pada bagaimana Anda bereaksi terhadap stres," ujar Kinger dilansir Indian Express, Minggu (14/11).

Pada banyak kasus, seseorang yang telah berhasil menghilangkan stres masih memungkinkan untuk merasa kewalahan atau tertekan. Perasaan inilah yang disebut sebagai kecemasan.

"Ini adalah reaksi atau respons yang berlebihan terhadap situasi tertentu. Jika kekhawatiran dan kesusahan yang Anda rasakan dalam situasi tertentu tidak biasa, berlebihan, atau berlangsung lebih lama daripada kebanyakan orang lain, itu mungkin kecemasan bukan stres," kata Kinger.

Kepala Kesehatan dan Kesejahteraan di Columbia Pacific Communities Karthiyayini Mahadevan menjelaskan, kecemasan merupakan reaksi psikologis terhadap setiap perubahan yang terjadi. 

Reaksi ini umumnya muncul dari rasa takut sebagai respons keadaan yang tidak terkondisi atau di luar ekspektasi.

"Reaksi luar biasa terhadap stres membawa kecemasan pada tingkat emosional. Stres sangat penting untuk menjaga percikan kehidupan sementara kecemasan menghabiskan hidup," kata Mahadevan.

Penyebab

Terkait stres, selalu ada faktor pemicu eksternal. Sedangkan kecemasan tidak perlu ada pemicu, ini akan muncul karena kekhawatiran tentang sesuatu yang dipikirkan terkait dengan yang akan terjadi di masa depan.

"Sangat sering, apa yang kita khawatirkan mungkin tidak terjadi, tetapi memikirkannya terjadi menyebabkan kita menjadi cemas dan panik, kata psikolog konseling, Mind Talk, Rumah Sakit Cadabams, Bengaluru Shireen Stephen 

Stephen kemudian memberikan contoh untuk membedakan antara stres dan kecemasan. Stres adalah tekanan yang mungkin dialami saat membuat presentasi di rapat tim atau untuk menyelesaikan proyek tepat waktu.

Kecemasan adalah kekhawatiran bahwa presentasi mungkin tidak berjalan dengan baik atau proyek tidak selesai tepat waktu.

Menurut Stephen, perbedaan lainnya adalah soal durasi. Stres berlangsung sampai kejadian tersebut teratasi tetapi kecemasan dapat berlangsung lama dan bertahan untuk waktu yang sangat lama.

Gejala

Gejala stres termasuk kemurungan, lekas marah atau marah, merasa kewalahan, pusing, kesepian, mual dan perasaan tidak bahagia secara umum. Sedangkan kecemasan termasuk perasaan gelisah, tegang, gugup dan perasaan takut secara umum.

"Baik stres maupun kecemasan memiliki gejala umum seperti peningkatan detak jantung, pernapasan lebih cepat, dan sakit perut atau sembelit, tetapi seperti yang Anda lihat, keduanya berbeda dalam semua aspek lainnya," jelas Stephen.

Bagaimana stres dan kecemasan bekerja?

Kecemasan atau kepanikan yang berlebihan melumpuhkan seseorang sehingga tidak dapat menjalankan aktivitas dengan baik. Sedangkan stres, meski sulit untuk dilalui namun akhirnya dapat dikelola.

Kecemasan skala ringan, mungkin tidak terlalu dapat dirasakan namun cukup meresahkan. Kecemasan parah dapat secara serius mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Serangan panik adalah karakteristik dari gangguan panik, sejenis gangguan kecemasan. Selain itu, tingkat stres dan kecemasan yang tinggi dalam situasi sosial dapat mengindikasikan gangguan kecemasan sosial.

Salah satu gangguan kecemasan yang paling banyak dialami adalah kecemasan umum.

Konsultan psikiater Yashoda Hospitals Hyderabad, J Mayurnath Reddy, mengatakan untuk mengidentifikasi apakah seseorang memiliki gangguan kecemasan umum adalah adanya gejala seperti kekhawatiran yang berlebihan dan sulit dikendalikan yang terjadi hampir setiap hari selama enam bulan.

"Kekhawatiran mungkin melompat dari satu topik ke topik lainnya," kata Reddy.

Menurut Reddy, jenis lain dari kecemasan adalah gangguan panik, yang ditandai dengan serangan kecemasan tiba-tiba yang dapat membuat seseorang berkeringat, pusing, dan terengah-engah.

Kecemasan juga dapat bermanifestasi dalam bentuk fobia spesifik (seperti takut terbang) atau sebagai kecemasan sosial, yang ditandai dengan ketakutan yang meluas terhadap situasi sosial.

Cara mengatasi

Aktivitas fisik, diet bergizi dan kebiasaan tidur yang baik adalah titik awal untuk mengendalikan gejala ini. Akan tetapi, jika hal tersebut tidak menunjukkan perubahan maka perlu mempertimbangkan untuk melakukan konsultasi pada ahli.

Selain itu, ada juga beberapa tindakan yang dapat membantu seseorang untuk mengatasi gangguan kecemasan yang lebih ringan, lebih fokus, atau jangka pendek, seperti manajemen stres atau mengelola stres.

Teknik relaksasi, meditasi, latihan pernapasan dalam, mandi panjang, istirahat dalam gelap, dan intervensi yoga untuk menggantikan pikiran negatif dengan pikiran positif.

Buatlah daftar pikiran negatif yang dapat menimbulkan kecemasan dan pada sisi lain, tulis juga hal-hal lain yang berisi hal-hal positif. 

Menciptakan gambaran mental tentang keberhasilan menghadapi dan menaklukkan ketakutan tertentu juga dapat memberikan manfaat jika gejala kecemasan berhubungan dengan penyebab tertentu, seperti pada fobia.

Dukungan orang terdekat juga mampu untuk mengatasi kecemasan. Layanan kelompok pendukung mungkin tersedia secara lokal dan online.

Jangan lupa untuk melakukan aktivitas fisik untuk melepazkan zat kimia di otak yang memicu perasaan positif. 

Terakhir, konseling adalah cara yang tepat untuk menangani kecemasan. Ini dapat berupa terapi perilaku kognitif (CBT), psikoterapi, atau kombinasi terapi.

Perawatan potensial lainnya adalah terapi paparan, yang melibatkan seseorang untuk menghadapi pemicu kecemasan dengan cara yang aman dan terkendali untuk memutus siklus ketakutan. (Ant/OL-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Nadiem: Jadikan Nilai Pancasila sebagai Petunjuk dan Tujuan Hidup

👤Faustinus Nua 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 17:46 WIB
Nadiem Anwar Makarim dalam pidatonya mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai petunjuk dan tujuan...
MI/Lina Herlina

JK Soroti Kemerosotan Intelektualitas Orang Minang

👤Mediaindonesia 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 16:32 WIB
Menurut dia, Bung Karno pernah berucap bepikirlah seperti orang Minang, berbicara seperti orang Batak dan bekerja seperti orang...
MI/ HO

WZWF 2022, Baznas: Regulasi yang Efektif Bisa Optimalkan Potensi Zakat

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 16:27 WIB
Konferensi Internasional WZWF 2022 merupakan ajang pertemuan para pegiat zakat dan wakaf...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya