Kamis 11 November 2021, 11:05 WIB

Tiga Peneliti Perempuan BRIN Raih Penghargaan L’OREAL-UNESCO FWIS 2021

Faustinus Nua | Humaniora
Tiga Peneliti Perempuan BRIN Raih Penghargaan L’OREAL-UNESCO FWIS 2021

DOK. BRIN
BRIN: Tiga peneliti BRIN meraih penghargaan L’OREAL-UNESCO FWIS 2021

 

TIGA peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) berhasil meraih Penghargaan L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS) 2021. Ketiganya adalah Peni Ahmadi selaku Peneliti Pusat Riset Bioteknologi untuk kategori Life Science, Fransiska Sri Herwahyu Krismatuti sebagai Peneliti Pusat Riset Kimia dan Febty Febriani dari Pusat Riset Fisika untuk kategori Non-Life Sciences.

Peni Ahmadi berhasil meraih penghargaan FWIS 2021 kategori Life Science setelah mengajukan proposal riset berjudul Potent Drug-lead from Indonesian Marine Invertebrates to Suppress Breast Cancer. Proposal tersebut mengangkat masalah kanker payudara yang terus mengancam kaum perempuan Indonesia dengan jumlah penyintas yang terus meningkat.

"Pada 2002 kanker payudara menduduki peringkat pertama pada penyakit kanker di Indonesia hingga mencapai hampir 25.000 kasus. Sedangkan pada  2012, jumlah penderita kanker payudara di Indonesia meningkat drastis sebanyak 2 kali lipat dibanding satu dekade sebelumnya, yakni 50.000 kasus. Dan di 2022 jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat hingga mendekati 100.000 kasus," ujar Peni dalam keteranganya, Kamis (11/11).

Dijelaskan bahwa untuk mengatasi masalah itu, Indonesia sebenarnya mempunyai potensi dari senyawa bahan alam laut. Sejauh ini senyawa yang sudah dilaporkan sebanyak 34.000 dan faktanya hanya sekitar 3% saja dari total sumber daya alam laut yang baru dimanfaatkan. Dengan demikian, sumber daya alam laut, terutama invertebrata laut sangat berpotensi sebagai sumber senyawa bahan alam yang memiliki aktifitas sebagai anti-infeksi dan antikanker.

"Potensi yang sangat besar ini dapat digunakan untuk perawatan kanker dengan targeted terapi tanpa efek samping yang berarti. Keuntungan dari targeted therapy adalah lebih selektif dan spesifik pada kanker yang dituju tanpa merusak sel sehat. Sehingga lebih efektif dan efisien, serta diharapkan dapat menurunkan off-targeted problem," terang Peni.

Kepala Pusat Riset Bioteknologi BRIN, Ratih Asmana Ningrum pun menyampaikan apresiasinya atas capaian Peni. Kegiatan yang diusulkan merupakan salah satu upaya pemanfaatan megabiodiversitas Indonesia dalam pencarian bahan baku obat.

"Penghargaan yang diperoleh tentu akan sangat membantu operasional kegiatan penelitian tersebut, sekaligus menjadi motivasi untuk mencapai hasil kegiatan sebaik-baiknya. Diharapkan pula akan menjadi titik awal bagi sivitas yang bersangkutan untuk berprestasi lebih tinggi di masa yang akan datang dan menjadi penyemangat bagi para perempuan peneliti lainnya di pusat riset bioteknologi," kata Ratih.

Peneliti berikutnya peraih FWIS 2021 dari bidang Non-Life Sciences adalah Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti. Fransiska mengajukan topic riset berjudul Zinc oxide Nanostructures from Galvanization Waste as Chronic Wound Prognostics.

"Di Indonesia ada 10,7 juta penderita diabetes yang menempatkan Indonesia pada peringkat tujuh di dunia. Apabila penderita diabetes yang mempunyai luka dan tidak mendapat perawatan yang tepat akan menyebabkan luka kronis yang tentu saja ini memberikan beban keuangan bagi pasien," ujarnya.

Menurut peneliti kimia ini, di sisi lain, ada potensi limbah galvanisasi yang belum termanfaatkan. Limbah itu mengandung zinc yang dapat diolah menjadi nano Zinc oxide (ZnO) yang mempunyai sifat antibakteri dan dapat dikompositkan dengan material lain, misalnya pewarna alami dari kubis ungu.

"Kubis ungu ini mempunyai sifat yang unik karena mempunyai sensitivitas terhadap perubahan pH, sehingga memiliki peluang untuk digunakan sebagai platform monitoring perubahan pH secara visual. pH merupakan salah satu penanda progres penyembuhan luka kronis," jelas Fransiska.

Fransiska menambahkan, bahwa pada penelitiannya itu akan dilakukan pembuatan nanokomposit ZnO dan pewarna alami dari kubis ungu untuk mencegah berkembangnya bakteri yang dapat menghambat proses penyembuhan luka dan juga monitoring pH pada luka yang dapat dilakukan oleh pasien diabetes itu sendiri. “Keuntungan dari penelitian ini antara lain; bahan baku yang melimpah dan murah karena ZnO disintesis dari hasil samping dari industri dan juga aman karena pewarna yang digunakan diekstrak dari bahan alami,” ucapnya.

Sementara peneliti BRIN yang juga meraih penghargaan adalah Febty Febriani dengan judul risetnya yaitu Assessment of Indonesian’s Crustal Heterogeneity Characteristic Based on Geomagnetic Data for Disaster Risk Reduction of Earthquake and Tsunami in Indonesia. Bagi Febry, risetnya penting untuk dikembangkan karena Indonesia dikelilingi oleh lempeng-lempeng aktif tektonik membuat kondisi kerak bumi Indonesia menjadi heterogen.

“Kondisi ini juga menyebabkan Indonesia menjadi negara dengan kondisi seismik dan vulkanik yang aktif. Hal ini ditandai dengan banyaknya gempa dan gunung api yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya,” jelasnya.

Dia menjalankan risetnya dengan berkalaborasi dengan berbagai pihak. “Untuk L’Oreal ini kami berkolaborasi dengan Pusat Unggulan IPTEK Geomagnetik Universitas Mataram, Lombok, dalam menganalisa data geomagnetik untuk dicek validitasnya sebagai prekursor gempa bumi. Data geomagnetik ini digunakan untuk juga untuk mengetahui karakteristik kerak bumi Indonesia sehingga kita bisa memetakan bahaya, risiko dan kerentanan suatu daerah karena gempa,” pungkasnya.

Adapun penghargaan tersebut diberikan oleh L’Oreal Foundation Indonesia bersama mitra UNESCO. Melalui slogan Dunia Membutuhkan Sains dan Sains Membutuhkan Perempuan, program For Women in Science (FWIS) tahun 2021 kembali diselenggarakan.

Program FWIS diluncurkan di seluruh dunia sebagai bentuk dukungan untuk kepada para ilmuwan perempuan yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan. Kategori bidang ilmu L’Oreal-UNESCO FWIS 2021 meliputi Life Sciences dan Non-Life Sciences (Ilmu Material, Ilmu Bumi, Teknik, Ilmu Komputer, Matematika, Kimia, Fisika).

Syarat penerima atau fellowship FWIS adalah perempuan, berusia maksimal 40 tahun per 30 November 2021, berpendidikan S3 atau sedang menjalani pendidikan S3. Proposal riset yang diajukan harus berdampak strategis bagi negara, berkelanjutan, dan menghasilkan kerja sama.(H-1)

 

Baca Juga

Antara/Mohamad Hamzah

Pengawasan Ketat Ternak Impor dan Karantina Hewan Cegah Meluasnya Penyakit Mulut dan Kuku

👤Fetry Wuryasti 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:44 WIB
“Titik-titik pemeriksaan, pengawasan dan karantina untuk sapi impor perlu menjadi fokus pemerintah supaya PMK tidak semakin...
DOK Kemenko PMK

Pemerintah Maksimalkan Perlindungan Bagi Anak dan Penyandang Disabilitas yang Terdampak Pandemi

👤Widhoroso 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:01 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan, masa depan anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang kehilangan orang tua pada masa Pandemi...
Antara

14,3 Juta Lansia Rampung Divaksinasi

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Kamis 26 Mei 2022, 21:38 WIB
Jumlah itu setara 66,44 persen dari target 21.553.118...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya