Jumat 05 November 2021, 13:35 WIB

Soal Vaksin Merah-Putih, Kepala BRIN: Jangan Buru-Buru

Faustinus Nua | Humaniora
Soal Vaksin Merah-Putih, Kepala BRIN: Jangan Buru-Buru

ANTARA /Dhemas Reviyanto
RISET VAKSIN MERAH PUTIH: Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat.

 

PEMERINTAH Indonesia masih terus mengembangkan vaksin Merah-Putih, meski pandemi covid-19 di Tanah Air mulai melandai. Enam institusi yang mendapat amanah tetap diberi target di tengah banjirnya kedatangan vaksin dari negara maju lainnya.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa para peneliti masih terus berkutat. Proses pengembangan yang memakan waktu lama memang tidak bisa dipaksakan secara ilmiah. "Masih terus berjalan, teman-teman (peneliti) masih berkutat. Jangan diburu-buru, kasihan perisetnya nih," ujarnya kepada Media Indonesia, Jumat (5/11).

Menurut Handoko, proses pengembangan vaksin merupakan hal yang nyata dan berjalan sesuai standar ilmiah. Tidak ada alasan untuk mempercepat atau melewati tahapan yang ditetapkan demi mendapatkan hasil yang instan.

Lantas, para peneliti perlud diberi waktu, diberi ruang. Apalagi pengembangan vaksin sendiri merupakan kegiatan riset yang baru dilakukan Indonesia. Artinya Indonesia belum punya pengalaman dan fasilitas yang memadai dalam mengembangkan vaksin. "Nanti saja kita umumkan (progresnya) kok. Kalau sedikit-sedikit diumumkan malah kasihan perisetnya," tutur Handoko mengingatkan bahwa para peneliti tidak boleh diberi tekanan untuk segera memberi hasil.

Lebih lanjut, Kepala BRIN menyampaikan bahwa sejauh ini progres pengembangan vaksin masih sama dengan sebelumnya. Beberapa institusi seperti Universitas Airlangga, Eijkman dinilai cukup maju. Pihaknya pun masih menargetkan vaksin Merah Putih bisa mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) pada pertengahan tahun 2022.

BRIN sendiri fokus mendukung dan memfasilitasi periset dan mitra industri untuk mencapai target. Dan hal itu harus terbukti secara ilmiah serta memenuhi standar regulasi dari otoritas, sehingga siap dihilirkan oleh industri terkait.

Oleh karena itu, pengembangan vaksin Merah Putih harus mampu memenuhi standar regulator dan mendapatkan izin edar darurat seperti vaksin lain. Dengan demikian, vaksin Merah Putih dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Untuk mendukung pengembangan vaksin Merah Putih, BRIN membangun fasilitas animal Biosafety Level 3 (BSL-3) untuk primata skala besar. Selain itu juga fasilitas good manufacturing practice (GMP) untuk produksi terbatas kandidat vaksin berbagai platform untuk kebutuhan uji praklinis dan uji klinis.

Fasilitas animal BSL-3 berfungsi sebagai sarana untuk pembuktian keamanan dan khasiat kandidat vaksin dan berbagai obat yang dikembangkan.

Sementara itu, peneliti Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman Amin Soebandrio menyampaikan kepada Media Indonesia bahwa sejauh ini belum banyak kemajuan. Terakhir, pihaknya melaporkan bahwa uji klinis fase 3 akan pada awal tahun 2022.

"Mudah-mudahan jika uji klinis fase 3 selesai, atau sebelum uji klinis fase 3 selesai tahun depan, kalau hasilnya sudah baik bisa mendapatkan EUA. Pada kuartal III 2022 ditargetkan sudah bisa mendapatkan EUA," kata dia.

Pihaknya sudah berhasil menyelesaikan fase research and development untuk vaksin Merah Putih. Dengan begitu, bibit vaksin Merah Putih pun sudah dibuat.

Saat ini, lanjut Amin, pihaknya tengah berproses untuk melakukan transisi bibit vaksin tersebut ke industri. Dalam hal ini, industri farmasi yang bekerja sama dengan Eijkman untuk pengembangan vaksin, yakni Bio Farma."Sekarang masih proses scalling up, optimasi dan upgrading gear," jelas Amin.

Adapun, proses selanjutnya ialah melakukan uji praklinik, yakni uji coba pada hewan. Proses tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun. Selanjutnya, uji klinik fase 1 sampai 3 diharapkan bisa dimulai pada awal 2022, dengan jangka waktu 8 hingga 9 bulan.

Dia juga memastikan vaksin Merah Putih mampu mencegah covid-19 dengan berbagai varian. "Sesuai dengan pedoman WHO, bahwa selama efikasi vaksin di atas 50%, masih dianggap efektif. Kita masih mengembangkan vaksin yang di awal sudah direncanakan. Berharap bisa meng-cover semua varian," pungkasnya.(H-1)

Baca Juga

Dok Dr’s Clinique

Perawatan Dengan Laser Efektif Atasi Berbagai Masalah Kulit

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 11:39 WIB
Perawatan kulit dengan laser saat ini banyak sekali dilakukan dalam penyembuhan berbagai masalah kulit seperti kerutan, keriput, dan...
Ist

Perubahan Iklim Turut Picu Munculnya Pandemi

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 10:59 WIB
 Inisiator Pandemic Talks Firdza Radiany menilai akar masalah munculnya Covid-19 atau  virus SARS-CoV-2 disebabkan oleh perubahan...
Ist

Menparekraf Sandiaga Dorong Sineas Partispasi dalam Festival Film Bulanan

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 10:52 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, kembali ingatkan para sineas yang ada di Pulau Jawa untuk berpartisipasi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya