Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSEUM Sumpah Pemuda, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menggelar Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-93, di Halaman Gedung Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, Kamis (28/10).
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid bertugas sebagai pembina upacara, sekaligus menyampaikan sambutannya pada Peringatan Sumpah Pemuda yang bertema Bersatu, Bangkit dan Tumbuh.
Tema itu diambil untuk menegaskan kembali komitmen para pemuda dalam Sumpah Pemuda 1928.
Baca juga: Cintai Bahasa yang Kita Miliki
"Tema ini sesungguhnya diperuntukkan untuk seluruh elemen bangsa, tetapi bagi pemuda menjadi penting. Karena di tangan pemuda, kita berharap Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi dan melangkah lebih maju untuk enggerakkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia," kata Hilmar.
Hilmar menegaskan pandemi covid-19 yang masih melanda bangsa di belahan dunia termasuk Indonesia, tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian, pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, pemuda sebagai agen perubahan (agent of change) ialah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dihindari.
Pemuda Indonesia telah berperan menjadi penentu momen penting perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari pendirian Budi Utomo 1908, Momentum Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945, hingga reformasi 1998 yang menjadi momentum bersejarah penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
"Semua momentum tersebut ialah hasil karya, komitmen dan dedikasi para pemuda Indonesia," kata Hilmar.
Upacara yang digelar di bagian trotoar Museum Sumpah Pemuda berlangsung khidmat sejak pukul 08.00 WIB.
Sebanyak 10 anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dari Kecamatan Matraman ditugaskan dalam Upacara Peringatan Sumpah Pemuda.
Warga sekitar pun diperbolehkan ambil bagian dalam upacara dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yakni memakai masker. (Ant/OL-1)
SETIAP 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berikrar untuk bersatu: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, Indonesia.
Dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan pena, kini perjuangan itu menuntut transformasi ekonomi, kemandirian finansial, dan keadilan sosial.
Menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang peduli dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kembali pentingnya pemulihan kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung yang menopang kehidupan di wilayah hilir.
Momentum ini menjadi titik temu antara penegakan hukum, pelestarian lingkungan, tanpa melupakan sisi anugerah alam yang bisa dijadikan sumber mata pencaharian masyarakat.
Dalam sejarah, Sumpah Pemuda 1928 dapat dibaca sebagai upaya membangun imajinasi kolektif di bawah kondisi keterpecahan dan penindasan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved